Connect with us

TV & Movies

Kumpulan Adegan Mencekam di Serial Horor Thriller “Teluh Darah”

Published

on

GwiGwi.com – “Teluh Darah” merupakan serial original terbaru yang tayang setiap hari Sabtu eksklusif di Disney+ Hotstar. Serial bergenre horor dan thriller ini mengikuti kisah Wulan dan Esa, dua orang modern dari keluarga berbeda yang hidupnya berubah setelah serangkaian teror ilmu hitam menyerang keluarga mereka. Disutradarai oleh Kimo Stamboel, “Teluh Darah” membawa kisah penuh misteri yang dipenuhi adegan-adegan mengerikan. Terinspirasi dari beberapa peristiwa nyata, simak kumpulan adegan teluh mencekam dalam “Teluh Darah” yang membuat serial ini jadi salah satu tontonan yang wajib Anda saksikan!

 

  1. Bangkai binatang di atap rumah

 Teror dimulai saat keluarga Wulan sedang sarapan bersama dan mencium bau busuk di area ruang makan mereka. Saat mencari asal dari bau tersebut, mereka menyadari bahwa ada hal aneh di langit-langit rumah mereka. Ketika dibongkar untuk mencari asal bau tersebut, Wulan dan keluarga dikejutkan dengan bangkai musang busuk yang secara misterius ada di atap rumah mereka.

2. Muncul belatung di makanan dan di tangan

 

Tidak hanya bangkai binatang misterius, rumah Wulan dan keluarga juga mulai dipenuhi dengan binatang-binatang yang dianggap menjijikan, salah satunya belatung. Dimulai dari makan malam keluarga yang harus gagal karena daging yang dipenuhi belatung secara misterius, hingga kemunculan belatung di tangan Pak Ahmad, teror yang dirasa Wulan dan keluarga terasa semakin nyata dan mencekam.

 

3. Gumpalan rambut dan paku misterius di wastafel

 

Setelah beberapa keanehan yang dianggap kebetulan, teror selanjutnya datang dengan kejutan yang lebih mengancam. Ketika Wulan sedang mencuci muka, tiba-tiba air di wastafel berubah menjadi berwarna hitam dan muncul gumpalan rambut dari lubang wastafel. Wulan yang penasaran pun menarik gumpalan rambut dan dikejutkan dengan paku-paku yang terikat di ujung rambut tersebut.

 

4. Muntah darah yang mencurigakan

 Tidak hanya temuan-temuan yang menyeramkan, teror di keluarga Wulan semakin menakutkan karena mulai mengancam keselamatan para penghuni rumah. Pak Ahmad, ayah dari Wulan menjadi salah satu orang pertama yang mengalami penyakit misterius akibat teror tersebut. Di tengah makan malam bersama keluarganya, pak Ahmad tiba-tiba merasa kesakitan dan memuntahkan isi perutnya. Yang mengerikan, bukan hanya darah yang keluar dari mulutnya, namun terdapat juga paku-paku yang sudah berkarat.

 

5. Potongan kain kafan yang tertanam di dalam rumah

 Setelah kematian ayahnya yang misterius, Esa mencoba mencari jawaban. Kecurigaannya terhadap kematian ayahnya yang tak biasa, diperkuat dengan temuan Esa di rumah mereka. Suatu malam, saat Esa berada di rumah, ia tiba-tiba mencium bau busuk yang berasal dari lantai rumahnya. Saat dibuka, Esa menemukan potongan kain kafan penuh belatung yang tertanam di bawah lantai rumahnya.

 

Tak hanya menyaksikan kisah penuh misteri yang mencekam, para penonton juga dapat ikut merasakan ketegangan teror “Teluh Darah” lewat sebuah wahana escape room bertajuk “Teluhsuri Dalangnya”, yang terinspirasi dari kisah dan karakter serial tersebut. Mulai 15-26 Maret 2023, para penonton ditantang memecahkan teka-teki untuk mengungkap misteri di balik deretan teror yang mengancam dalam wahana escape room yang berlokasi di area balkon lantai UG Central Park Mall, Jakarta. Wahana escape room ini dapat dinikmati oleh seluruh pengunjung tanpa biaya tambahan.

