Event

Keseruan IDEAFEST 2024

Published

on

www.gwigwi.com – IDEAFEST kembali diadakan di Jakarta Convention Center. Dengan tema “i” yang bermakna ide, inovasi, integritas, dan inspirasi. IDEAFEST 2024 kembali mengisi khazanah ilmu masyarakat Indo dengan pembicara-pembicara inspiratif dan public figure yang menghibur.

Saya datang di hari kedua karena penasaran dengan malam puncaknya, yakni PODHUB dengan Deddy Corbuzier, Vidi Aldiano, Jirayut dan Halda, dan LOG IN bersama Habib Ja’far, Onad dan Mamat Alkatiri di panggung ruang Assembly 1.

Begitu sampai di media room, saya langsung makan konsumsi yang disediakan. Nasi box yang diberikan berasal dari komunitas peduli hutan gambut dan sungguh enak sekali. Sayang saya lupa nama makanannya.

PAPUA, LINGKUNGAN, CINTA, FILM DAN AI

Setelahnya, saya beranjak ke kelas-kelas yang akan dimulai. Mencoba mencari kelas Copywriting, tapi informasi yang diberikan di luar ruangan saat itu kurang jelas. Ruangan apa untuk kelas apa. Maka saya nekat saja masuk ruangan yang pintunya terbuka. Ternyata bukan kelas copywriting tapi lebih menarik.

CREATORS FOR CAUSE menampilkan Dokter Amira SpoG yang aktif menolong perempuan di ujung timur Indonesia, Papua dan Pandawara Group, kelompok peduli lingkungan yang viral karena membersihkan bermacam lokasi di Indonesia.

Dokter Amira, dengan semangat dan suara lantang tapi lembutnya, menceritakan pengalamannya mengurus wanita hamil yang tidak percaya dengan dokter. Lebih memilih melahirkan di rumah atau dengan “orang pintar,” yang berpotensi berbahaya untuk ibu dan bayi. Dia rela mendatangi rumah para ibu tersebut membawa alat-alat kesehatan seperti USG. Dia tidur dan makan bersama para ibu demi mendapatkan kepercayaan mereka.

Keseruan Ideafest 2024

Beliau sempat ditawarkan untuk mendapat keamanan baik dari polisi atau TNI, namun dia menolak. Mengatakan warga di sana merasa terintimidasi dengan kehadiran mereka. Dia tidak merasa tidak aman atau lelah dengan situasinya. Dengan penuh keyakinan ia berkata, “Ini jihad.”

Pandawara group terkesan seperti gerombolan anak muda biasa saja yang bisa ditemui sedang nongkrong di warung. Begitu mereka dengan santainya berbicara soal bagaimana mereka riset setahun sampai lima bulan sebelum beraksi, mengajak dan membayar warga lokal untuk membantu membersihkan lingkungan mereka sendiri dan senangnya mereka ada anak kecil menunjukkan buang sampah pada tempatya, mereka sungguh percaya dengan kegiatan mereka dari dalam hati bukan untuk pansos atau flexing.

Saat diundang ke Denmark, mereka diberi tahu kalau problem Indonesia sama dengan Denmark 60 tahun lalu.

Kemudian saya meluncur ke kelas KNOWLEDGE IS POWER yang diisi oleh Pater Charles Beraf dan Semi Ikra Anggara, pendiri Sekolah Seni Tubaba (SST).

Pater pernah mengajak mahasiswa kristen untuk praktek di pesantren selama 2 tahun untuk belajar dan mengenal Islam. Pendapatnya mengenai interkultural, sifat menghargai sekalipun berbeda, juga disetujui Semi Ikra. Dia juga berkata bila 2 orang yang berasal dari 2 negara konflik bisa bertemu, saling mencipta karya, perang bisa terhindarkan.

“Negara di seluruh dunia itu lebih senang membunuh daripada membela cinta,” ucapnya.

