TV & Movies
Review Film LEMBAYUNG, Teror Sexual Abuse Yang Lemah
www.gwigwi.com – Arum (Yassamin Jasem) dan Pica (Taskya Namya) menjalani praktek kuliah kedokteran di Rumah Sakit Lembayung. Mereka langsung di tolak Dokter Ringgo (Oka Antara) yang hanya menginginkan anggota medis lelaki. Meski akhirnya tetap bisa praktek, kedua mahasiswi itu mulai merasakan beragam keanehan dan perlahan terkuak rahasia gelap di sana….
LEMBAYUNG sebenarnya mempunyai pesan yang mulia mengenai pelecehan seksual yang kontemporer. Dari karakter Arum sebagai sudut pandang korban di mana dimainkan dengan baik oleh Yasamin, terlihat penderitaan yang sulit terkatakan dan hanya bisa disimpan tapi dianggap normal oleh pelaku seperti karakter Heru (Ence Bagus).
Review Film Lembayung, Teror Sexual Abuse Yang Lemah
Scare dan ketegangannya pun boleh juga untuk beberapa momen. Tantri (Anna Jobling) yang menghantui Lembayung mampu tampil creepy dan untuk momen menyentuh dia cukup berhasil.
Sayangnya segala potensi film baik pesan atau akting terasa percuma melihat banyaknya kekurangan LEMBAYUNG.
Review Film Lembayung, Teror Sexual Abuse Yang Lemah
Durasi banyak dihabiskan untuk sekedar melihat keseraman saja tanpa arah yang jelas film mau ke mana. Karakter kebanyakan berlaku pasif, seolah sebagai samsak derita saja. Scare pun terlalu lama dan diberikan kejutan yang sepertinya ingin “shock” penonton tapi justru berakhir konyol. Logika yang diterabas asal adegan seram bisa terus berlanjut. Kemudian adegan frontal baik pelecehan dan sadisme yang tidak perlu.
Sutradara perdana Baim Wong sepertinua masih harus banyak belajar mengenai esensi ceritanya, sensitivitas di dalamnya dan bagaimana menyampaikannya. Jawabannya saat press conference begitu ditanya soal hal-hal sensitif dari filmnya, rasanya menunjukkan masih kurangnya koneksi beliau akan temanya sendiri dan definitely leave a lot to be desire.
Review Film Lembayung, Teror Sexual Abuse Yang Lemah
Review Film Lembayung, Teror Sexual Abuse Yang Lemah
Review Film Lembayung, Teror Sexual Abuse Yang Lemah
LEMBAYUNG barangkali peringatan untuk awareness soal isu patriarki dan soal sexual abuse, tapi kalah oleh lemahnya storytelling dan keinginan besarnya untuk menunjukkan horror yang, maaf, murahan.