Saksikan “Teluh Darah” dan serial menarik lainnya hanya di Disney+ Hotstar. Dengan biaya Rp39.000/bulan atau Rp199.000/tahun, penonton dapat mulai berlangganan Disney+ Hotstar langsung dari situs web (www.DisneyPlusHotstar.id), atau aplikasi Disney+ Hotstar (Android dan iOS) untuk mengakses 500 film dan 7.000 episode film serial, termasuk Disney+ Originals dari Disney, Marvel, Star Wars, Pixar, National Geographic dan masih banyak lagi, serta koleksi konten berbahasa lokal yang terus bertambah dan paling dinantikan dari Indonesia, Korea Selatan dan Jepang. Pelanggan dapat memilih paket berlangganan khusus dengan harga menarik melalui Telkomsel.

Advertisement

TV & Movies

Review Film The Masters of The Universe, Not Enough Power

Published

on

By

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power

www.gwigwi.com – Franchise legenda lagi akan tayang setelah MORTAL KOMBAT 2 dan THE MANDALORIAN AND GROGU. HE-MAN! Laama sekali penantian setelah begitu banyak rumor dan segala macamnya, MASTERS OF THE UNIVERSE akhirnya jadi film juga. Nah, apakah akan hanya menyenangkan fans lama saja?

Adam (Nicholas Galitzine) rindu dengan kampung halamannya, Eternia sampai mengganggu pekerjaannya di kantor.

Naas, saat kerajaannya diserang dulu, dia terpaksa kabur ke bumi. Sampai akhirnya dia menemukan lagi pedang yang akan menuntunnya pulang, Sword of Power.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power

Namun, baru saja dia panggul pedang itu lagi, Adam diserang monster dan dilindungi teman lamanya, Theela (Camila Mendes) yang membawanya pulang.

Sang pangeran tak menyangka Eternia kini rusak akibat lalimnya sang musuh utama, Skeletor (Jared Leto). Menggunakan Sword of Power dan sekutunya seperti Man At-Arms (Idris Elba), maka Adam harus berjuang menyelamatkan dunianya.

Sebagai adaptasi mainan HE-MAN, tentu visual dan baku hantamnya lah salah satu pesona utama. Kostumnya untungnya tidak direalistiskan tapi total mencoba setia pada mainannya. Begitu pun aksinya menghentak bahkan sedari awal. Berkat koreografi energik dan sinematografi dinamis yang cakap.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power

Nicholas Galatzine seakan menchannel man child ala Star Lord-nya Chris Pratt, tapi tetap punya keunikan sendiri. Meski berbadan besar hanya dengan tatapan saja dia bisa terkesan lembut dan membuat iba.

Sisi itulah yang membuat hero ini tak hanya sekedar mas berotot tangguh bawa pedang saja. Terdapat kualitas heroik lain yang menyokong tenaga itu, membuatnya cukup berbeda dibanding tipikal penampilannya. Dan Nicholas Galitzine berhasil menampilkannya.

Mungkin yang mengherankan adalah pilihan membuat badannya sudah bongsor walau belum berubah jadi HE-MAN. Meski visual henshinnya keren, tapi perubahan fisiknya terasa kurang sedrastis Chris Evans saat menjadi Captain America. Jadinya, efek wow transformasinya berasa kurang.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power

Di sisi lain, Jared Leto mengejutkan sebagai si antagonis. Tak sekalipun kita melihat wajahnya, tapi dia bisa melebur total dalam balutan kostum dan wajah tengkorak. Gesturnya begitu hidup dan dia bisa terlihat mengancam tapi kemudian lucu dengan seketika.

