Box Office

Review Film Killers of the Flower Moon, Kisah klasik diskriminasi dan perampasan ala Martin Scorsese

Published

on

www.gwigwi.com – Masyarakat adat dan lahan. Masih segar nan berjalan konflik di Rempang mengenai rencana pembangunan kota maju Eco City yang tak disetujui warga lokal. Ternyata konflik yang mirip hampir selalu ada di berbagai tempat dalam sejarah; warga Israel di Tepi Barat yang secara ilegal perlahan mengambil tanah wilayah Palestina. Berkedok bermacam hal di depan dan bersiasat di belakang yang berujung pada perampasan.

Mollie (Lily Gladstone) berjalan sambil dipegangi suaminya, Ernest (Leonardo DiCaprio) menuju tempat kakaknya yang lama hilang. Setelah melihat kakaknya ia shock dan dihibur oleh orang yang dihormatinya sejak dia masih kecil, Hale (Robert DeNiro). Apa yang dialaminya ini hanyalah sekilas dari bencana yang akan menimpa tak hanya keluarganya, tapi orang sebangsanya, Osage.

Review Film Killers Of The Flower Moon, Kisah Klasik Diskriminasi Dan Perampasan Ala Martin Scorsese

THE KILLER OF THE FLOWER MOON adaptasi buku nonfiksi karya David Grant, bercerita tentang serangkaian pembunuhan misterius yang dialami bangsa Osage. Orang-orang adat yang kaya melimpah karena di tanahnya ditemukan minyak itu mendadak tewas baik karena diracun dan tertembak. Entah karena rasisme, kasus ini tak ditanggapi serius pemerintah Amerika. Tinggalah mereka berusaha menyelesaikannya sendiri.

Bagi yang familiar dengan style film gangster ala sutradara Martin Scorsese (Marty) akan cepat merasa akrab dengan karya terbarunya; penjahat bersiasat dan santai berencana jahat yang bisa menjadi lucu (black comedy); kekerasan yang vulgar menonjolkan kekejamannya.

Dari gaya ini Marty bisa membuat penonton mengintepretasikan bermacam hal dari adegan orang yang berbicara saja; Hale yang memaksa orang asuransi supaya dia bisa menarik uang temannya terlihat menjijikkan dan antipati yang dalam pada temannya sendiri; Ernest yang terlihat bodoh saat disugesti memancing tawa tapi juga terlihat tragisnya orang simple seperti dia bisa dimanipulasi; Orang-orang kaya Osage yang terlihat lugu mau saja percaya saat ditipu menunjukkan seolah harta membuat mereka lupa waspada dan mudah sekali dimanfaatkan orang.

Meski terasa Marty pernah menunjukan style ini lebih baik di film-film sebelumnya dengan skala lebih besar, di sini tampaknya ia lebih fokus pada skala terkecil/mikrokosmos dari peristiwa ini yakni kepercayaan dan pengkhianatan. Dia menceritakannya melalui hubungan Mollie dan Ernest.

Review Film Killers Of The Flower Moon, Kisah Klasik Diskriminasi Dan Perampasan Ala Martin Scorsese

Fokus pada Ernest dan Mollie membolehkan Marty membedah lebih dalam apa asal muasal peristiwa film ini secara emosi dan apa yang membuatnya bertahan dan kerap berjalan di berbagai waktu dalam sejarah.

Hubungan Mollie dan Ernest bak diawali dari saling percaya, menipu kemudian perlahan berusaha disingkirkan. Satu pihak terus berkilah, namun di balik topengnya kerap berbohong, berencana dan berbuat; sementara yang lain berusaha tetap kuat menghadapi bencana; menyelesaikan masalah selegal dan sesuai aturan mungkin, sambil terus percaya pada orang terdekat. Keduanya akhirnya merasakan pahitnya kenyataan.

Secara drama memang fokus pada mereka berdua memuaskan di level emosi, namun rasanya ingin lebih banyak apa yang terjadi di kanvas yang lebih besar? Misal; bagaimana nasib tanah milik orang Osage yang dibunuh? Apakah orang mereka masih mendapat manfaatnya atau sudah diambil orang kulit putih? Bagaimana nasib bangsa tersebut saat kebenaran terungkap di luar dari para pelaku utamanya?

Martin Scorsese pernah mengatakan film superhero itu seperi wahana di taman ria yang asik sesaat lalu sudah saja tak berbekas. Melihat THE KILLER OF THE FLOWER MOON rasanya menangkap apa yang diinginkan Marty; pengalaman sinema multimakna yang berbobot. Mengulik kemanusiaan di balik warna kulit, mengkespos sifat buruk yang terpendam dan akibatnya pada orang dan komunitas.

Definitely not for kids.

Trending

Exit mobile version