Di kelas SCRIPTWRITING the gear of indonesian film revolution, CEO dan produser dari Kawan-Kawan Kita, Yulia Evina Bhara mengajak audiens untuk memahami untuk siapa dan untuk apa naskah dibuat. Maka penulis jangan down bila naskah dikritisi dan relain saja suatu karya yang dipesan oleh brand.

“Harus se chill itu,” ucapnya.

Penulis skenario, Irfan Ramli, menyaranmkan kalau audiens bekerja dengan orang-orang yang melihat hal yang sama namun bukan berarti untuk selalu sepakat semua hal. Justru berbeda itu hal yang menarik. Di mana ada yang ngerjain dan ada yang men challenge,

“Karena kalau semua orang ngerjain, semua orang nyaman. ‘Ah gua udah oke nih’ terus oke deh berangkat, ternyata kita punya lubang besar yang ada di dalam dan itu sesuatu yang sering banget terjadi dan terus menerus berusaha buat diperbaiki”

Sejenak melipir ke kelas Balancing AI’s Role and Human’s Creation in Developing Creative Projects, di mana Ikhwanul Habibi, VP Strategi Konten dan Inovasi Kumparan dan jurnalis A. Diveranta, membahas peran Artificial Intelligence dalam pemberitaan.

Ikhwanul mengakui memang ada propaganda pemberitaan menggunakan AI seperti berita Palestina yang langsung di takedown. Begitupun berita tentang perang Russia tapi sebaliknya bila konten tentang Israel, konten tentang Ukraina itu aman-aman saja, yang memang dimanfaatkan orang-orang tertentu. Maka mereka kembali ke positioning mereka lsgi sebagai media itu.

Dia juga menyinggung jumlah subscriber New York Times, Washington Post dan lain-lain, dikarenakan orang-orang Amerika sangat bosan dengan konten-konten yang tersebar di sosmed yang tidak jelas.

Dia melanjutkan, sebagai media terverifikasi konten provider yang terpercaya memiliki proses yang sangat panjang di mana AI membantu proses tersebut.

“Karena setidaknya kami harus menjamin bahwa konten ini benar lah dan itu akan menjadi jawaban untuk publik”

Dia justru merasa diuntungkan oleh pengaburan informasi saat ini di mana kepercayaan publik akan kembali ke media mainstream.

“Kalau singkat ya sama sebenarnya…”

Saat mic berpindah ke Div yang disambut tawa audiens. Dia menyinggung kalau mereka menjalankan asas verifikasi yang panjang dan berprinsip jurnalistik.

“Seandainya tulisan bermasalah dan ada pihak yang disebut di tulisan dan merasa gak ini bisa gugat kami di dewan pers”

BUKA-BUKAAN CLASH OF CHAMPIONS

Clash of Champions Winning Formula: Meaningful Marketing to Achieve Digital Sensation and Drive Conversion

Clash of Champions (COC) adalah kompetisi matematika dan sains terpopuler tahun ini yang diadakan Ruangguru. Saking pecahnya, aplikasi Ruangguru sempat lebih tinggi peminatnya dibanding Tiktok.

Saking populer dan masuk ke audiens penonton, bahkan sampai ada guru-guru yang mendesain kegiatan belajar mirip dengan COC yang membuat anak-anak semangat belajar dan bagaimana para peserta COC kini memiliki banyak follower dengan total 20 juta di sosmed.

Keseruan Ideafest 2024

Iman Usman, Co-Founder & COO of Ruangguru, selaku salah satu kreator COC membagi beragam elemen yang menurutnya membuat acaranya sukses yakni; unscripted, intelektual, edukatif, entertainment, komunal, inspiratif, dll.

Konsep unscripted, menurutnya, membuat konten menjadi otentik karena para peserta adalah anak-anak yang telah dikarakterisasi sedemikian rupa dari storytelling hingga konek pada penonton, tetapi tetap diri mereka sendiri.

