Manga

Review Manga Poyo Poyo Volume 3

Published

on

Judul asli : Poyo Poyo Kansatsu Nikki
Judul : Poyo Poyo vol 3
Pengarang : Ru Tatuki
Pengalih bahasa : Adriani H
Diterbitkan : pertama kali tahun 2013
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Silakan baca manga ini juga di MangaMon

Sinopsis
Keluarga Sato kedatangan tetangga baru!! Pasangan suami-istri muda dari kota. Ternyata sang istri sangat nggak suka binatang. Termasuk kucing. Lalu, saat tiba-tiba Poyo masuk ke pekarangan kebunnya, sang istri malah mengira kalau Poyo adalah ‘hewan keramat' Tsuchinoko..!! Nah, lho!?

Review
Pada volume 3 Poyo Poyo, komik yang menceritakan keseharian dari kucing bulat dan Moe, kali ini menceritakan hal-hal yang terjadi saat tahun baru berlangsung hingga sesudah tahun baru. Banyak hal baru yang bisa di pelajari misalnya mengenai tradisi tahun baru orang Jepang, kebiasaan hewan, hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan hewan. Di volume 3 juga diceritakan saat pindahan dari kota (tetangga Moe) yang gemar berkebun namun tidak menyukai kucing. Selain itu ada juga tambahan dari pengarang, edisi tentang kucingnya Muu dan anjingnya Saku saat pertemuan pertama. Dari saat Saku mengira Muu (yang masih bayi) adalah mainan dan menggigitnya hingga saat akrab.

Pada salah satu halaman terdapat sedikit keganjilan pada terjemahannya, misalnya saat Hide mengatakan ‘Setelah itu, hati-hati kalau menyemprot kamar dengan baygon. dia bisa mati'. Baygon sendiri adalah merk dari obat pembasmi serangga.

Seperti volume-volume sebelumnya pada setiap perubahan chapter biasanya Poyo dimiripkan dengan sesuatu. Misalnya “Poyo Sato kucing yang bagaikan balon yang melompat dan memantul” (halaman 82), merupakan salah satu cara bagi penulis untuk melanjutkan cerita. Dan karena ini merupakan komik 4 panel, ceritanya lebih mirip diary/buku harian.

Tokoh sampingan yang bertambah ialah Keluarga Tanaka yang berasal dari kota, sang istri (Yuka) yang tidak menyukai hewan namun gemar berkebun, kini tinggal di desa mau tidak mau harus berhubungan dengan hewan terutama serangga dan Poyo. Sifat Yuka yang selalu berusaha untuk optimis membuatnya menganggap Poyo adalah Tsuchinoko (sejenis ular yang berada didalam dongeng). Hal itu sempat membuatnya bingung karena Poyo memiliki bulu sedangkan tsuchinoko (yang merupakan sejenis ular) seharusnya adalah reptil yang bersisik, seperti sebelumnya karena terlalu optimis ia bahkan menjadi bertambah salah paham mengenai Poyo.

Tokoh-tokoh lainnya juga tambah dimengerti karakternya seperti Hide yang mulai tampak perhatian pada Poyo, Moe makin tampak sangat sayang Poyo, Ayah Moe (Tsutomu) yang sangat menyayangi hewan;over protective padaa moe; dan sayang istri, lalu Tsukudani (anjing maki) yang sangat suka makan, hingga kurobe yang terbukti homo.

Beberapa halaman di hadir kan dalam halaman warna. Penggambaran dari Ru Tatuki tidak ada yang berubah, konsisten, baik dari penggambarannya ataupun cara penyampaian ceritanya­­­. Karena kekonsistenannya Ru Tatuki jadi memiliki style / gaya nya sendiri dan tentu saja akan menjadi ciri khasnya.

Secara keseluruhan, ceritanya yang stagnan terkadang membuat terasa agak bosan, tapi sebenarnya karena ini memang seperti buku harian, pembaca dibuat ikut merasakan keseharian mereka, melihat sikap Poyo yang lucu, cukup menyenangkan. Saat santai nggak ada kerjaan, membaca komik ini tentu bukan pilihan yang buruk. Rekomendasi penuh untuk penyuka kucing, anjing, ataupun penggemar slice of life + Comedy.

Trending

Exit mobile version