TV & Movies
Review Film The Lord of the Rings: The War of the Rohirrim, Cinta Ditolak Pedang Bertindak
www.gwigwi.com – Akhirnya spin off Lord of The Rings rilis juga. Termasuk dari niat Warner Bros untuk lebih memanfaatkan franchise yang dicintai ini, maka muncullah WAR OF ROHIRIM. Menariknya dalam bentuk animasi.
Sesungguhnya presden yang bagus berani merilis animasi dari IP terkenal karena menunjukkan niat studio untuk lebih kreatif dalam mengembangkan franchisenya. Kalau berhasil, boleh jadi ditiru oleh franchise sukses seperti MCU atau membuat DCU semakin pede lebih berkreasi.
Review Film The Lord Of The Rings: The War Of The Rohirrim, Cinta Ditolak Pedang Bertindak
Namun pada akhirnya, apakah WAR OF ROHIRIM mempunyai kualitas mumpuni layak bersanding kisah ikonik utamanya?
Hera (Gaia Wise) adalah putri satu satunya Helm Hammerhead (Brian Cox), Raja Rohan. Teman masa kecilnya, Wulf (Luke Pasqualino), menaruh hati dan meminangnya. Ditolak dan ditambah kejadian naas lain, Wulf menaruh dendam pada keluarga Hera. Pecahlah perang di tanah Rohan.
Boleh saja memiliki protagonis perempuan, tetapi apakah harus plotnya selalu tentang independensi dan hak kebebasan perempuan juga soal menghadapi lelaki sedeng atau toxic masculinity?
Review Film The Lord Of The Rings: The War Of The Rohirrim, Cinta Ditolak Pedang Bertindak
Rasanya apa yang dihadapi Hera sudah berkali-kali dipentaskan di berbagai film dan seri hanya beda genre dan latar saja. Maka terasa membosankan dan redundan, bukan menjadi sebuah terobosan yang diinginkan.
Hera sendiri pun tidak memiliki karakteristik unik yang bisa memoles cerita lebih segar. Reaksinya akan situasi mudah sekali ditebak, maka cerita menjadi predictable. Hal yang juga diderita hampir, kalau bukan semua, karakter di WAR OF ROHIRIM ini.
Review Film The Lord Of The Rings: The War Of The Rohirrim, Cinta Ditolak Pedang Bertindak
Secara presentasi animasi dan voice acting film leave a lot to be desire. Banyak hal dramatis penting konflik dua karakter malah tidak memperlihatkan ekspresi keduanya dengan detil. Membuat drama kurang menghujam. Voice acting pun sering terasa datar, seperti membaca skrip saja di bilik suara.
Detil-detil audiovisual animasi yang tampaknya sudah lumrah dinikmati serial anime, bahkan yang kurang populer sekalipun, seakan lupa dichecklist WAR OF ROHIRIM. Membuat bingung standar kualiti apa yang menjadi patokan film animasi ini.
Tentu apresiasi tetap harus diberikan pada banyak gambar cantik dan animasi yang jelas gambaran tangan bukan komputerisasi. Sesuatu yang langka dilihat di layar lebar.
WAR OF ROHIRIM berakhir sebagai animasi standar berlatar dunia fantasi super populer dengan refrensi kisah lain yang lebih superior. Bila arah ini yang dicari Warner Bros untuk mengembangkan LOTR ke depannya, Wah.