TV & Movies
Sutradara Film Dewasa Bagikan Pengalaman Berkarir Di Industri AV dan Kenapa Masih Banyak Lowongan
GwiGwi.com – Salah satu pekerjaan menarik dari industri 18+ adalah menyutradarai. Di mata banyak orang, mungkin sutradara industri AV akan sedikit aneh, karena AV hanyalah “seks”, siapa saja pasti memikirkan apa yang dipikirkan dengan para sutradara? Sebenarnya, hal ini salah. Banyak sekali film AV yang memiliki skrip atau naskah, plot dan berperan layaknya film biasa.
Baru-baru ini di kanal Youtube aktris film dewasa June Lovejoys mewawancarai seorang sutradara bernama Vagueman, dari sebuah studio kecil bernama Lunatics untuk memberikan sutradara ini kesempatan untuk berbicara tentang hal-hal tersembunyi serta karir dalam profesinya.
Memulai Karir dari Asisten
Sutradara ini berasal dari Fukuoka, tetapi bersekolah di Yokohama. Kemudian dia mencari kerja di Tokyoseperti banyak pemuda lainnya. Pekerjaan paska sarjana pertama Vagueman adalah sebagai asisten di studio AV, tetapi bukan studio saat ini (Lunatics). Ketika dia di sekolah, Vagueman mengira dia akan menjadi pekerja kantoran, seperti perusahaan penerbitan, apakah itu manga atau novel.
Namun, pekerjaan itu sangat melelahkan, akan gila melakukan banyak pekerjaan sehingga Direktur V memutuskan bahwa saya sudah menyukai hal-hal yang “mesum”. Jika saya berhenti melakukan sesuatu yang benar dengan passion saya, maka akan lebih bermanfaat bagi masyarakat.
Setiap tahun, studio terus menerus merekrut pendatang baru untuk bekerja sebagai asisten. Namun tidak semua orang bisa bertahan lebih dari 3 hari, paling lama 1 minggu. Ketika Vagueman bertanya mengapa dia beristirahat, dia mendapat jawaban bahwa dia memikirkan hal 18+ setiap hari. Bahkan di dinding kantor di studio yang dipenuhi dengan gambar sampul AV, hal itu menciptakan tekanan yang sangat besar bagi para pemula untuk memikirkan konten baru setiap hari.
Vagueman memiliki 9 tahun pengalaman dalam profesinya, tetapi ini baru tahun ke-2 dirinya sebagai sutradara. Selama tahun kedua sebagai asisten, mantan presiden studio bertanya apakah V ingin menjadi sutradara, tapi dia pikir itu akan terlalu cepat. Saat ia belajar dari anime – manga, pemeran utama pria akan selalu berpikir “alur cerita” seperti itu terlalu cepat, seperti karakter Evangelion, Shinji Ikari. Dia menolak sampai dia akhirnya menjadi sutradara.
Berbicara tentang film pertamanya, sutradara V merasa sangat buruk. Dia merasa sangat kasihan kepada semua orang yang mendukungnya dalam pembuatan film itu. Bahkan sekarang V hanya ingin melupakannya. Awalnya V hanya berencana bikin film, jadi mimpinya sudah terwujud. Meskipun film itu sangat buruk, namun dia menikmati menjadi sutradara, jadi dia melanjutkan karirnya. Semua orang juga mendukungnya, memuji cara dia melakukannya dengan baik, tetapi sama sekali tidak ada yang mengatakan bahwa film ini akan laku
V sendiri juga mengatakan bahwa impian membuat film lalu berhenti menjadi cukup sulit. “Ketika saya pertama kali mulai bekerja sebagai asisten direktur, hal itu sangat sulit dan melelahkan. Kamu harus melakukannya dari fajar hingga senja.” V bahkan sampai menangis karena tekanan setelah dimarahi seniornya. Dia sempat berencana untuk pensiun dari sebuah film serta berniat untuk beralih ke karir pembuatan film mainstream, bukan menjadi menyutradarai film AV. Namun. dia malah mengubah sikap positif tentang penyutradaraan AV, dan ingin terus bertahan dengan profesinya.
Pekerjaan Studio Lunatics
Tentang Lunatics, studio sutradara Vagueman saat ini, ini adalah studio kecil yang baru didirikan awal tahun ini, dan hanya ada 2 sutradara, Vagueman dan … presiden studio ini, selain itu, ada seorang produser perempuan.
Menurut sutradara V, ada dua jenis sutradara, yang berfokus pada konteks, genre, dan drama. Tipe lainnya seperti V, berfokus pada mengeksploitasi kecantikan dan seksi dari fisik aktris. Peluncuran proyek AV dilakukan oleh ketiga tim Lunatics. Karena mereka tidak memiliki banyak orang, mereka bertiga melakukannya bersama, mulai konsep hingga skripnya.
Banyak orang berpikir bahwa masuk ke industri ini sangat menyenangkan, seperti menonton film dewasa gratis dan mengobrol dengan aktris AV, tapi itu hanya sebagian dari cerita. Tapi, menjadi asisten akan melakukan semuanya.
Dalam industri film mainstream, ada banyak asisten dan tim untuk masing-masing bagian. Tapi di AV tidak ada hal demikian, karena tidak ada biaya, jadi mulai dari pasang kamera, syuting, seting adegan hingga makanan aktris semua diurus oleh seorang asisten. Secara umum, kita adalah superman harus bisa semuanya.
Bagaimana dengan saat bertindak sebagai sutradara? Pada pembuatan Film normal, mereka memiliki sutradara dan penulis yang terpisah, namun di AV, kamu sendiri harus merencanakan, menulis skrip, merekam, bahkan mengedit film sendiri. Singkatnya, kamu adalah tim itu sendiri.
Namun, pada proses menyamarkan (blurring) di film dewasa dialihkan ke pihak ketiga, setidaknya untuk studio Lunatics prosesnya seperti itu. Ada perusahaan yang mengkhususkan diri pada bagian ini. Sedangkan untuk bagian syutingnya, banyak sutradara yang hanya syuting, bukan edit, tapi V juga melakukan editing karena menurutnya itu yang terbaik untuk karyanya.
V memiliki saran bagi mereka yang ingin bekerja di industri AV bahwa kalian harus terbiasa memikirkan konten 18+ sepanjang hari dan melihatnya setiap saat. Pekerjaan ini mudah dilakukan karena tidak memerlukan pendidikan apa pun, atau tidak memerlukan pengalaman yang dibuat sebelumnya, tetapi cukup sulit untuk ditekuni.
Simak video June Lovejoys dibawah ini.
TV & Movies
Review Film The Masters of The Universe, Not Enough Power
www.gwigwi.com – Franchise legenda lagi akan tayang setelah MORTAL KOMBAT 2 dan THE MANDALORIAN AND GROGU. HE-MAN! Laama sekali penantian setelah begitu banyak rumor dan segala macamnya, MASTERS OF THE UNIVERSE akhirnya jadi film juga. Nah, apakah akan hanya menyenangkan fans lama saja?
Adam (Nicholas Galitzine) rindu dengan kampung halamannya, Eternia sampai mengganggu pekerjaannya di kantor.
Naas, saat kerajaannya diserang dulu, dia terpaksa kabur ke bumi. Sampai akhirnya dia menemukan lagi pedang yang akan menuntunnya pulang, Sword of Power.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power
Namun, baru saja dia panggul pedang itu lagi, Adam diserang monster dan dilindungi teman lamanya, Theela (Camila Mendes) yang membawanya pulang.
Sang pangeran tak menyangka Eternia kini rusak akibat lalimnya sang musuh utama, Skeletor (Jared Leto). Menggunakan Sword of Power dan sekutunya seperti Man At-Arms (Idris Elba), maka Adam harus berjuang menyelamatkan dunianya.
Sebagai adaptasi mainan HE-MAN, tentu visual dan baku hantamnya lah salah satu pesona utama. Kostumnya untungnya tidak direalistiskan tapi total mencoba setia pada mainannya. Begitu pun aksinya menghentak bahkan sedari awal. Berkat koreografi energik dan sinematografi dinamis yang cakap.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power
Nicholas Galatzine seakan menchannel man child ala Star Lord-nya Chris Pratt, tapi tetap punya keunikan sendiri. Meski berbadan besar hanya dengan tatapan saja dia bisa terkesan lembut dan membuat iba.
Sisi itulah yang membuat hero ini tak hanya sekedar mas berotot tangguh bawa pedang saja. Terdapat kualitas heroik lain yang menyokong tenaga itu, membuatnya cukup berbeda dibanding tipikal penampilannya. Dan Nicholas Galitzine berhasil menampilkannya.
Mungkin yang mengherankan adalah pilihan membuat badannya sudah bongsor walau belum berubah jadi HE-MAN. Meski visual henshinnya keren, tapi perubahan fisiknya terasa kurang sedrastis Chris Evans saat menjadi Captain America. Jadinya, efek wow transformasinya berasa kurang.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power
Di sisi lain, Jared Leto mengejutkan sebagai si antagonis. Tak sekalipun kita melihat wajahnya, tapi dia bisa melebur total dalam balutan kostum dan wajah tengkorak. Gesturnya begitu hidup dan dia bisa terlihat mengancam tapi kemudian lucu dengan seketika.
Secara cerita memang…klasik, maka film tampak mengandalkan atraksi, banter antar karakter yang memang oke saja dan komedi. Walau servicable, rasanya bila ingin menjadi franchise jaya kembali, THE MASTERS OF THE UNIVERSE tampaknya butuh lebih banyak kejutan dan selling point untuk memenangkan penonton sekarang yang sudah terhujani banyak konten, tak seperti tahun-tahun keemasannya dulu.
Bila tidak, yang senang sekali bisa jadi hanya para fans tua saja sementara penonton lain menggangguk saja kurang terkesan, seperti yang penulis rasakan.
TV & Movies
REVIEW FILM NORMAL, FILM ACTION YANG TIDAK NORMAL
www.gwigwi.com – Bob Odenkirk, sosok multitalenta yang dikenal sebagai penulis, produser, dan aktor populer lewat serial Breaking Bad serta Saturday Night Live (SNL), kembali menggebrak layar lebar. Kali ini, ia berpartner dengan Derek Kolstad—kreator bertangan dingin di balik kesuksesan waralaba John Wick dan Nobody. Sinergi keduanya membuahkan sebuah film komedi aksi berjudul Normal, yang digarap di bawah arahan sutradara Ben Wheatley, yang sebelumnya menukangi film Free Fire, Tomb Raider, dan Meg.
Film ini menyoroti kisah seorang sheriff pengganti bernama Ulysses (diperankan oleh Bob Odenkirk). Ia mendapatkan penugasan baru di sebuah kota kecil yang tenang di wilayah Minnesota bernama Normal. Ulysses hadir untuk menggantikan posisi sheriff sebelumnya, Gunderson, yang secara mengejutkan meninggal mendadak. Secara personal, Ulysses adalah pria yang fleksibel dan hanya ingin menjalani sisa kehidupannya dengan ketenangan. Namun, di balik pembawaannya tersebut, ia memendam masa lalu traumatis yang kelam saat masih menjadi seorang sheriff idealis di masa lalu.

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal
Ulysses awalnya beranggapan bahwa masa tugasnya selama delapan minggu ke depan—hingga sheriff definitif baru diangkat—akan berjalan datar dan biasa saja seperti nama kotanya. Namun, ekspektasi tersebut langsung hancur berantakan. Kehadiran sepasang pendatang baru, Moira (Lena Headey) dan Keith (Brendan Fletcher), yang nekat melakukan perampokan bank secara brutal, justru menjadi pemantik yang membuka kotak pandora dan menyingkap rahasia besar nan kelam yang selama ini disembunyikan oleh kota Normal.
Sebagai sebuah film aksi, Normal masih membawa napas dan formula yang serupa dengan John Wick dan Nobody. Sepanjang durasi, film ini dipenuhi oleh adegan-adegan sadis, berdarah, dan memilukan. Oleh karena itu, film ini sangat tidak ramah dan tidak cocok ditonton oleh Gwiple yang masih berusia di bawah 17 tahun.
Meski begitu, intensitas baku tembak dan pertarungan di film ini tidak disajikan secara bombastis atau se-elegan John Wick. Mengapa? Karena mayoritas karakter yang terlibat di dalamnya hanyalah warga sipil biasa, bukan petarung atau kombatan profesional. Namun, di situlah letak kekuatan dan keseruannya. Setiap aksi perkelahian terasa sangat mentah (raw), realistis, minim koreografi rumit, dan brutal. Unsur komedi gelap (dark comedy) di film ini juga dieksekusi dengan cerdas, di mana kelucuan sering kali lahir dari situasi gore yang dialami para korban, memicu banyak momen mencengangkan yang membuat Gwiple terbelalak.

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal
Selain itu, film ini memiliki jajaran karakter pendukung yang cukup ramai. Hebatnya, setiap tokoh diperkenalkan satu per satu dengan porsi yang pas dan penokohan yang kuat. Hal ini membuat Gwiple bisa dengan mudah mengingat mereka dalam waktu singkat, meskipun durasi kemunculan beberapa karakter tergolong singkat.
Secara keseluruhan, Normal adalah sajian film aksi yang lebih condong mendekati kembaran Nobody berkat taburan bumbu komedi yang kental, sehingga nuansanya tidak terasa sekelam dan seserius John Wick. Dengan plot cerita yang ringan, pergerakan alur yang tidak bertele-tele, serta suguhan beberapa plot twist yang menyegarkan di akhir cerita, Normal menjadi sebuah tontonan yang amat menghibur, seru, dan sangat layak untuk Gwiple saksikan langsung di layar bioskop!
Berita Anime & Manga
Review Film The Mandalorian and Grogu, Is this The Way?
www.gwigwi.com – www.gwigwi.com – Sukses dari serial Disney+ nya, Abang Din Djarin alias Mandalorian (Pedro Pascal) bersama Grogu kali ini nongol di layar besar bioskop. Apakah bisa menyuguhkan petualangan yang lebih wah?
Mandalorian diminta Kolonel Ward (Sigourney Weaver) untuk menyetujui permohonan kembar Hutt. Kedua dedengkot kriminal gang Hutt itu meminta si pemburu hadiah untuk mencari Rotta (Jeremy Allen White) yakni anak dari si cacing legendaris trilogi orisinil Star Wars, Jabba The Hutt.
Plot sebenarnya tidak se straight forward kedengarannya dan masih memberikan surprise yang boleh lah menegangkan. Walau terasa episode tambahan saja dari serialnya.
Barangkali yang disayangkan, transisi ke layar lebar ini kurang dibarengi presentasi yang lebih sinematik.

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?
Konsep sinematografinya terasa tak jauh berbeda dengan di serialnya yang untuk layar kecil. Membuat petualangan ini sedikit terasa kurang epik.
Mungkin tujuannya memang menampilkan skala konflik yang lebih kecil tapi rasa low budget nya jadi berkesan sekali apalagi melihat dari layar lebar. Begitu pun spesial efek yang cukup sering terlihat kurang meyakinkan apalagi di paruh awal.
Penulis Dave Filoni (yang sekarang menjadi Presiden Lucasfilm) dan sutradara Jon Favreau, boleh jadi ahli dalam world building baik soal desain planet baru dan alien baru, tapi rasanya kurang menginjeksinya dengan karakterisasi yang unik.

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?
Rotta memiliki kontras yang menarik dengan Hutt lain yang doyan jadi jahat. Kalau saja ditampilkannya tak melulu dengan dia mengeksposisi situasi dan perasaannya layaknya sinetron, dan dengan cara yang lebih subtil.
Rasanya jadi paham kenapa James Gunn begitu komitmen dengan komedinya dan serial The Boys kerap memperlihatkan nyelenehnya; gunanya untuk menghidupkan adegan dan memberi keunikan. Sesuatu yang dibutuhkan THE MANDALORIAN AND GROGU untuk lebih memoles desain produksinya yang cakap.
Apabila tujuan film ini adalah menampilkan petualangan pulp sederhana yang seru dibumbui komedi, duo Mando dan Grogu sudah plek sekali cocoknya.

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?
Namun rasanya mereka membutuhkan para karakter pendukung yang punya kepribadian kuat, unik dan menghibur lebih banyak lagi, juga ketegangan dan komedi yang lebih kental lagi.
Bila sudah demikian, mau berapa kali pun petualangan THE MANDALORIAN AND GROGU dirilis, meskipun tak banyak benang merah di antaranya, penonton boleh jadi masih akan wow dengan aksi keren Mando dan terpesona lucunya Grogu.
Untuk sekarang THE MANDALORIAN AND GROGU mungkin not exactly the way.
-
News4 weeks agoGenshin Impact Versi “Candra VII”: Kebenaran di Balik Lembar-Lembar Purana
-
News4 weeks agoPara Pemain “Mortal Kombat II” Meriahkan Tur Global di Jakarta lewat kehadiran di Fan Event dan Red Carpet di Jakarta
-
TV & Movies4 weeks agoGrogu Hadir Di Perayaan Star Wars Day Di Jakarta
-
TV & Movies4 weeks agoResmi Meluncur, Xiaomi TV S Mini LED 2026 Standar Baru Hiburan Premium di Rumah
-
TV & Movies4 weeks agoReview Film Mortal Kombat II, Semakin Berani Bermain
-
TV & Movies4 weeks agoREVIEW FILM FUZE, PERAMPOKAN DI TENGAH TEROR BOM YANG PENUH KEJUTAN
-
Box Office3 weeks agoReview Film Gohan: A Heart That Goes Home, Perjalanan Hidup Penuh Haru
-
Gaming3 weeks agoSiap Tempa Takdirmu: Blades of Fire Versi 2.0 Kini Resmi Hadir di Steam!





