Box Office
Review Film Satria Heroes: Revenge of Darkness, film layar lebar tokusatsu pertama hasil kerjasama Indonesia dan Jepang
GwiGwi.com – Siapa yang tidak kenal dengan Satria Garuda Bima-X ? Iya serial tokusatsu buatan Indonesia yang bekerjasama dengan Ishimori Production. Rumah produksi dari Jepang yang menelurkan karya tokusatsu seperti Kamen Rider dan Super Sentai.
Satria Garuda Bima sendiri serialnya sukses dengan dua musim yang tayang di salah satu TV swasta dan berhasil menjadi tayangan untuk anak-anak di Indonesia karena negara kita sudah lama tidak ada acara televisi yang khusus untuk anak-anak.
Pasca kesuksesan serialnya, banyak fans genre tokusatsu yang meminta agar Satria Heroes ini memiliki film layar lebarnya sendiri sama seperti Kamen Rider dan Super Sentai yang setiap tahun ada film layar lebarnya di negara asalnya.
Keinginan tersebut terkabul, maka muncul lah film layar lebar tokusatsu buatan Indonesia dan Jepang dengan judul Satria Heroes: Revenge of Darkness.
Bercerita 1 tahun setelah serial Satria Garuda Bima-X berakhir, bumi kembali damai. Ray Bramasakti bersama Rena berada di dunia paralel untuk menghancurkan sisa-sisa kerajaan Vudo dan mengembalikan dunia paralel menjadi tempat yang damai.
Bumi dijaga oleh Satria Harimau Torga atau Dimas Akhsara yang melebarkan bisnisnya ke Jepang. Namun kedamaian tersebut tidak berlangsung lama dikarenakan musuh baru muncul dan Dimas menjadi korbannya.
Ray pun harus kembali ke bumi untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, kemudian musuh lama pun kembali untuk membalaskan dendam kepada para Satria serta ingin menghancurkan bumi.
Langsung ke filmnya, masih dibintangi oleh pemain serial Satria Garuda Bima seperti Chris Loho, Stella Cornellia, Adhitya Alkatiri, Rayhan Febrian, Fernando Surya dan ditambah oleh Yayan Ruhiyan aktor Indonesia yang terkenal lewat film The Raid dan sempat bermain di film Star Wars: The Force Awakens sebagai Tasuu Leech.
Film ini terbagi menjadi tiga part cerita yang saling berkaitan. Semua yang menjadi pertanyaan di serial TV nya akan terjawab disini.
Untuk visual efeknya, menurut gue ada part bagus dan ada part kurangnya. Maklum karena ini film tokusatsu pertama di Indonesia dan kita “learn from the expert” yaitu Jepang yang telah mempopulerkan genre tokusatsu terlebih dahulu.
Tapi gue sangat suka dengan part ketika Satria Garuda Bima dan Torga berubah di film Ini karena mereka berubah dari human form ke bentuk Satria dengan sangat apik yaitu bagian per bagian, untuk porsi adegan fighting-nya cukup digarap dengan baik.
Ohhh Iya, jangan buru-buru keluar dari studio karena ada dua post credit scene yang mengindikasikan apa yang akan terjadi di serial Satria Heroes selanjutnya.
Secara keseluruhan, film ini memang dikhususkan untuk semua umur dan cocok untuk ditonton bersama keluarga, anak-anak, atau keponakan anda. Sudah lama perfilman Indonesia tidak memiliki genre yang ditujukan khusus untuk anak-anak dan semua umur, dan film ini bisa menjadi awal yang baik untuk industri perfilman Indonesia dengan genre superhero atau dengan tema kepahlawanan.