TV & Movies
Review Film Smile, Senyum membawa Petaka
GwiGwi.com – Senyum. Senyum aneh yang seolah menertawakan Rose (Sosie Bacon) adalah hal terakhir yang dia lihat Laura (Caitlin Weaver) lakukan sebelum gadis itu menggorok lehernya sendiri. Laura kemudian tergeletak bersimbah darah dengan senyum tetap merekah.
Mengejutkan namun Rose pikir semua selesai, tapi dia mulai melihat senyum aneh itu di terpasang di orang sekitarnya dan bahkan di orang yang sudah mati saat dia sendirian. Stres, Rose mencoba menguak apa maksud di balik senyum itu sebelum semua terlambat.
SMILE memiliki ide absurd di mana senyum yang secara agama adalah ibadah menjadi teror. Ide yang konyol bila hanya mengandalkan itu sebagai scare tapi menariknya film ini menitikberatkan pada psikologis penderitanya. Bagaimana Rose berubah dari dokter psikologi yang tenang dan rapih penampilannya menjadi panikan nan dikuasai cemas yang berantakan tampilan mau pun hidupnya. Sayang logika terornya tak mendapat treatment yang imbang.
Aturan main dari horrornya begitu tidak jelas. Sebelumnya diberitahu kalau Rose bisa melihat senyum ngeri tu di berbagai situasi. Oke, namun tetiba si syaitonnya bisa memberikan ilusi yang luar biasa tipuannya seperti genjutsu sharingan di Naruto. Lain waktu si Syaiton sudah mendapat korbannya tapi dilepas begitu saja di scene berikutnya. Seakan film membuat buat aturannya sendiri yang penting ada adegan seram. Banyak jump scare yang menyebalkan menjadi produk pemikiran itu. Ya, pengadeganannya banyak yang menarik nan mencekam, tapi isinya begitu kosong dan berlogika tak jelas.
Horor tak tentu aturan ini berefek pada isu trauma yang diangkat. Tentu sulit untuk korban berusaha tenang, membagi pikiran dan meminta bantuan orang pada teman bila kemampuan si syaiton begitu hebatnya sampai menutup kemungkinan itu. Berkesan SMILE memiliki pesan nihilis untuk para penderita kejadian kelam di masa lalu; anda tak bisa lari dan anda tak bisa sembuh, jadi berbagi aja kesakitan ini sampai orang juga merasakan deritanya.
SMILE boleh jadi salah satu lagi usaha hollywood untuk membuat franchise horor melihat dari endingnya. Tapi dari usahanya mendepiksikan penderita trauma agaknya endingnya begitu jomplang dengan niat mulia itu. Everything for “a scare for a buck and more bucks to come” i guess.
Strong, strong language and gore. Definitely R rated.