TV & Movies

Review Film Orphan: First Kill

Published

on

GwiGwi.com – Setelah pembuka yang penyutradaraannya keren nan intens, penonton serasa disuapi background Leena (Isabelle Fuhrman) soal problem fisiknya dan perbuatannya dulu. Bisa jadi arah ini membuat khawatir filmnya banyak dialog dan membuatnya sesimple mungkin untuk dicerna. Nope. Setelah eksposisi itu, Orphan: First Kill kembali berfokus pada aksi yang penuh intrik, darah dan mengejutkannya, komedi…

Leena berhasil kabur dari institusi yang menahannya. Dia kemudian melihat daftar anak perempuan yang hilang dan mengambil identitas salah satunya. Lahirlah “Esther”. Keluarga Esther asli, langsung menerima kepulangan putri mereka ini dengan ramah. Semua terlihat baik sampai si ibu, Tricia (Julia Stiles) mengejutkan Esther.

Dari film pertamanya ORPHAN (2009) dan eksposisi di awal, penonton sudah tahu siapa Esther. Maka yang menarik dari prequel ini bukanlah lagi soal misteri identitasnya melainkan;

Apakah Esther bisa bertahan? Seberapa jauh dia bisa menyamar sampai ketahuan?

Plotnya seolah menjadi film survival yang tentunya penyegar utamanya. Ditambah lagi dari POV si pembunuh kompleks sulit ditebak seperti Esther. Ide yang berhasil dimaksimalkan sisi menghiburnya oleh filmmakernya. Adegan menegangkan sampai lucu semuanya berasa pas nan cocok dan dihandle dengan kelas.

Ide survival ini dikuatkan lagi di pertengahan film yang menempatkan Esther, Tricia dan “saudara” lelakinya, Gunnar (Matthew Finlan) dalam permainan cat and mouse yang menarik. In a way it's really one of a kind horror movie.

Naratifnya sendiri kuat berperan mendeliver sisi asik itu namun lemah di isi. Premise film ini seolah hanya ingin membuat ORPHAN menjadi franchise dan menempatkan Esther di bermacam situasi saja tanpa substansi. It's a scare for a buck kinda flick, a better kinda classy horror flick.

R rated for sure. Don't bring kids.

Trending

Exit mobile version