Box Office
Review Film Netflix Malcolm and Marie, keluh kesah sepasang kekasih yang falling out of love
GwiGwi.com – Sutradara bernama Malcolm Elliott (John David Washington) dikisahkan baru saja pulang dari gala premiere film yang ia tulis dan diarahkan bersama dengan kekasihnya, Marie Jones (Zendaya). Sesampainya di rumah, Marie Jones lantas memilih untuk memasak hidangan mac and cheese untuk dinikmati sang kekasih. Sembari menunggu hidangan masak, Malcolm Elliott dan Marie Jones mereka berkontemplasi mengenai industri perfilman, kondisi lingkungan sosial, serta, hubungan romansa mereka selama ini.
Disinilah momen-momen ajaib mulai terjadi….
Setelah sukses dengan kolaborasi mereka dalam serial televisi Euphoria yang berhasil meraih pujian luas dari banyak kritikus sekaligus memenangkan sejumlah penghargaan bergengsi di industri pertelevisian dunia, termasuk Outstanding Lead Actress in a Drama Series pada ajang The 72nd Primetime Emmy Awards, Zendaya bersama dengan sutradara sekaligus penulis naskah Sam Levinson kembali berkolaborasi dalam film Malcolm and Marie merupakan film perdana yang ditulis, didanai, dan diproduksi oleh Hollywood selama masa pandemi COVID-19, Kemudian film ini digadang-gadangkan sebagai film yang masuk beberapa nominasi di banyak ajang penghargaan tahun 2021 ini.
Sebagai sebuah film yang berfokus penuh pada naik turunnya interaksi yang terbentuk antara dua karakter yang mengisi keseluruhanlinimasa penceritaan, sang sutradara mampu menghadirkan Malcolm & Marie sebagai sebuah presentasi yang terasa begitu intim melalui kualitas tatanan produksinya.
Pilihan untuk menghadirkan film dalam balutan warna hitam dan putih melalui penataan sinematografi arahan Marcell Rev mendukung penuh atmosfer pengisahan tersebut, baik untuk memberikan fokus secara utuh pada dialog yang terjalin antara kedua karakter maupun untuk membentuk gambaran yang lebih personal akan kedua karakter. Banyak adegan dalam Malcolm & Marie diisi oleh lagu-lagu popular bernuansa jazz dan blues, mulai dari Down and Out in New York City milik James Brown, Get Rid of Him dari Dionne Warwick. Kebanyakan dari lagu-lagu tersebut mengumandangkan barisan lirik yang menggambarkan situasi dari banyak adegan dalam film ini. Namun, banyak momen terasa menjadi lebih kuat ketika Malcolm & Marie lebih memilih untuk membiarkan komposisi musik scoring buatan Labrinth yang lebih mengendalikan suasana.
Dari semi cerita, si sutradara sekaligus penulis naskah Sam Levinson menata “pertarungan” kata-kata yang terjadi antara karakter Malcolm Elliott dan Marie Jones layaknya sebuah pertandingan tinju dengan tiap karakter menghadirkan pukulan maupun tinjuan mereka melalui serangkaian teriakan demi teriakan. Cukup melelahkan. Mudah untuk merasakan bahwa Levinson membentuk dua karakter dalam jalan cerita Malcolm & Marie sebagai perwakilan akan berbagai pemikirannya sebagai seorang pembuat film, bagaimana reaksinya terhadap para kritikus film, hingga tanggapannya pada kritik film yang sering kali bernuansa politis ketika dihadapkan pada film-film yang dihasilkan oleh kelompok orang kulit berwarna meskipun hal ini jelas terasa janggal ketika mengingat bahwa Levinson adalah seorang pembuat film berkulit putih.
Lewat sambatan yang disampaikan olehkarakter Malcolm Elliott, Levinson ingin menyuarakan bahwa sinema bukan tentang menyampaikan sebuah pesan namun menyampaikan sentuhan emosi, bahwa sinema bukan tentang menggambarkan kenyataan namun menghasilkan kesan nyata akan sebuah situasi, serta bahwa tidak segala hal harus diberikan pemikiran yang jauh lebih mendalam. Berbagai pernyataan menohok yang jelas dapat memaksa setiap telinga yang mendengarnya untuk menjadi lebih awas terhadap isu yang disampaikan.
Namun, jelas cukup sulit untuk menanggapi berbagai pemikiran Levinson secara serius ketika ia menyalurkannya melalui teriakan demi teriakan yang datang dari seorang sosok sutradara yang menganggap dirinya adalah sosok yang begitu berbakat, mampu memuntahkan segala referensi tentang pembuat film ataupun film-film klasik, dan bukanlah seorang sosok karakter yang dapat dianggap menyenangkan secara keseluruhan.
Pilihan dialog dan penyampaian dari Levinson lebih sering terasa pretensius dan datang dari kumpulan perasaan getir daripada tampil sebagai presentasi yang hangat dan tajam sehingga mampu mengena secara mendalam. Lewat penggambaran itersebut lantas menjebak penampilan Washington sehingga terasa begitu berlebihan dalam penampilannya. Kelemahan ini masih diperparah dengan plot cerita yang seolah-olah hadir sebagai repetisi tanpa pernah dapat berkembang secara lebih utuh.
Bagian terbaik dalam film Malcolm & Marie jelas berasal dari chemistry yang dibentuk antara Washington dengan Zendaya. Ketika Levinson membiarkan konflik romansa dalam alur pengisahan filmnya berjalan tanpa kehadiran kesan dan pesannya akan industri perfilman, Malcolm & Marie sebenarnya hadir dengan sentuhan emosional yang cukup menohok. Zendaya, khususnya, mampu menyajikan sosok Marie Jones sebagai karakter rapuh dengan masa lalu yang kelam dan akhirnya melakukan konfrontasi terhadap sang kekasih yang selama ini selalu menomorduakan keberadaannya. Mudah untuk berpihak kepada sosok Marie Jones ketika dihadapkan dengan karakter angkuh seperti Malcolm Elliott namun, lebih dari itu, penampilan Zendaya memberikan karakter yang ia perankan dengan beberapa lapisan emosional yang ditampilkan begitu efektif dalam menjadikannya sosok yang humanis.
Pada akhirnya, film ini berakhir sebagai sebuah sajian yang akan diingat sebagai ruang yang diberikan untuk penampilan akting megah kedua cast di film ini yang sangat disayangkan tereksekusi dangkal dan berakhir sangat melelahkan.