Iman menekankan pada pentingya pengolahan drama ini yang bermula dari casting process. Dipilih yang perjalanan hidupnya menarik dan punya cerita yang menggugah orang.

“Karena kalo cerdas cermat biasa, saya gak kenal, audiensnya biasa, saya tanya pertanyaan, orang jawab ya, ya udah gitu”

Faktor lain adalah mempertahankan keterlibatan penonton seperti para peserta COC yang kerap membuat postingan yang terus direspon positif oleh penonton. Contohnya live Tiktok yang dilakukan peserta Axel.

“Itu ditonton 140.000 concurrent (bersamaan, sejak dilihat terakhir hingga saat itu). Itu mungkin live Tiktok tertinggi tahun ini..”

Fakta lain yang dibuka Iman adalah dampak positif yang nyata seperti terlihatnya passion for learning (hasrat untuk belajar)

“Peningkatan learning motivation itu hampir 20% dan keinginan untuk mengejar mimpi itu bahkan meningkat hampir 30% dari timeline Clash of Champions”

Baru-baru ini Ruangguru baru mengadakan kompetisi sains yang pesertanya sebanyak 190.000 orang.

“Jadi ada 400% increase atau 4 kali lipat peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya”

SENI MERAYU TUHAN DIFILMKAN

Seperti 2 tahun lalu, Habib Husein Ja’far Al-Hadar kembali lagi dalam kelas ‘Seni Merayu Tuhan: Public God Speaking to Navigate Life’s Journey’

Dimulai dengan sensus kepada audiens apakah merasa doanya dijawab? Dan Seni Merayu Tuhan versi audiens?

Kemudian Habib menjelaskan definisinya soal God Speaking. Ternyata dari pengalamannya mengetahui kalau biaya les anjing lebih mahal daripada bayaran mengaji. Dia gak mempermasalahkan mengajar anjingnya,

“Cuman menjadi masalah kalau lu bayar dia lebih mahal dari lu bayar untuk lu bisa ngobrol dengan Tuhan”

Tambahnya lagi, orang membayar mahal untuk bisa public speaking tapi orang lupa belajar untuk God speaking,

“Padahal real hidup kita adalah saat kita bisa ngobrol dengan Tuhan”

Keseruan Ideafest 2024

Menurutnya terlalu banyak masalah yang tak bisa selesai dengan ngobrol dengan peliharaan, teman, pasangan dan ortu,

“Tapi semua masalah sebenarnya akan selesai kalau lu ngobrol dengan Tuhan, tapi kenapa lu mengabaikan itu? Lu gak pernah belajar gimana cara berbicara dengan Tuhan? Kenapa doa gua nyangkut terus nih? Kenapa doa gua tertunda terus? Kenapa hidup gw kayak tidak dikasihi oleh Tuhan yang kita percayai dia Maha Kasih? Maka kemudian gua berpikir kayaknya perlu deh ada God speaking, cara berbicara dengan Tuhan”

Agar ibadah tidak sekedar rutinitas atau ritualitas tapi ibadah tentang spiritualitas, tentsng kita merayu Tuhan kita agar hidup kita baik-baik saja.

Penjabaran Habib ini disambut tepuk tangan audiens yang memang sepertinya masih banyak memiliki penggemar, walau beliau sendiri tak merasa orang menyukai dirinya tapi apa yang dia sampaikan. Humble sekali.

Bedanya habib di kelas ini tidak sendiri. Bersama Produser Orchida Ramadhania dan penulis skenario Salman Aristo, diumumkan untuk pertama kali bahwa buku Habib, ‘Seni Merayu Tuhan’ akan difilmkan.

Produser Bu Uchida “menemukan” habib justru dari bukunya dan kaget saat mengetahui habib begitu terkenal. Bu Uchida juga kagum dengan isi bukunya

“Bisa dengan ilmunya menyampaikan sesuatu yang very relatable ke begitu banyak orang..”

