TV & Movies

Review Film Black Panther: Wakanda Forever, More emotionally charge and stronger sequel

Published

on

GwiGwi.com – Shuri (Letitia Wright) berdoa pada Bast, dewa kuno, meskipun dia sebenarnya tak mempercayai. Namun apa daya saat batin sudah demikian tertekan dan usaha menyelamatkan penyakit si kakak, Raja Wakanda T'challa (Chadwick Bossman) tak kunjung berhasil, kecuali menyandar pada kekuatan yang lebih tinggi.

Saat sang ibu, Ramonda (Angela Basset) keluar dari ruang perawatan menemui anak perempuannya berlinang air mata, Shuri terdiam. Semua teknologi canggih Wakanda dan doanya tak kuasa melawan takdir. Raja Wakanda wafat.

Keputusan sutradara Ryan Coogler memasukkan kematian aktor Chadwick Boseman ke film agaknya beresiko, namun yang terjadi di WAKANDA FOREVER, dia menyajikannya dengan penuh rasa hormat.

Para aktornya mungkin sudah berduka dan mengucap selamat tinggal, maka kini giliran para karakter mereka di sekuel BLACK PANTHER (2018) ini merasakan detik kehilangan tersebut dan menyelami kesedihannya.

T'challa sudah pergi, tetapi keputusannya membuka fakta majunya Wakanda ke dunia membuat mereka menjadi target. Vibranium, metal termutakhir di dunia yang konon hanya ada di Wakanda, menjadi incaran negara-negara lain. Ancaman ini sudah diprediksi dan berhasil ditahan oleh Jenderal Okoye (Danai Gurira).

Hal yang tak disangka adalah adanya bangsa lain yang lebih tertutup dari Wakanda, Kerajaan bawah air Talocan yang merasakan akibat perbuatan T'challa. Pemimpinnya, si mutan Namor (Tenoch Huerta) yang menurut Ryan Coogler sekuat Thor, meminta Wakanda untuk memilih; membantu mereka melawan negara-negara lain atau ikut menjadi musuh.

Berbeda dari teasernya yang penuh duka, menariknya WAKANDA FOREVER tak melulu suram. Setelah adegan pemakaman, film cepat kembali pada tone MCU yang ringan. Hal ini baik karena hakikatnya film ini masih bertugas menghibur sekaligus memberi pesan pada para karakter dan penonton untuk melangkah maju dari kesedihan walaupun dukanya masih menyelimuti.

Tak adanya figur sentral membuat karakter lainnya lebih menonjol. Angela Basset give it her all. Saat ada adegan Ramonda menumpahkan semua emosinya, rasanya membuat satu bioskop tertegun. Shuri pun diperlihatkan sisi lainnya di luar sebagai ilmuwan dan memegang peran penting bagaimana Wakanda harus bersikap melawan Namor yang ganas; Apakah dengan bijak seperti T'challa atau ada cara lain?

Implikasi politik dari keputusan para pemegang kekuasaan Wakanda, Talocan dan dunia bermain peran lebih di sini. Memberi bobot lebih pada misal adegan interaksi Namor dengan Shuri. It is as much about them as it is about the people. Bagaimana dua negara ini tak menahan diri dalam berkonflik sampai korban berjatuhan (banyak yang mati! Wow). Sampai sukit ditebak bagaimana masalahnya berakhir kalau efeknya begini fatal. Suspense lebih dari film pertamanya.

Namor nya Tenoch Huerta penuh amarah yang bisa meletus kapan saja tetapi tersembunyi di balik senyum dan ramahnya. Pandainya Tenoch memainkan sisi panas dan tenangnya ini beneran keren.

Waktu adegan menegangkan dengan Ramonda dan Shuri, senyum yang terkesan tulus dari Namor beneran mencekam karena sudah diperlihatkan sebelumnya kuatnya dirinya dan Talocan. Tapi dia tetap berkesan diplomatis. Seolah tinggal menjetikkan jari, Wakanda tiada. He succeed in posing a powerful image of a leader of a country even more powerful than Wakanda.

Kemudian ada Riri Williams (Dominique Thorne) si Iron Heart. Satu lagi jenius teknologi di MCU. Yang ini lebih muda, panikan dan jauh lebih nekat dari Tony Stark. Yang anehnya, meski dia diperlihatkan bisa membuat armor ala Iron Man, tak sedikit pun disebutkan si jagoan pertama MCU itu dar mulutnya sebagai inspirasi. Membingungkan aja.

