TV & Movies

Review Film I was a Stranger: Kemanusiaan, Empati, dan Rumah

Published

on

www.gwigwi.com – Di tengah kekacauan perang Suriah. Amira, seorang dokter, terpaksa meninggalkan rumahnya bersama sang anak demi menyelamatkan nyawa.

Perjalanan mereka membawa keduanya ke jalur berbahaya yang dilalui para pengungsi, tempat harapan sering kali bertabrakan dengan rasa takut dan keputusan-keputusan mustahil.

Dalam satu malam yang menentukan di Laut Mediterania, kisah Amira beririsan dengan beberapa orang asing lain.

Review Film I Was A Stranger: Kemanusiaan, Empati, Dan Rumah

Salah satunya adalah Marwan seorang penyelundup manusia dengan moral abu-abu, lalu ada Mustafa aparat penjaga perbatasan yang terjebak antara tugas dan nurani, serta para pengungsi lain yang masing-masing membawa luka dan tujuan berbeda.

Di tengah hiruk-pikuk film blockbuster awal tahun 2026, muncul sebuah karya yang tidak hanya meminta perhatian kita, tetapi juga menuntut empati kita yang paling dalam. “I was a Stranger”, debut penyutradaraan layar lebar dari Brandt Andersen, adalah sebuah narasi visual yang mencekam, jujur, dan tanpa kompromi mengenai krisis pengungsi global.

Alih-alih menyajikan cerita linier yang mudah ditebak, Andersen menggunakan struktur “Mosaic Narrative”. Kita dibawa melintasi waktu dan ruang—dari jalanan Chicago yang dingin di tahun 2023, kembali ke pusaran konflik Suriah pada 2015.

Secara visual, sinematografer Jonathan Sela berhasil menangkap kontras yang tajam. Kamera handheld yang ia gunakan memberikan kesan dokumenter yang intim sekaligus memicu klaustrofobia.

Review Film I Was A Stranger: Kemanusiaan, Empati, Dan Rumah

Salah satu momen yang akan terus dibicarakan adalah adegan long-take (tanpa putus) selama 7 menit di atas kapal yang kelebihan muatan. Tanpa musik latar yang manipulatif, kita hanya mendengar deru mesin tua, tangisan anak kecil, dan hantaman ombak.

Ini bukan soal pamer teknik, melainkan upaya untuk penonton merasakan di atas kapal yang sama, merasakan ketakutan yang sama.

Kekuatan terbesar “I Was a Stranger” terletak pada kemampuannya untuk menanggalkan label “pengungsi” dan mengembalikannya menjadi “manusia”.
Film ini tidak terjebak dalam retorika politik yang melelahkan.

Sebaliknya, ia berfokus pada martabat bagaimana seorang ibu tetap berusaha merapikan rambut anaknya di tengah perahu yang nyaris karam, atau bagaimana seorang penyair tetap mencoba mencari diksi indah di tengah kehancuran.

Secara keseluruhan, film ini bukanlah tontonan yang “menyenangkan” , tetapi ini adalah tontonan yang penting di tahun 2026, ketika dunia tampak semakin terpolarisasi, film ini hadir sebagai pengingat pahit bahwa di balik angka-angka statistik yang kita baca di berita, ada wajah-wajah yang mendambakan satu hal yang sama yaitu rumah.

Trending

Exit mobile version