Box Office

Review Film Toy Story 4, berhasil membuat kita nangis lagi?

Published

on

GwiGwi.com – Pasca hati penonton teriris-iris di Toy Story 3 (2010), ternyata menjadi awal yang baru bagi Woody dan kawan-kawan. Belakangan ini Woody sering tidak diajak Bonnie pemilik baru nya, ia lebih sering bermain bersama Buzz dan Jessie.

Bonnie telah memasuki usia taman kanak-kanak, hal Ini menjadi suatu hal yang baru bagi dirinya. Ia merasa takut bersosialisasi dengan teman di sekolahnya.

Lewat bantuan Woody yang menyelinap di tas Bonnie, ia membuat prakarya berupa mainan yang dibuat dari sendok garpu dan diberi nama Forky.

Woody pun memperkenalkan Forky ke teman-teman mainan yang lain. Namun Forky belum paham mengenai arti menjadi sebuah mainan dan ia ingin sekali membuang dirinya ke tempat sampah.

Hingga suatu hari keluarga Bonnie melakukan roadtrip dan membawa semua mainannya. Hingga suatu saat Forky kabur dan mau tidak mau Woody harus menyelamatkan Forky demi Bonnie.

Dalam pencarian forky pun, Woody bertemu dengan mainan baru serta teman lama yang ia rindukan. Lantas apakah Woody bisa menyelamatkan Forky?

Toy Story 4 yang digarap oleh Josh Cooley dan naskah yang dibuat oleh Andrew Stanton membuat hal yang belum kita pernah kita lihat sebelumnya dalam sebuah Film animasi, yaitu bahwa setiap akhir adalah awal yang baru.

Ya, kita bisa melihat bahwa kita Ini membawa kita ke petualangan yang baru dari Woody dkk bersama pemiliknya yang baru yaitu Bonnie.

Di awal film, kita sedikit diajak bernostalgia ketika Andy bermain dengan para mainan serta ada adegan penting dimana Woody dan Bo Peep berpisah. Disini menjelaskan alasan absennya karakter Bo Peep di Toy Story 3.

Lalu kita disajikan dengan lantunan lagu “You’ve got a friend in me” yang membuat kita merinding dan nostalgic.

Toy story memang memiliki kekuatan tersendiri untuk membuat penonton tertawa. Setiap karakter di film ini memiliki ciri khas masing-masing, seperti ketulusan hati Woody yang ingin membuat seluruh mainan aman dan membuat pemiliknya senang, hingga Buzz Lightyear yang seolah olah kehilangan arah dan ingin mendengarkan suara hatinya.

Serta karakter baru Forky yang merasa dirinya sampah, dan lebih memilih tinggal di tempat sampah yang menurut ia adalah tempat yang nyaman.

Ada lagi Ducky dan Bunny karakter boneka kelinci dan bebek yang diisi suaranya oleh Keegan-Michael Key dan Jordan Peele mereka adalah mainan hadiah di permainan karnaval Yang pengen punya pemilik seorang anak. Tapi memiliki tingkah laku yang konyol serta suka berimajinasi yang jatuhnya hiperbola dan membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal.

Lewat film Toy Story kita bisa menyimpulkan bahwa tidak ada mainan yang jahat, mereka hanya korban sakit hati.

Layaknya Lotso di film sebelumnya, karakter baru di film ini yang terlihat jahat adalah Gabby Gabby dan Benson. Namun setelah melihat filmnya ada kisah terselubung yang membuat kita nyesek.

Ya everything happens for a reason, hal Ini juga terjadi dengan Bo Peep teman lama Woody dan terjadi perubahan karakter di dalam diri Bo Peep, ia berubah menjadi karakter perempuan tangguh.

Terlihat disini bahwa, Disney sedang mengampanyekan girl empowerment yang menjadi isu segar saat Ini.

Satu lagi, karakter Duke Caboom yang diisi suaranya oleh Keanu Reeves juga berhasil menghibur dengan kebolehan atraksi motornya.

Soal visualnya, film animasi Disney dan Pixar Ini tidak perlu diragukan lagi, dengan memakan waktu puluhan bulan dan tuker guling tahun perilisan dengan The Incredibles II hasilnya menjadi animasi yang memanjakan mata dan membuat karakter para mainan lebih hidup.

Tone warnanya pun dibuat sesuai dengan mood filmnya, komposisi seimbang antara feel petualangannya dan sedikit horror namun tetap ramah untuk anak-anak.

Secara keseluruhan, Film Toy Story 4 kali Ini enggak perlu dialog Berat dan adegan serius untuk membuat penonton ngena akan pesan yang terkandung dalam film ini. Toy Story 4 berhasil menyampaikan makna keikhlasan, kebebasan, dan kebahagiaan dengan sederhana.

Lewat dialog dan mimik para karakternya bisa tersampaikan ke penonton dewasa maupun anak-anak.

Apalagi buat yang tumbuh kembang bersama Toy Story sejak film pertamanya di tahun 1995, pasti memaknai film Ini lebih dalam.

Mungkin saja akan sulit mempertahankan franchise film selama 24 tahun, tapi Toy Story berhasil membuktikannya. Walaupun gak serevolusioner film pertama dan klimaksnya di film ketiga, Film Ini masih punya kekuatan magisnya tersendiri.

Film ini juga berakhir dengan pesan tentang pertumbuhan dan penerimaan, akan menjadi akhir yang manis untuk keseluruhan kisah para mainan yang hidup jika tidak ada pemiliknya.

So long buddy, to infinity and beyond.

Trending

Exit mobile version