Dengan naratif dan aksi di klimaks yang logika tempurnya masuk nan memuaskan secara drama, bahkan rasanya lebih baik dari film pertama, kualitas spesial efeknya mengherankan. Beberapa scene terlihat begitu murah efek background nya. Rasanya tak percaya yang demikian lolos masuk final cut.

Di kala acara streaming seperti RINGS OF POWER menyajikan efek indah, film besar tayang di bioskop seperti ini harus menunjukkan kelasnyaShuri (Letitia Wright) berdoa pada Bast, dewa kuno, meskipun dia sebenarnya tak mempercayai. Namun apa daya saat batin sudah demikian tertekan dan usaha menyelamatkan penyakit si kakak, Raja Wakanda T'challa (Chadwick Bossman) tak kunjung berhasil, kecuali menyandar pada kekuatan yang lebih tinggi.

Saat sang ibu, Ramonda (Angela Basset) keluar dari ruang perawatan menemui anak perempuannya berlinang air mata, Shuri terdiam. Semua teknologi canggih Wakanda dan doanya tak kuasa melawan takdir. Raja Wakanda wafat.

Keputusan sutradara Ryan Coogler memasukkan kematian aktor Chadwick Boseman ke film agaknya beresiko, namun yang terjadi di WAKANDA FOREVER, dia menyajikannya dengan penuh rasa hormat.

Para aktornya mungkin sudah berduka dan mengucap selamat tinggal, maka kini giliran para karakter mereka di sekuel BLACK PANTHER (2018) ini merasakan detik kehilangan tersebut dan menyelami kesedihannya.

T'challa sudah pergi, tetapi keputusannya membuka fakta majunya Wakanda ke dunia membuat mereka menjadi target. Vibranium, metal termutakhir di dunia yang konon hanya ada di Wakanda, menjadi incaran negara-negara lain. Ancaman ini sudah diprediksi dan berhasil ditahan oleh Jenderal Okoye (Danai Gurira).

Hal yang tak disangka adalah adanya bangsa lain yang lebih tertutup dari Wakanda, Kerajaan bawah air Talocan yang merasakan akibat perbuatan T'challa. Pemimpinnya, si mutan Namor (Tenoch Huerta) yang menurut Ryan Coogler sekuat Thor, meminta Wakanda untuk memilih; membantu mereka melawan negara-negara lain atau ikut menjadi musuh.

Berbeda dari teasernya yang penuh duka, menariknya WAKANDA FOREVER tak melulu suram. Setelah adegan pemakaman, film cepat kembali pada tone MCU yang ringan. Hal ini baik karena hakikatnya film ini masih bertugas menghibur sekaligus memberi pesan pada para karakter dan penonton untuk melangkah maju dari kesedihan walaupun dukanya masih menyelimuti.

Tak adanya figur sentral membuat karakter lainnya lebih menonjol. Angela Basset give it her all. Saat ada adegan Ramonda menumpahkan semua emosinya, rasanya membuat satu bioskop tertegun. Shuri pun diperlihatkan sisi lainnya di luar sebagai ilmuwan dan memegang peran penting bagaimana Wakanda harus bersikap melawan Namor yang ganas; Apakah dengan bijak seperti T'challa atau ada cara lain?

Implikasi politik dari keputusan para pemegang kekuasaan Wakanda, Talocan dan dunia bermain peran lebih di sini. Memberi bobot lebih pada misal adegan interaksi Namor dengan Shuri. It is as much about them as it is about the people. Bagaimana dua negara ini tak menahan diri dalam berkonflik sampai korban berjatuhan (banyak yang mati! Wow). Sampai sukit ditebak bagaimana masalahnya berakhir kalau efeknya begini fatal. Suspense lebih dari film pertamanya.

Namor nya Tenoch Huerta penuh amarah yang bisa meletus kapan saja tetapi tersembunyi di balik senyum dan ramahnya. Pandainya Tenoch memainkan sisi panas dan tenangnya ini beneran keren.

Waktu adegan menegangkan dengan Ramonda dan Shuri, senyum yang terkesan tulus dari Namor beneran mencekam karena sudah diperlihatkan sebelumnya kuatnya dirinya dan Talocan. Tapi dia tetap berkesan diplomatis. Seolah tinggal menjetikkan jari, Wakanda tiada. He succeed in posing a powerful image of a leader of a country even more powerful than Wakanda.

