News
YouTube Diduga Hapus Subtitle Dekoratif SRV3, Komunitas VTuber Global Protes
www.gwigwi.com –
YouTube dilaporkan menghapus sejumlah subtitle kustom dekoratif yang diunggah oleh pengguna tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kebijakan ini memicu reaksi keras dari komunitas internasional, terutama dari kalangan penerjemah dan penggemar VTuber, termasuk pendukung agensi besar seperti Hololive dan Nijisanji.
Subtitle yang terdampak bukanlah teks otomatis berbasis AI maupun subtitle standar, melainkan subtitle buatan kontributor dengan format khusus yang memungkinkan tampilan visual lebih kompleks. Sejumlah pengguna melaporkan bahwa penghapusan tersebut terjadi secara acak, tanpa penjelasan atau notifikasi resmi dari pihak YouTube.
Hingga Senin (20/1/2026), YouTube belum memberikan pernyataan apakah langkah ini merupakan perubahan kebijakan yang disengaja atau sekadar gangguan teknis. Ketidakjelasan ini semakin memperbesar keresahan komunitas yang selama bertahun-tahun mengandalkan fitur tersebut.
Subtitle yang banyak dihapus diketahui menggunakan format SRV3, atau dikenal juga sebagai YTT (YouTube Timed Text). Format ini memiliki fitur lanjutan dibanding subtitle standar seperti SRT. Melalui SRV3, kontributor dapat mengatur posisi teks, jenis huruf, warna, transparansi, hingga efek dinamis seperti perubahan warna mengikuti vokal—mirip subtitle karaoke.
Format ini selama bertahun-tahun dimanfaatkan untuk menghadirkan terjemahan yang bukan hanya akurat, tetapi juga selaras dengan nuansa visual dan musikal video. Mengingat keterbatasan terjemahan otomatis YouTube yang kerap dinilai kurang presisi, banyak penerjemah sukarelawan memilih SRV3 sebagai solusi alternatif yang lebih ekspresif.
Penggunaan SRV3 sangat luas dalam video musik VTuber, terutama dari agensi besar seperti Hololive dan Nijisanji. Subtitle jenis ini dianggap mampu meningkatkan pengalaman menonton bagi audiens internasional. Salah satu contoh yang sering disebut adalah video musik “BIBIDEBA” milik Hoshimachi Suisei, di mana lirik ditampilkan dalam warna biru khas sang penyanyi dan bergerak mengikuti alur lagu layaknya karaoke.
Seorang pengguna Reddit bernama MatthewHinson bahkan menyebut bahwa terjemahan resmi Hololive juga memanfaatkan format SRV3 karena memungkinkan tampilan subtitle yang “indah dan unik, sesuatu yang tidak bisa dicapai dengan metode lain.”
Dampak penghapusan ini tidak hanya dirasakan penonton, tetapi juga para penerjemah dan kreator. Salah satu yang pertama menyuarakan keberatan adalah maymei, manajer penerjemahan untuk VTuber MonochroMenace. Dalam unggahan di media sosial X, ia menyebut banyak orang menggantungkan aktivitas profesional mereka pada fitur ini.
Meski subtitle tidak dapat dimonetisasi langsung lewat YouTube, keahlian membuat subtitle SRV3 kerap menjadi pekerjaan berbayar melalui komisi pribadi atau permintaan resmi dari VTuber dan manajemennya. Karena itu, banyak pihak mendesak YouTube agar menghentikan penghapusan atau setidaknya memberikan kejelasan soal masa depan subtitle kustom dekoratif ini.
Hingga kini, komunitas VTuber global masih menunggu penjelasan resmi dari YouTube.