Box Office
Review Film Last Night in Soho, Menguak Misteri di Masa Lalu
GwiGwi.com – Elouise (Thomasin Mackenzie) atau Ellie, adalah gadis desa wide eyed polos yang pergi ke London untuk belajar menjadi desainer fashion di sekolah mode. Karena tak nyaman dengan kehidupan malam teman sekolahnya, Ellie pindah dari asrama sekolah ke sebuah gedung tua yang diurus ibu renta bernama Miss Collins (Diana Riggs).
Saat akan tidur, Ellie yang memang bisa “melihat” terlempar ke SOHO di tahun 1960an. Era yang didambakannya karena kehidupan glamornya. Saat memasuki klab malam di masa itu, Ellie menyelami hidup seorang seorang wanita yang ingin menjadi bintang bernama Sandy (Anya Taylor-Joy). Ellie begitu menikmati menjadi Sandy yang cantik, percaya diri dan mempesona. Berbanding terbalik dengan dirinya. Sampai suatu saat dia mengetahui kehidupan gemerlap itu mempunyai sisi gelap yang perlahan merayap ke kehidupan nyatanya.
Last Night in Soho mungkin adalah film horror tulen pertama sutradara Inggris Edgar Wright. Film horror sebelumnya merupakan film zombie berjudul Shaun of The Dead (2004) masih kental dengan komedi. Menjadikannya menarik bagaimana style dari Edgar Wright yang identik dengan komedi dan aksi bermain di genre horror tulen ini.
Edgar Wright memvisualisasi scare film ini seperti film horror Suspiria (1977) yang menggunakan pencahayaan warna-warna mencolok seperti merah yang begitu mendominasi frame untuk menimbulkan rasa mencekam dan ketidaknyamanan. Seolah kontras dengan lampu-lampu panggung yang menghighlight pesona Sandy di klub. Bagi yang gemar dengan karya-karya beliau sebelumnya, style yang digunakan begitu berbeda sampai rasanya tak aneh menganggap film ini di direct orang lain.
Melalui kisah Sandy, Edgar Wright dan penulis skenario Krysty Wilson-Cairns bercerita tentang objektifikasi, eksploitasi, dan misoginisme yang menimpa para gadis muda di klub malam masa itu. Bagaimana keinginannya menjadi bintang tak dipandang serius para tamu yang hanya ingin menikmati paras dan kemolekannya. Momen terbaik adalah saat Sandy ingin lari dari klub tapi yang dia lihat adalah fakta di belakang panggung yang tak ubahnya seperti rumah bordil.
Penderitaan Sandy itulah sumber horror dari film ini dan yang membuat Ellie begitu ketakutan setiap dia ingin tidur. Seperti takut manajer Sandy, Jack (Matt Smith) tiba-tiba muncul dan menariknya kembali ke mimpi buruk gemerlap itu. Ditambah lagi hantu-hantu lelaki bergentayangan yang kerap muncul di sekitar Ellie. Efek hidup Sandy pada Ellie juga menjadi poin dalam film. Dia yang sebelumnya merasa empowered oleh visi glamor itu, berbalik tersiksa sampai mempengaruhi kesehariannya. Ellie jadi ingin menolong Sandy dan ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada gadis pirang itu.
Walau secara keseluruhan editing, visual dan akting bisa dinikmati, film ini masih memiliki beberapa kekurangan. Dengan pengadeganannya yang wah dan kritik misoginisme nya menarik, sayangnya berakhir seperti film-film horror scare for a buck ala Conjuring yang bisa ditebak
Walapun tidak semegah film Edgar Wright lainnya seperti Shaun of The Dead (2004), Hot Fuzz (2007), The World's End (2013), Last Night in Soho membuat saya campur aduk. Namun bagi penggemar dari Edgar Wright sangat disayangkan jika tidak melihat sutradara yang hampir membuat Ant-Man MCU itu mengeksplorasi teritori baru. So Gwiples jangan lupa untuk menyaksikan film ini di bioskop bioskop kesayangan kalian ya!