TV & Movies
Review Film Indonesia Ghost in The Cell, Napi Nyinyir Pemerintah Dan Menghadapi Horor Brutal Di Persembahan Terbaru Joko Anwar
www.gwigwi.com – Dimas (Endy Arfian), seorang jurnalis mengekspose rentetan kematian yang terhubung dengan proyek yang menggundulkan hutan di Kalimantan. Bosnya, (Rio Dewanto) memintanya untuk merubah isi berita. Tak lama, si bos ditemukan tewas mengenaskan dengan tubuhnya tergantung di atas kipas ruangan. Dimas lah yang jadi tersangka.
Di Lapas Labuhan Angsana, Dimas bertemu dengan Anggoro (Abimana Aryasatya), yang gemar membela napi lain, juga berani pada sipir, Jeffry (Bront Paralae).
Review Film Indonesia Ghost In The Cell, Napi Nyinyir Pemerintah Dan Menghadapi Horor Brutal Di Persembahan Terbaru Joko Anwar
Suatu ketika kematian ngeri merajalela di penjara. Mirip dengan kejadian bos Dimas, Anggoro dan teman-temannya berusaha mengungkap hubungan itu dan bertahan hidup.
GHOST IN THE CELL adalah karya teranyar Joko Anwar di bawah bendera PH Come and See. Mengusung komedi horror, film tampaknya ingin mengedepankan dua skill utama si filmmaker. Menyuguhkan tawa sekaligus teror brutal syaiton. Doyannya orang Indonesia saat ini tampaknya….
Penjara seakan mirkosmos dari Indonesia dengan daya tarik dan carut marutnya. Film pun menyindir situasi sosial politik di negara tercinta ini dengan celetukan dan candanya meskipun terkadang terasa terlalu gamblang, in the face. Kasarnya, tak ubahnya mengumpulkan apa keluh kesah warganet dalam satu wadah sinema.
Review Film Indonesia Ghost In The Cell, Napi Nyinyir Pemerintah Dan Menghadapi Horor Brutal Di Persembahan Terbaru Joko Anwar
Dari sisi lain, bisa dipahami “kelancangan” ini barangkali lahir dari rasa frustasi filmmaker pada otoritas dan mayoritas yang seakan tak mempan diberitahukan secara halus, maka harus lantang.
Kembali pada audiens; apakah merasa pendekatan itu melelahkan karena dirasa mengulang apa yang populer dijulidkan atau merasa kekecewaannya terwakilkan.
Horor yang brutal wow meneror sepanjang film. Mengutamakan kekejaman eksekusinya dan diakhiri dengan mayat dihias begitu rupa layaknya patung seni. Mirip dengan korban di seri HANNIBAL.
Usaha semiotika sarat makna dari mayat itu memang menarik, tapi rasanya pembunuhannya begitu eksesif sampai ke poin eksploitatif. Berusaha kali membuat kita ngerasa ngeri secara berlebihan malah jadi tak menarik lagi.
Review Film Indonesia Ghost In The Cell, Napi Nyinyir Pemerintah Dan Menghadapi Horor Brutal Di Persembahan Terbaru Joko Anwar
Bila melihat peta horor Indonesia sekarang, problem itu bukan eksklusif GHOST IN THE CELL, tapi memang selera saat ini. Entah itu akan mengarah pada horror Indonesia yang lebih kreatif ke depannya atau tidak.
Film memiliki banyak momen yang sungguh lucu, terutama bercandaan antar teman sesama napi gengnya Anggoro dan didukung totalitas akting mereka.
Kreativitas film justru kental sekali di sini lebih dari horornya, terlepas dari “nyolek” otoritas yang bisa cringey. Apakah filmmaker memang kekuatannya lebih di komedi?
GHOST IN THE CELL barangkali bukanlah karya terbaik sang sutradara tersukses Indonesia ini. Namun, usahanya untuk terus memberi suguhan berbeda tapi masih memiliki pesona untuk pasar terlihat. Apakah dirasa cukup untuk mengajak audiens untuk come and see?