Secara cerita memang…klasik, maka film tampak mengandalkan atraksi, banter antar karakter yang memang oke saja dan komedi. Walau servicable, rasanya bila ingin menjadi franchise jaya kembali, THE MASTERS OF THE UNIVERSE tampaknya butuh lebih banyak kejutan dan selling point untuk memenangkan penonton sekarang yang sudah terhujani banyak konten, tak seperti tahun-tahun keemasannya dulu.

Bila tidak, yang senang sekali bisa jadi hanya para fans tua saja sementara penonton lain menggangguk saja kurang terkesan, seperti yang penulis rasakan.

Continue Reading

TV & Movies

REVIEW FILM NORMAL, FILM ACTION YANG TIDAK NORMAL

Published

on

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal

www.gwigwi.com – Bob Odenkirk, sosok multitalenta yang dikenal sebagai penulis, produser, dan aktor populer lewat serial Breaking Bad serta Saturday Night Live (SNL), kembali menggebrak layar lebar. Kali ini, ia berpartner dengan Derek Kolstad—kreator bertangan dingin di balik kesuksesan waralaba John Wick dan Nobody. Sinergi keduanya membuahkan sebuah film komedi aksi berjudul Normal, yang digarap di bawah arahan sutradara Ben Wheatley, yang sebelumnya menukangi film Free Fire, Tomb Raider, dan Meg.

Film ini menyoroti kisah seorang sheriff pengganti bernama Ulysses (diperankan oleh Bob Odenkirk). Ia mendapatkan penugasan baru di sebuah kota kecil yang tenang di wilayah Minnesota bernama Normal. Ulysses hadir untuk menggantikan posisi sheriff sebelumnya, Gunderson, yang secara mengejutkan meninggal mendadak. Secara personal, Ulysses adalah pria yang fleksibel dan hanya ingin menjalani sisa kehidupannya dengan ketenangan. Namun, di balik pembawaannya tersebut, ia memendam masa lalu traumatis yang kelam saat masih menjadi seorang sheriff idealis di masa lalu.

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal

Ulysses awalnya beranggapan bahwa masa tugasnya selama delapan minggu ke depan—hingga sheriff definitif baru diangkat—akan berjalan datar dan biasa saja seperti nama kotanya. Namun, ekspektasi tersebut langsung hancur berantakan. Kehadiran sepasang pendatang baru, Moira (Lena Headey) dan Keith (Brendan Fletcher), yang nekat melakukan perampokan bank secara brutal, justru menjadi pemantik yang membuka kotak pandora dan menyingkap rahasia besar nan kelam yang selama ini disembunyikan oleh kota Normal.

Sebagai sebuah film aksi, Normal masih membawa napas dan formula yang serupa dengan John Wick dan Nobody. Sepanjang durasi, film ini dipenuhi oleh adegan-adegan sadis, berdarah, dan memilukan. Oleh karena itu, film ini sangat tidak ramah dan tidak cocok ditonton oleh Gwiple yang masih berusia di bawah 17 tahun.

Meski begitu, intensitas baku tembak dan pertarungan di film ini tidak disajikan secara bombastis atau se-elegan John Wick. Mengapa? Karena mayoritas karakter yang terlibat di dalamnya hanyalah warga sipil biasa, bukan petarung atau kombatan profesional. Namun, di situlah letak kekuatan dan keseruannya. Setiap aksi perkelahian terasa sangat mentah (raw), realistis, minim koreografi rumit, dan brutal. Unsur komedi gelap (dark comedy) di film ini juga dieksekusi dengan cerdas, di mana kelucuan sering kali lahir dari situasi gore yang dialami para korban, memicu banyak momen mencengangkan yang membuat Gwiple terbelalak.

