Cosplay
Nobuyuki Takahashi dan Asal Muasal Istilah Cosplay
Mungkin, kamu pembaca GwiGwi.com ada yang senang sekali cosplay, baik itu mulai dari yang cuman sekedar lihat orang cosplay-in karakter anime favorit kamu, atau kamu sendiri yang cosplay jadi salah satu karakter yang kamu suka bahkan kamu suka membuat pakaian dan armor untuk cosplay teman kamu. Tetapi apakah kamu tahu asal-muasal bagaimana bisa sampai ada istilah Cosplay yang sering dipakai dimana-mana ini.
“Istilah Cosplay tidak begitu saja muncul,” kata Nobuyuki Takahashi, salah seorang yang ikut dalam menciptakan kata Cosplay.
Gwimin mau berbagi bagaimana cosplay itu bisa ada, artikel dibawah dikutip dari buku berjudul ‘Cosplay World' karya Brian Ashcraft dan Luke Plunkett yang telah ditulis lagi oleh penulisnya sendiri di Kotaku. Buku ini mungkin bisa kamu dapatkan di toko-toko buku import atau pesan langsung ke amazon.
http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/GwiGwi%20Post/gbqvrukx97xs3jneltg5_zpsa53a990b.jpg
[divider]
Pada tahun 1970-an, anak-anak SMA Jepang mulai mengenakan pakaian menyerupai karakter anime dan manga. Para anak muda ini telah tumbuh besar di lingkungan keseharian mereka yang dipenuhi dengan manga dan anime, dan ketika mereka menghadiri acara bertema manga dan anime di festival-festival sekolah atau kampus, mereka akan mengenakan kostum karakter anime dan manga untuk mengekspresikan kecintaan mereka terhadap karakter tersebut.
Event berbau sci-fi (science fiction) telah ada di Jepang sejak tahun 1960-an tetapi di tahun 1975 Comic Market (aka Comiket) diselenggarakan dan menciptakan tempat baru untuk komik yang dipublis sendiri secara independen. Disini cikal bakal cosplay di Jepang berkembang. Pada event comiket seperti ini banyak sekali fans yang berkumpul. Dulunya sudah ada istilah untuk orang Jepang yang mengenakan kostum yang biasa disebut kasou (仮想).
Namun, kata tersebut lebih mengartikan penyamaran dan tidak menggambarkan dengan baik bagaimana semangat mengenakan cosplay yang sebenarnya. Di istilah barat ada namanya ‘masquerade' yang biasanya berarti menggenakan kostum, tetapi Takahashi dan beberapa teman kuliahnya mencoba mengartikan kata ‘masquerade' dalam bahasa Jepang untuk sebuah artikel majalah yang mereka tulis, malah terdengar seperti terlalu kuno dan terlalu bernuansa kekerajaan.Menurut Takahashi, “Kita harus mencari cara lain untuk mengekspresikan konsep ini(cosplay)”
Berbagai istilah mulai bermunculan.“Kita mendengar istilah bahasa Inggris ‘costume' dan melihat beberapa acara dengan nama seperti ‘Costume Show', ‘Kasou Show', ‘Hero Play' “ kata Takahashi.
Dalam bahasa Jepang, bahasa inggris dan bahasa lainnya seringkali di kombinasi atau dipendekkan untuk memudahkan pelafalannya. Contohnya, ‘remote control' dalam bahasa Jepang – rimooto kontorooru – disingkat menjadi rimokon.
“Jadi kita mulai memikirkan untuk menyingkatnya atau mengkombinasikannya” kata Takahashi. “Akhirnya kami memilih ‘cosplay' dari kata ‘costume' dan ‘play'”
Artikel cosplay dari Takahashi dimuat di majalah My Anime edisi Juni 1983. Artikel itu menampilkan para fans yang mengenakan pakaian sebagai karakter manga dan anime dari Comiket di Tokyo. Artikel itu juga memperlihatkan barisan cosplayer (sebutan pengguna cosplay) dalam berbagai kostum: superhero seperti Kamen Rider; robot dari anime Techno Police 21C; Lupin III dan Star Blazers, ada juga cosplay dengan penampilan seksi seperti Lum Invader dari Urusei Yatsura. Ada juga bahasan mengenai cosplayer perempuan yang berpenampilan karakter pria. Banyak jenis karakter yang ditampirkan yang mana itu populer di Jepang maupun dunia.
Pada artikel itu ada tulisan ‘costume play' (コスチュームプレー, kosuchuumu puree) dan ‘cosplay' (コスプレ, kosupure), kemudian ada juga judul dalam bahasa Inggris, ‘Hero Costume Operation'. Ada alasan untuk perbedaan tersebut.
Menurut Takahashi, “Ketika kami menyusun artikel itu, kami masih berpikir istilah apa yang cocok untuk kegiatan. Itulah mengapa masi menggunakan berbagai kata diatas.” (untungnya kata ‘hero costume operation' tidak booming) Sementara itu mungkin orang-orang di Jepang juga sudah mengetahui istilah ‘cosplay' di waktu yang sama, ini pertama kalinya kata ‘cosplay' muncul di media cetak.
Di acara pameran komik terbesar di Jepang pada tahun itu, tidak banyak orang yang mengetahui istilah tersebut. Menurut Takahashi, barulah 1-2 tahun kemudian, ‘cosplay' telah digunakan secara luas oleh fans yang menngikuti acara festival manga dan anime. Tidak sampai tahun 90-an, budaya ini telah diperkenalkan di TV dan majalah, dan istilah ini menyebar luas di Jepang. Takahasi terkejut, dalam 30 tahun istilah ini sudah mendunia.
“Cosplay merupakan cara seorang fans mengekspresikan kesukaan pada karakter favorit mereka,” kata Takahashi.
“Membuat artwork, menulis cerita, membuat film animasi merupakan perwujudan dari kesukaan mereka dan cosplay merupakan salah satu cara fans untuk mengekspresikan dengan seluruh jiwa dan raga mereka” tambah Takahashi.
Ketika ditanya apakah dia pernah ber-cosplay? “tidak pernah sekalipun” jawab Takahashi, yang bekerja sebagai perencana dan membuat desain untuk penerbit dan penyiar.
“Biasanya saya mengenakan pakaian kasual di kantor. Tetapi tiap kali saya mengenakan business suit, saat itulah saya ber-cosplay. Cosplay sebagai pengusaha” tukas Takahashi.