Teknologi
Seminar CompFest 8: Kemudahan dalam Menggunakan Google Design Sprint
GwiGwi.com – Terkadang saat merancang dan membuat suatu produk, kita masih sering mengalami kesulitan dalam mendesain agar produk tersebut dapat berjalan danberfungsi dengan baik. Tidak jarang produk yang telah dibuat menjadi tidak tepat sasaran.
Melihat hal itu, Sabtu (24/9) CompFest 8 kembali menyelenggarakan seminar dengan tajuk Validate Your Design/Business Ideas Rapidly with Google Design Sprint di Auditorium Gedung D Rumpun Ilmu Kesehatan UI. Google Design Sprint merupakan metode yang dikembangkan Google untuk membuat suatu produk yang baik dalam waktu dua sampai lima hari. Bersama Borrys Hasian, Google Expert in UI/UX, para peserta diajak untuk dapat menerapkan design thinking dan design sprint dengan baik. Ia menjelaskan bahwa desain bukan hanya sebuah seni, tetapi desain juga harus meaningful. Para developer harus tahu calon user sebelum mencari solusi untuk dikembangkan menjadi sebuah produk. Tentunya, semua itu dilakukan agar produk yang dihasilkan dapat berguna dengan baik.
6 Stages in Design Sprint
Dalam seminar ini, Borrys menjelaskan 6 tahap design sprint. Tahap pertama adalah understand. Ia menjelaskan bahwa kita harus memahami apa yang user butuhkan dan juga kapasitas teknologi pada saat itu. Tahap selanjutnya adalah define. Pada tahap ini, kita mulai menentukan strategi dan fokus masalah yang ingin dicari solusinya.
Kemudian dilanjutkan pada tahap ketiga, yaitu diverge. Diverge adalah tahap dimana kita mencari-cari ide solusi dari masalah yang telah ditentukan sebelumnya. Di tahap ini, Borrys mengajak seluruh peserta seminar untuk membuat sketsa tampilan dari sebuah aplikasi yang dapat membuat para perokok mengurangi frekuensi merokoknya. Peserta diminta untuk membuat delapan ide berbeda hanya dalam delapan menit atau yang sering disebut crazy 8.
Setelah membuat sketsa tersebut, masuk lagi ke tahap berikutnya yaitu decide. Biasanya dalam sebuah perusahaan tahap decide ini dilakukan dengan menggunakan voting. Ide maupun solusi yang paling baik dan menarik akan menjadi winning sketches yang akan diubah menjadi storyboard.
Tahap selanjutnya adalah membuat prototype dari storyboard yang telah dibuat sebelumnya. Borrys mendemokan cara membuat prototype sebuah aplikasi hanya dalam waktu beberapa menit menggunakan Keynote. Menurutnya, prototype tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk dibuat, setidaknya prototype tersebut real enough to feel. Tahap terakhir dan juga tahap yang paling penting adalah validate. Pada tahap ini, prototype yang telah dibuat akan diujicobakan kepada beberapa orang. Mereka diminta berinteraksi dengan prototype tersebut untuk mengetahui feedback setelahnya. Jika masih ada beberapa kekurangan maka akan dilakukan perbaikan pada prototype dan dilakukan kembali uji coba. Sehingga, hasil akhir dari produk tersebut pun dapat berguna dan tepat sasaran.
Melihat antusiasme peserta yang hadir, Borrys berharap the next generation di Indonesia tidak hanya terus menerus menjadi pengguna dari kemajuan teknologi yang sedang berkembang pesat saat ini. Tetapi, mereka harus memiliki mindset seorang maker. Mereka harus dapat membuat solusi dari masalah-masalah yang ada di masyarakat dan juga dapat menggerakkan perekonomian Indonesia.
“If you’re working towards solutions, it will lead you into something big.”