Kemudian ada Riri Williams (Dominique Thorne) si Iron Heart. Satu lagi jenius teknologi di MCU. Yang ini lebih muda, panikan dan jauh lebih nekat dari Tony Stark. Yang anehnya, meski dia diperlihatkan bisa membuat armor ala Iron Man, tak sedikit pun disebutkan si jagoan pertama MCU itu dar mulutnya sebagai inspirasi. Membingungkan aja.

Dengan naratif dan aksi di klimaks yang logika tempurnya masuk nan memuaskan secara drama, bahkan rasanya lebih baik dari film pertama, kualitas spesial efeknya mengherankan. Beberapa scene terlihat begitu murah efek background nya. Rasanya tak percaya yang demikian lolos masuk final cut.

Di kala acara streaming seperti RINGS OF POWER menyajikan efek indah, film besar tayang di bioskop seperti ini harus menunjukkan kelasnya supaya tidak memalukan dan membuat harga tiket masuk layak. Apalagi di saat mendatangkan penonton ke bioskop sedang sulit.

Rating SEMUA UMUR dari LSF gak cocok. Banyak profanity dan adegan penusukan yang vulgar. Serius, apa standar mereka sebenarnya? Marvel Studios juga mengherankan. Killmonger (Michael B Jordan) di film pertama yang lebih emosional justru kalah kotor mulutnya sama para karakter di sini. Padahal Killmonger berasa lebih berhak berkata-kata demikian. Gak paham standar PG-13 di amrik sekarang.

BLACK PANTHER: WAKANDA FOREVER adalah tantangan yang hampir mustahil. Sekuel tanpa bintangnya, harus eksplorasi akibatnya, tetap menghibur, berbobot dan tentunya ekspektasi bawah sadar penonton kalau sekuel harus lebih baik. The challange is accepted and it was aptly delivered.Shuri (Letitia Wright) berdoa pada Bast, dewa kuno, meskipun dia sebenarnya tak mempercayai. Namun apa daya saat batin sudah demikian tertekan dan usaha menyelamatkan penyakit si kakak, Raja Wakanda T'challa (Chadwick Bossman) tak kunjung berhasil, kecuali menyandar pada kekuatan yang lebih tinggi.

Saat sang ibu, Ramonda (Angela Basset) keluar dari ruang perawatan menemui anak perempuannya berlinang air mata, Shuri terdiam. Semua teknologi canggih Wakanda dan doanya tak kuasa melawan takdir. Raja Wakanda wafat.

Keputusan sutradara Ryan Coogler memasukkan kematian aktor Chadwick Boseman ke film agaknya beresiko, namun yang terjadi di WAKANDA FOREVER, dia menyajikannya dengan penuh rasa hormat.

Para aktornya mungkin sudah berduka dan mengucap selamat tinggal, maka kini giliran para karakter mereka di sekuel BLACK PANTHER (2018) ini merasakan detik kehilangan tersebut dan menyelami kesedihannya.

T'challa sudah pergi, tetapi keputusannya membuka fakta majunya Wakanda ke dunia membuat mereka menjadi target. Vibranium, metal termutakhir di dunia yang konon hanya ada di Wakanda, menjadi incaran negara-negara lain. Ancaman ini sudah diprediksi dan berhasil ditahan oleh Jenderal Okoye (Danai Gurira).

Hal yang tak disangka adalah adanya bangsa lain yang lebih tertutup dari Wakanda, Kerajaan bawah air Talocan yang merasakan akibat perbuatan T'challa. Pemimpinnya, si mutan Namor (Tenoch Huerta) yang menurut Ryan Coogler sekuat Thor, meminta Wakanda untuk memilih; membantu mereka melawan negara-negara lain atau ikut menjadi musuh.

Berbeda dari teasernya yang penuh duka, menariknya WAKANDA FOREVER tak melulu suram. Setelah adegan pemakaman, film cepat kembali pada tone MCU yang ringan. Hal ini baik karena hakikatnya film ini masih bertugas menghibur sekaligus memberi pesan pada para karakter dan penonton untuk melangkah maju dari kesedihan walaupun dukanya masih menyelimuti.