Salman Aristo mengaku tertarik saat Bu Uchida dtg ke kantor bawa buku ‘Seni Merayu Tuhan’ yang memancing diskusi, dirasa punya signifikansi untuk zaman dan merasa memang harus difilmkan.

Salah satu core (inti) alasan pembuatannya adalah kepercayaan kalau tubuh itu dua; raga dan jiwa. Raga butuh pegangan seperti olahraga dan jiwa butuh keyakinan.

“Seni Merayu Tuhan berbicara (soal raga dan jiwa tersebut) pada tataran yang lebih grounded lagi”

Sebagai pendakwah, Habib Ja’far selalui ingin meluaskan jangkauan positif dakwah dan film ini adalah langkah selanjutnya setelah menulis dan ber-Youtube. Dia juga menyadari ada kritisi pada agama di film-film dan melihat perbedaan pandangan pada religi di film Indonesia dulu dan sekarang.

“Memang ada problem dari keberagamaan sebagian orang Indonesia yang cenderung formalistik dan itu ditolak oleh orang-orang yang ingin merasakan Islam secara substantif. Nah dua ini gak akan ketemu nih.”

Maka Habib mengajak Bu Uchida dan Salman Aristo membuat film religi yang ditengah, moderat dan toleran. Menghadirkan Islam secara substantif terlepas dari atribut, juga tetap dan berperan dalam hidup kita asalkan bisa memposisikannya.

“Juga tidak hanya terjebak pada romantika-romantika formalistik tentang hanya, o film religi tu hanya menampilkan orang tiba-tiba sujud, sholat gitu. Tidak hanya menampilkan aspek-aspek itu. Semoga berhasil untuk mendapatkan film yang seperti itu”

Bu Uchida juga ingin film tetap entertaining dan substantif. Habib juga ingin memperjuangkan rasa komedinya di film. Bu Uchida dan Salman memastikan film bisa dinikmati baik oleh muslim dan non-muslim.

Habib bahkan ingin saat filmnya rilis XXI menjadi tempat ibadah lol.

Merangkum semua karya habib dari awal menjadi content creator.

MALAM PODHUB DAN LOG IN

Sampai juga pada malam puncak hari kedua. Antriannya mengular panjang, menunjukkan besarnya antusias audiens sampai media juga harus ikut antri.

Begitu sudah duduk, datanglah Vidi Aldiano naik kuda ala kuda lumping. Sesuatu yang dikatakan Vidi dan diconfirm Deddy sebagai sesuatu yang last minute tanpa ngasih tahu si penyanyi. Fun stuff.

Kemudian masuk Halda dan Jirayut yang bikin makin ramai saja. Saya gak familiar dengan Jirayut, komedian asal Thailand itu, tapi melihat celetuknya dan gaya bicaranya, jadi paham kenapa dia terkenal.

Terkecuali bit aksi sulap Deddy dibantu Jirayut yang cerdas nan lucu, saya kurang paham jokes PODHUB. Para fans sekitar saya sepertinya tetap bisa menikmati.

Sayangnya, sesi LOG IN Habib Ja’far, Onad dan Mamat Alkatiri dimulai terlalu malam sampai penonton sudah lelah dan banyak yang pulang saat diminta untuk keluar selagi ruang dipersiapkan.

Lantaran sudah terlalu larut malam dan batere hp sudah mau merah, saya terpaksa meninggalkan JCC. Semoga di lain waktu, acara bisa lebih baik dalam management waktu.

Overall, IDEAFEST 2024 masih tetap bisa memuaskan dahaga ilmu dan hiburan yang jarang bisa ditawarkan di event-event lain. Berkumpulnya para pelaku aksi positif, pemikir dan tokoh dunia hiburan di satu atap seolah representasi kumpulan kekayaan intelektual Indo sekarang yang sayang bila dilewatkan. Moga berikutnya lebih baik lagi.

Sampai jumpa di IDEAFEST 2025! Semoga..

Trending

Exit mobile version