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal

Selain itu, film ini memiliki jajaran karakter pendukung yang cukup ramai. Hebatnya, setiap tokoh diperkenalkan satu per satu dengan porsi yang pas dan penokohan yang kuat. Hal ini membuat Gwiple bisa dengan mudah mengingat mereka dalam waktu singkat, meskipun durasi kemunculan beberapa karakter tergolong singkat.

Secara keseluruhan, Normal adalah sajian film aksi yang lebih condong mendekati kembaran Nobody berkat taburan bumbu komedi yang kental, sehingga nuansanya tidak terasa sekelam dan seserius John Wick. Dengan plot cerita yang ringan, pergerakan alur yang tidak bertele-tele, serta suguhan beberapa plot twist yang menyegarkan di akhir cerita, Normal menjadi sebuah tontonan yang amat menghibur, seru, dan sangat layak untuk Gwiple saksikan langsung di layar bioskop!

Continue Reading

Berita Anime & Manga

Review Film The Mandalorian and Grogu, Is this The Way?

Published

on

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?

www.gwigwi.com – www.gwigwi.com –   Sukses dari serial Disney+ nya, Abang Din Djarin alias Mandalorian (Pedro Pascal) bersama Grogu kali ini nongol di layar besar bioskop. Apakah bisa menyuguhkan petualangan yang lebih wah?

Mandalorian diminta Kolonel Ward (Sigourney Weaver) untuk menyetujui permohonan kembar Hutt. Kedua dedengkot kriminal gang Hutt itu meminta si pemburu hadiah untuk mencari Rotta (Jeremy Allen White) yakni anak dari si cacing legendaris trilogi orisinil Star Wars, Jabba The Hutt.

Plot sebenarnya tidak se straight forward kedengarannya dan masih memberikan surprise yang boleh lah menegangkan. Walau terasa episode tambahan saja dari serialnya.

Barangkali yang disayangkan, transisi ke layar lebar ini kurang dibarengi presentasi yang lebih sinematik.

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?

Konsep sinematografinya terasa tak jauh berbeda dengan di serialnya yang untuk layar kecil. Membuat petualangan ini sedikit terasa kurang epik.

Mungkin tujuannya memang menampilkan skala konflik yang lebih kecil tapi rasa low budget nya jadi berkesan sekali apalagi melihat dari layar lebar. Begitu pun spesial efek yang cukup sering terlihat kurang meyakinkan apalagi di paruh awal.

Penulis Dave Filoni (yang sekarang menjadi Presiden Lucasfilm) dan sutradara Jon Favreau, boleh jadi ahli dalam world building baik soal desain planet baru dan alien baru, tapi rasanya kurang menginjeksinya dengan karakterisasi yang unik.

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?

Rotta memiliki kontras yang menarik dengan Hutt lain yang doyan jadi jahat. Kalau saja ditampilkannya tak melulu dengan dia mengeksposisi situasi dan perasaannya layaknya sinetron, dan dengan cara yang lebih subtil.

Rasanya jadi paham kenapa James Gunn begitu komitmen dengan komedinya dan serial The Boys kerap memperlihatkan nyelenehnya; gunanya untuk menghidupkan adegan dan memberi keunikan. Sesuatu yang dibutuhkan THE MANDALORIAN AND GROGU untuk lebih memoles desain produksinya yang cakap.

Apabila tujuan film ini adalah menampilkan petualangan pulp sederhana yang seru dibumbui komedi, duo Mando dan Grogu sudah plek sekali cocoknya.

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?

Namun rasanya mereka membutuhkan para karakter pendukung yang punya kepribadian kuat, unik dan menghibur lebih banyak lagi, juga ketegangan dan komedi yang lebih kental lagi.

Bila sudah demikian, mau berapa kali pun petualangan THE MANDALORIAN AND GROGU dirilis, meskipun tak banyak benang merah di antaranya, penonton boleh jadi masih akan wow dengan aksi keren Mando dan terpesona lucunya Grogu.

Untuk sekarang THE MANDALORIAN AND GROGU mungkin not exactly the way.

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending