TV & Movies
Review Film Para Perasuk (2026): Pesta Kerasukan yang Menghanyutkan
Berlatar di Desa fiktif bernama Latas, film ini mengikuti perjalanan Bayu (Angga Yunanda). Di desa ini, fenomena kerasukan roh hewan bukan dianggap sebagai teror mistis atau gangguan setan, melainkan sebuah pesta rakyat dan sarana rekreasi. Masyarakat memilih untuk “dirasuki” sebagai bentuk pelarian dari realitas ekonomi yang kejam—sebuah cara untuk menemukan kebahagiaan yang tidak bersifat fisik.
Bayu berambisi menjadi “Perasuk Utama” demi menyelamatkan sumber mata air desanya yang terancam. Namun, perjalanan ini membawanya pada pemahaman bahwa menjadi perasuk bukan sekadar soal keberanian, melainkan tanggung jawab besar atas kepercayaan kolektif masyarakatnya.
Setelah sukses dengan Penyalin Cahaya (2021) dan Budi Pekerti (2023), Wregas Bhanuteja kembali mengukuhkan posisinya sebagai “arsitek” sinema sosial Indonesia lewat Para Perasuk.
Namun, kali ini ia melangkah lebih jauh ke wilayah drama supernatural yang eksperimental, memadukan realitas pedesaan dengan fantasi yang ganjil namun memikat.
Meski melibatkan 20 jenis roh hewan (seperti bulus, semut, hingga kerbau), Para Perasuk tidak menggunakan jumpscare.
Film ini adalah drama supernatural yang menggunakan elemen mistis sebagai metafora tekanan sosial dan keinginan manusia untuk lepas dari beban hidup.
Review Film Para Perasuk (2026): Pesta Kerasukan Yang Menghanyutkan
Wregas, bersama sinematografer Gunnar Nimpuno, berhasil menciptakan visual Desa Latas yang sangat estetik namun terasa “berat”.
Penggunaan warna-warna saturasi tinggi dan detail yang rumit memberikan pengalaman sinematik yang berkelas.
Adegan ikonik di film ini adalah dimana puluhan orang secara sinkron menirukan gerakan kerbau di bawah rintik hujan buatan adalah salah satu pencapaian koreografi visual terbaik dalam sejarah sinema Indonesia.
Dari sisi performa pemain, Angga Yunanda menunjukan dedikasi luar biasa. Ia tidak hanya berakting lewat dialog, tapi lewat bahasa tubuh yang intens saat memerankan transisi kerasukan.
Ia menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk melatih fleksibilitas tubuhnya. Saat ia bertransformasi secara mental menjadi “Bulus” atau “Lintah”, penonton bisa melihat otot-ototnya bergerak dengan cara yang tidak alami.
Ini menciptakan rasa tidak nyaman (uncanny) yang jauh lebih efektif daripada monster digital.
Debut akting layar lebar Anggun C. Sasmi sebagai Guru Asri adalah scene-stealer.
Suara khas Anggun digunakan untuk merapal mantra-mantra yang kabarnya dilakukan secara improvisasi (impromptu), memberikan aura spiritual yang elegan dan berwibawa pada film ini.
Maudy Ayunda sebagai Laksmi tampil berbeda dengan aura melankolis yang kuat. Ia berhasil membawakan karakter yang memiliki keterikatan fisik dan emosional yang dalam dengan alam.
Tidak lupa ada Chicco Kurniawan & Bryan Domani yang memberikan tekstur pada dinamika warga desa yang menambah bobot konflik sosial dalam narasi.
Di balik lapisan mistisnya, Para Perasuk adalah kritik tajam terhadap eskapisme.
“Jika dunia nyata terlalu menyakitkan karena kemiskinan dan ketidakadilan, bukankah lebih baik menjadi sesuatu yang lain, meskipun itu adalah seekor hewan?”
Film ini mempertanyakan apakah kita yang merasuki roh, ataukah sistem kapitalisme, eksploitasi lahan, ekspektasi sosial yang sebenarnya telah merasuki dan mengendalikan tubuh kita selama ini?
Secara keseluruhan, Para Perasuk adalah sebuah pertunjukan teatrikal yang berani.
Wregas Bhanuteja berhasil membuktikan bahwa tradisi mistis Indonesia bisa ditarik ke arah kritik sosial yang cerdas tanpa harus terjebak dalam klise film horor murah.
Ini adalah film tentang bagaimana manusia mencari “pintu keluar” dari penderitaan mereka, meski harus membiarkan sesuatu yang asing masuk ke dalam tubuh mereka.
Setelah tayang perdana di Busan International Film Festival dan menyapu bersih perhatian di bioskop tanah air sejak awal perilisannya, Para Perasuk bukan sekadar film; ia adalah sebuah upacara sinematik.
Wregas Bhanuteja sekali lagi membuktikan bahwa ia adalah sutradara yang terobsesi dengan detail, tubuh manusia, dan cara masyarakat kita merespons penindasan.
Sebuah perayaan atas kegilaan yang tertata rapi.
Skor akhir: 8.5/10