TV & Movies

Review Film Warfare, Realitas teror, kacau dan konyolnya perang

Published

on

www.gwigwi.com –

Sekelompok tentara; Sam (Joseph Quinn), Erik (Will Poulter), Tommy (Kit Connor), Ray (D’Pharaoh-A-Tai), Frank (Taylor John Smith), Brian/Zawi (Noah Centineo) dan lainnya, sedang kegirangan menonton video klip seperti anak-anak SMA di markas yang terang benderang.

Kontras dengan gelapnya malam, disiplin dan senyapnya saat mereka melakukan operasi. Keputusan untuk main ambil rumah orang untuk dijadikan markas, dan menjebol dinding rumah tanpa izin, langsung bercerita sisi arogan militer Amerika tanpa banyak bicara.

Review Film Warfare, Realitas Teror, Kacau Dan Konyolnya Perang

Ya, WARFARE tidak memiliki build up cerita ala Hollywood standar dengan mengenalkan latar belakang satu-persatu tentaranya, tetapi langsung menaruh penonton di situasi perang; menunggu, baku tembak dan teriakan tentara terluka.

Dialog ala soap opera drama diganti dengan beragam istilah militer untuk mengawasi sekitar tempat bersembunyi, kode untuk bergerak bersama dan meminta bantuan melalui radio. Konsisten menunjukkan realisme perang.

Review Film Warfare, Realitas Teror, Kacau Dan Konyolnya Perang

Meski tak banyak dialog, suspense peperangan selalu jelas, selalu meningkat ketegangannya dan selalu asik ditunggu apa yang akan terjadi berikutnya.

Sutradara Alex Garland sebelumnya mendirect CIVIL WAR, yang memiliki adegan perang mumpuni berkesan realistis, ngegas lebih lagi untuk WARFARE. Tidak sendiri, dia ditemani Ray Mendoza, di mana ide cerita film berasal dari pengalamannya di Perang Irak. Kaya akan desingan peluru, teriakan baik perintah atau permintaan tolong, ledakan yang membuat kuping berdengung lama dan terpojoknya mereka dihujani pelor dari bermacam sisi.

Review Film Warfare, Realitas Teror, Kacau Dan Konyolnya Perang

Adegan perang di WARFARE saat sedang panasnya, bisa membuat meringis melihat tentara terluka parah, lelah dengan gaduhnya serangan dari bermacam arah dan merasa tidak pasti karena kacaunya situasi. Sehabis nonton, rasanya masih ada debu bekas baku tembak menempel di baju dan masih terngiang riuhnya perang.

Itulah yang..wah dari WARFARE, kuat visualnya justru bercerita banyak dibanding film perang lain yang banyak mulut.

Dari intensnya situasi hidup dan mati bisa dipahami para tentara ini sangat akrab dengan satu sama lain bak saudara kandung; bagaimana mereka melihat rumah warga sebagai objek militer tanpa mempedulikan pemilik rumah setuju atau tidak; jenuh dan lelahnya harus selalu siap kapan pun juga mengawasi sekitar dan yang paling menariknya; dan paling..wah ternyata dengan segala banyaknya personil, pesawat tempur, intel, peralatan militer dan tank, tak menjamin mereka aman, bahkan unggul dari musuh.

Review Film Warfare, Realitas Teror, Kacau Dan Konyolnya Perang

Ending film ini memiliki kesimpulan yang bisa dibilang black comedy (komedi dari situasi yang justru serius) yang benar-benar lucu mengenai efektif atau tidaknya perang di timur tengah dan imbasnya untuk warga lokal. Contoh bahwa WARFARE memberikan begitu banyak warna dan kedalaman hanya dari sebuah situasi konflik di daerah kecil.

Melihat penderitaan satu tentara yang terluka parah, tak terbayang penderitaan warga sipil Palestina yang dibombardir teror. Tentara memiliki prosedur untuk personilnya yang terluka, bagaimana daerah yang ambulans kerap diserang dan rumah sakit dibom? Hmm…

Trending

Exit mobile version