Box Office
Review Film The Invisible Man, Teror Kejam si Tak Terlihat
GwiGwi.com – Semenjak kegagalan demi kegagalan hasil adaptasi monster klasik Universal Studios seperti DRACULA UNTOLD (2014) dan THE MUMMY (2017) tentu trailer pertama dari THE INVISIBLE MAN (2020) mengundang rasa skeptis yang tinggi. Terkesan kalau Universal ingin hanya sekedar menghadirkan si manusia kasat mata di modern tanpa punya sentuhan lain. Hanya menggantikan hantu dengan si “monster”nya. Saya sangat-sangat salah. Film ini berhasil memodernkan formula horror klasik, membawakan tema toxic relationship yang akan selalu relevan dengan baik, dan nominasi oscar untuk Elizabeth Moss? Bisa jadi, bisa jadi.
Cecilia (Elizabeth Moss) berhasil melarikan diri dari pacarnya yang kejam, Adrian Greene (Oliver Jackson-Cohen), miliarder dan ilmuwan di bidang optik. Namun memori hubungan traumatik tersebut tak langsung pergi. Cecilia hidup dalam ketakutan di rumah temannya, James (Aldis Hodge) dan anak James, Sydney (Storm Reid), sampai sekedar mengambil koran di luar terasa berat. Saat Cecilia mengira hari baru yang lebih baik dimulai, beragam peristiwa membuatnya yakin adanya ancaman yang tak terlihat.
Di film INVISIBLE MAN (1933), film monster klasik favorit saya, terdapat adegan saat beberapa karakter berbicara soal bahaya dari Griffin/Invisible Man (Claude Rains) dan bagaimana dia bisa saja di ruangan itu, saat itu juga mendengarkan mereka. Gimmick inilah yang dimaksimalkan sutradara Leigh Wannel di adaptasi terbaru Invisible Man ini hingga sekedar shot sudut ruangan yang kosong bahkan saat ada banyak orang terasa mengerikan.
Cara Leigh menampilkan teror tidak dengan frontal nan agresif tetapi lebih perlahan dan meminimalisir pergerakan kamera, membiarkan aksi Invisible Man sendiri yang berbicara tanpa banyak interupsi potongan editing; seperti saat adegan Cecilia memasak di dapur. Begitu Cecilia keluar frame, kamera tidak mengikutinya melainkan tetap menyorot dapur dalam long take seperti di seri film Paranormal Activity. Dari dapur yang terlihat normal ini keganjilan seperti pisau yang jatuh menghilang tanpa suara dan kompor yang memanas sendiri tampak mencolok.
Meskipun aksi si “monster” ini begitu kreatif dan tulen menyeramkan, THE INVISIBLE MAN berpotensi sekali menjadi film horor rutin yang mudah ditebak, namun penekanannya pada efek psikologis si korban yang membuatnya tetap segar dan unik. Memfokuskan pada apa akibat perbuatannya sedari pada bagaimana wujud penebar terornya. Karena “monster”nya tidak terlihat, akting Elisabeth Moss ini berfungsi besar menjual keseraman efek dari aksinya. Diperlihatkan efek aksi si manusia kasat mata ini yang berimbas besar pada batin Cecilia. Membuatnya terlihat delusional dan pada akhirnya putus asa yang membuatnya dianggap gila oleh orang di sekitarnya.
Teror-teror yang si “monster” seolah perwujudan dari sifat mantan kekasihnya yang posesif seperti tidak ingin Cecilia mempunyai karir sendiri atau mandiri, membuatnya dibenci keluarga dan dijauhi teman. Bagai ingin Cecilia menderita karena sudah pergi dari si mantan. Bahkan kostum si manusia kasat mata yang penuh lensa ini seolah mengesankan Adrian yang ingin mengamati dan mengontrol semuanya.
THE INVISIBLE MAN mungkin adalah contoh langka suksesnya horor yang bisa jadi dianggap kuno dirubah menjadi kontemporer tapi tetap menyeramkan. Saya jadi penasaran bagaimana monster-monster klasik Universal lain bila mengikuti pola yang sama. Apa 2 bersaudara yang berburu di antah berantah lalu salah satu digigit serigala dan pelan-pelan jadi manusia serigala/Werewolf? Atau Dracula yang mencari mangsa di Hollywood? So gwiples buat kalian yang menyukai film horror maupun meyukai si Invisible Man nya sendiri Film yang satu ini wajib kamu tonton!