TV & Movies

Review Film Indonesia “Mudik,” Bukan Sekedar Perjalanan Pulang Kampung

Published

on

GwiGwi.com – Film bermula ketika Firman dan Aida sedang dalam perjalanan dari Jakarta ke rumah Ibu Firman. Sialnya, ketika Aida yang mendapat giliran nyetir, ia menabrak pengendara motor ketika malam hari. Rencana semula keduanya untuk sekadar menengok langsung runtuh. Korban yang mereka tabrak ternyata meninggal dunia, dari sini keputusan besar harus diambil oleh keduanya.

Apa yang akan dilakukan Firman dan Aida selanjutnya? Bagaimana nasib keluarga korban? Yang jelas, kejadian ini bakal menghadirkan ketegangan.

Film kedua dari sutradara Adrianto Dewanto yang terinspirasi dari tradisi mudik ketika lebaran. Momen mudik beramai-ramai yang ada di Indonesia juga diwarnai banyaknya kecelakaan para pengguna kendaraan bermotor. Konsep ini lantas diwujudkan dalam jalinan cerita sepanjang film Ini.

Dikemas dengan konsep road movie, kita diberi kesempatan untuk menjadi “penumpang” dalam perjalanan pasangan Firman dan Aida. Sejak awal, kita sudah diajak mengintip persiapan mudik mengepak barang di tas ketika di apartemen, ketika berada di tempat parkir sebelum berangkat, dan ketika mampir rumah makan di sepanjang perjalanan. Meski nantinya bermunculan tokoh-tokoh baru, sudut pandang tetap dijaga dari Firman dan Aida.

Di hampir sepanjang film kita bakal diajak turut dicekoki ketegangan yang dialami oleh Aida dan Firman. Menabrak orang hingga meninggal bukan persoalan yang bisa diselesaikan dalam sehari. Ada keluarga korban yang harus ditenangkan dari amarah. Ada juga polisi yang perlu diajak berunding. Membayangkan harus mengalami seperti itu di malam takbiran tentu tidak enak.

Keempat tokoh utama yang ada kemudian ditabrakkan dalam dialog-dialog yang terorkestrasi dengan baik. Dari dialog-dialognya sedikit demi sedikit kita akan tahu jati diri setiap tokoh yang ada dalam filmnya. “Thumbs up” untuk kedua aktris dalam cerita ini, baik Putri Ayudya yang terlihat memendam kegelisahan atau gerak-gerik Asmara Abigail yang meski terlihat lugas, tapi menyimpan misteri. Seiring berjalan nya kisah, kita juga akan mendalami sebetulnya perjalanan mudik yang sebetulnya sedang mereka jalani.

Kita akan dibuat bertanya-tanya, sebetulnya apa yang memenuhi pikiran Aida. Apa juga yang membuat Firman seperti berjarak dengan istrinya? Apa yang membuat Sinta tegar di tengah kedukaan? Apa pula yang membuat Agus dan warga kampung sangat memburu-buru meminta pertanggungjawaban Aida dan Firman. Semua akan terjawab satu demi satu di film ini.

Dari segi sinematografi, layaknya sebuah road movie, Adriyanto Dewo secara pas menempatkan shot demi shot dalam film dengan pemandangan yang bisa dilihat dari dalam mobil, baik itu pemandangan alam ataupun ragam aktivitas para pemudik.

Hitung-hitung membuat kita yang belum bisa mudik di masa pandemi ini mungkin sedikit terobati akan tradisi yang dilakukan tiap libur hari raya idul Fitri Ini.

Secara keseluruhan, Mudik bukan hanya film tentang perjalanan pulang untuk berlebaran di kampung halaman. Film Ini juga tentang perjalanan para tokohnya mencari jawaban atas permasalahan mereka. Sehingga film ini tidak lagi terbatasi oleh momen Ramadan dan Lebaran saja. Ketika filmnya ditonton saat ini, akan mengajak kita untuk menikmatinya sekaligus merenunginya.

Trending

Exit mobile version