Tak adanya figur sentral membuat karakter lainnya lebih menonjol. Angela Basset give it her all. Saat ada adegan Ramonda menumpahkan semua emosinya, rasanya membuat satu bioskop tertegun. Shuri pun diperlihatkan sisi lainnya di luar sebagai ilmuwan dan memegang peran penting bagaimana Wakanda harus bersikap melawan Namor yang ganas; Apakah dengan bijak seperti T'challa atau ada cara lain?

Implikasi politik dari keputusan para pemegang kekuasaan Wakanda, Talocan dan dunia bermain peran lebih di sini. Memberi bobot lebih pada misal adegan interaksi Namor dengan Shuri. It is as much about them as it is about the people. Bagaimana dua negara ini tak menahan diri dalam berkonflik sampai korban berjatuhan (banyak yang mati! Wow). Sampai sukit ditebak bagaimana masalahnya berakhir kalau efeknya begini fatal. Suspense nya lebih dari film pertamanya.

Namor nya Tenoch Huerta penuh amarah yang bisa meletus kapan saja tetapi tersembunyi di balik senyum dan ramahnya. Pandainya Tenoch memainkan sisi panas dan tenangnya ini beneran keren.

Waktu adegan menegangkan dengan Ramonda dan Shuri, senyum yang terkesan tulus dari Namor beneran mencekam karena sudah diperlihatkan sebelumnya kuatnya dirinya dan Talocan. Tapi dia tetap berkesan diplomatis. Seolah tinggal menjetikkan jari, Wakanda tiada. He succeed in posing a powerful image of a leader of a country even more powerful than Wakanda.

Kemudian ada Riri Williams (Dominique Thorne) si Iron Heart. Satu lagi jenius teknologi di MCU. Yang ini lebih muda, panikan dan jauh lebih nekat dari Tony Stark. Yang anehnya, meski dia diperlihatkan bisa membuat armor ala Iron Man, tak sedikit pun disebutkan si jagoan pertama MCU itu dari mulutnya sebagai inspirasi. Membingungkan aja.

Dengan naratif dan aksi di klimaks yang logika tempurnya masuk nan memuaskan secara drama, bahkan rasanya lebih baik dari film pertama, kualitas spesial efeknya mengherankan. Beberapa scene terlihat begitu murah efek background nya. Rasanya tak percaya yang demikian lolos masuk final cut.

Di kala acara streaming seperti RINGS OF POWER menyajikan efek indah, film besar tayang di bioskop seperti ini harus menunjukkan kelasnya supaya tidak memalukan dan membuat harga tiket masuk layak. Apalagi di saat mendatangkan penonton ke bioskop sedang sulit.

Rating SEMUA UMUR dari LSF gak cocok. Banyak profanity dan adegan penusukan yang vulgar. Serius, apa standar mereka sebenarnya? Marvel Studios juga mengherankan. Killmonger (Michael B Jordan) di film pertama yang lebih emosional justru kalah kotor mulutnya sama para karakter di sini. Padahal Killmonger berasa lebih berhak berkata-kata demikian. Gak paham standar PG-13 di amrik sekarang.

BLACK PANTHER: WAKANDA FOREVER adalah tantangan yang hampir mustahil. Sekuel tanpa bintangnya, harus eksplorasi akibatnya, tetap menghibur, berbobot dan tentunya ekspektasi bawah sadar penonton kalau sekuel harus lebih baik. The challange is accepted and it was aptly delivered.supaya tidak memalukan dan membuat harga tiket masuk layak. Apalagi di saat mendatangkan penonton ke bioskop sedang sulit.

Rating SEMUA UMUR dari LSF gak cocok. Banyak profanity dan adegan penusukan yang vulgar. Serius, apa standar mereka sebenarnya? Marvel Studios juga mengherankan. Killmonger (Michael B Jordan) di film pertama yang lebih emosional justru kalah kotor mulutnya sama para karakter di sini. Padahal Killmonger berasa lebih berhak berkata-kata demikian. Gak paham standar PG-13 di amrik sekarang.

BLACK PANTHER: WAKANDA FOREVER adalah tantangan yang hampir mustahil. Sekuel tanpa bintangnya, harus eksplorasi akibatnya, tetap menghibur, berbobot dan tentunya ekspektasi bawah sadar penonton kalau sekuel harus lebih baik. The challange is accepted and it was aptly delivered.

Trending

Exit mobile version