TV & Movies

Review Film Na Willa, Surat Cinta untuk Masa Kecil yang Ajaib

Published

on

www.gwigwi.com – Willa (Luisa Adreena) adalah bocah enam tahun yang melihat dunia sebagai tempat penuh keajaiban. Baginya, gang Krembangan di Surabaya adalah semesta yang luas.

Namun, gelembung kebahagiaan itu mulai terusik saat teman-temannya mulai masuk sekolah dan ia harus menghadapi kenyataan bahwa tumbuh dewasa berarti berdamai dengan perubahan.

Setelah sukses mencuri perhatian lewat film animasi Jumbo, sutradara Ryan Adriandhy kembali dengan debut penyutradaraan live-action yang sangat dinantikan, Na Willa.

Diadaptasi dari buku karya Reda Gaudiamo, film ini bukan sekadar tontonan anak-anak, melainkan sebuah mesin waktu yang membawa kita kembali ke Surabaya era 1960-an melalui mata seorang gadis kecil bernama Willa.

Mengadaptasi karya sastra yang sangat character-driven seperti Na Willa bukanlah tugas mudah, namun film ini berhasil menangkap “jiwa” aslinya dengan beberapa penyesuaian menarik.

Na Willa ditulis dalam bentuk kumpulan sketsa cerita pendek. Tidak ada alur linear yang kaku; namun versi filmnya memfokuskan plot pada persiapan Willa menghadapi dunia luar, yang memberikan struktur “awal, tengah, dan akhir” yang lebih jelas bagi penonton bioskop.

Film ini bukan sekadar adaptasi; ini adalah rekonstruksi memori. Sang sutradara Ryan Adriandhy tidak hanya memindahkan teks ke layar, tapi ia menciptakan “bahasa visual” baru untuk menggambarkan cara kerja berpikir seorang anak berusia enam tahun.

Salah satu aspek paling teknis yang menonjol adalah penggunaan level kamera. Sinematografer film ini meletakkan kamera hampir selalu setinggi mata anak kecil (sekitar 100-110 cm).

Dampaknya: Penonton tidak melihat dunia dari atas atau perspektif dewasa, melainkan merasa “kecil” bersama Willa.

Orang dewasa di film ini seringkali terlihat tinggi besar, dan objek sederhana seperti meja makan atau pohon mangga terlihat megah dan penuh rahasia.

Film ini menggunakan teknik color grading yang hangat dominan kuning kunyit, hijau pudar, dan merah bata. Mengingatkan kita pada filter foto analog tahun 60-an yang sudah agak menguning namun tetap tajam.

Mengingat latar belakang Ryan di dunia animasi, ia memasukkan elemen animasi 2D minimalis yang muncul saat Willa sedang berimajinasi.

Misalnya: Ketika Willa bercerita tentang “cakrawala”, awan-awan di langit tiba-tiba berubah menjadi coretan pensil warna yang bergerak. Momen ini mempertegas bahwa kita sedang berada di dalam kepala seorang anak yang kreatif.

Film ini dengan hangat menggambarkan keluarga multikultural Mak yang berasal dari NTT dan Pak keturunan Tionghoa memberikan potret keberagaman Indonesia yang organik tanpa terasa menggurui.

Dari segi acting film ini berhasil mengeksplorasi hubungan keluarga yang sangat manusiawi.

Willa yang diperankan oleh Luisa Adreena memiliki keunggulan micro-expression. Saat ia bingung melihat orang dewasa berargumen, atau saat ia merasa dikhianati karena teman baiknya harus pindah rumah, Luisa menyampaikannya lewat tatapan mata yang sangat jujur.

Mak yang diperankan oleh Irma Rihi memberikan performa yang luar biasa sebagai ibu yang disiplin namun penuh kasih. Hubungan Mak dan Willa adalah jantung film ini penuh dengan percakapan absurd tapi mendalam tentang kehidupan.

Pak yang diperankan Junior Liem memberikan keseimbangan sebagai sosok ayah yang lebih santai. Kehadiran “Pak” memberikan nuansa hangat dan humor yang pas di tengah ketegasan “Mak”.

Meskipun terlihat ceria, Na Willa membawa subteks yang cukup berat tentang kehilangan. Seperti saat Dul masuk rumah sakit akibat kecelakaan, Willa belajar bahwa orang-orang bisa datang dan pergi.

Hingga ketika adegan dari rumah ke sekolah digambarkan sebagai akhir dari sebuah era. Sekolah bukan hanya tempat belajar, tapi simbol di mana aturan dunia dewasa mulai mengekang imajinasi bebasnya.

Secara keseluruhan, Na Willa adalah pengingat bahwa keajaiban tidak selalu harus berupa sihir; terkadang ia ada di dalam segelas limun, suara radio di sore hari, atau dekapan seorang ibu.

Film ini sukses memeluk inner child penonton dewasa sekaligus memberikan tontonan berkualitas bagi anak-anak.

Na Willa adalah standar baru untuk film keluarga di Indonesia. Filmnya tidak meremehkan kecerdasan anak-anak dan tidak membuat bosan orang dewasa.

Ini adalah film yang wajib ditonton setidaknya sekali seumur hidup untuk mengingatkan kita bahwa kita semua sama seperti Willa

Trending

Exit mobile version