Uncategorized
Review Film: The Hateful Eight, Kisah Delapan Orang Saling Membenci
GwiGwi.com – Film berlatar western kedua Quentin Tarantino ini sepintas terasa seperti Django Unchained Vol.2 ketika memasang koboi kulit hitam dengan sebagai karakter utamanya di set barat yang keras, tetapi kenyataannya ini adalah sebuah film yang sama sekali berbeda meski awalnya Tarantino sempat mempertimbangkan The Hateful Eight sebagai sekuel Django Unchained sebelum akhirnya memutuskan untuk membuat film yang benar-benar baru karena karakter Django tidak cocok dengan ceritanya.
Berbicara soal cerita, Januari 2014 silam Tarantino sempat ngambek dan membatalkan produksi The Hateful Eight silam karena skripnya bocor kemana-mana, tetapi untung saja ia berubah pikiran dan seperti yang bisa dilihat sekarang, The Hateful Eight akhirnya benar-benar dirilis, dan berita yang lebih baik, ini adalah salah satu karya terbaik seorang Quentin Tarantino.
Seperti judulnya, ceritanya berfokus ada delapan orang manusia saling benci yang tanpa sengaja berkumpul dalam satu tempat dalam situasi dan waktu yang salah. Empat orang orang pertama adalah John Ruth (Jurt Russel) dan Mayor Marquis Warren (Samuel L. Jackson), dua pemburu hadiah legendaris yang yang saling berbagi tempat di sebuah kereta kuda setelah kebetulan berpapasan di jalan. Dua penumpang lain adalah Daisy Domergue (Jennifer Jason Leigh), buronan seharga 10.000 dollar yang berhasil di tangkap hidup-hidup oleh John Ruth. Di bangku terakhir ada eks tentara konfederasi, Chris Mannix (Walton Goggins) yang juga mengaku sebagai sheriff Red Rock yang baru.
Namun perjalanan mereka menuju Red Rock harus diganggu oleh Badai salju yang semakin memburuk, memaksa mereka berhenti sementara di Minnie’s Haberdashery, sebuah tempat peristirahatan terpencil di mana ada empat orang lain yang sudah ‘menunggu’ di sana. Mereka adalah Jenderal Sandy Smithers (Bruce Dern), koboi penyendiri; Joe Gage (Michael Madsen), Bob (Demian Bichir) yang dipercaya untuk mengurus Minnie’s Haberdashery sementara pemiliknya pergi, dan last but not least, orang Inggris bernama Oswaldo Mobray (Tim Roth). Dari sini semua bermula ketika setiap orang menyimpan agenda misterius masing-masing yang berujung pada kekacauan luar biasa.
Jadi apa yang membuat The Hateful Eight berbeda dari kebanyakan film koboi lain atau setidaknya berbeda lah dengan Django Unchained? Pertama jelas adalah settingnya yang dingin. Jika kebanyakan western klasik mengambil lokasi kering dan tandus, Tarantino memilih Wyoming liar bersalju pasca perang sipil Amerika sebagai kanvas sempurna buat karya terbarunya ini, apalagi ditunjang dengan penggunaan format lensa 70 mm super lebarnya mampu membuat sinematografi dari Robert Richardson bisa menangkap segala detail old west yang lebih luas.
Cerita yang ditulis Tarantino pun juga punya kekuatannya sendiri ketika ia berhasil menyajikan sebuah misteri solid nan intens yang tersembuyi dari setiap karakter, latar belakang dan motif-motifnya. Menonton The Hateful Eight itu seperti menyaksikan versi live action Ten Little Indians yang dikombinasikan dengan elemen-elemen unik khas Tarantino seperti yang pernah kamu dapatkan dalam Reservoir Dogs dengan narasi retrospektif nya, penempatan product placement fiktif ala Pulp Fiction termasuk format cerita ber-chapter seperti Kill Bill Vol.1 dan tentu saja tidak ketinggalan, kekerasan tingkat tinggi yang luar biasa brutal dan berdarah-darah yang terbungkus dalam iring-iringan scoring ‘seram’ dari komposer spaghetti western legendaris Ennio Morricone.
The Hateful Eight itu cerewet sama cerewetnya dengan kebanyakan film Tarantino yang menjual percakapan melalui dialog-dialog panjang antar karakternya, namun bukan Tarantino namanya jika tidak membuat setiap obrolan bisa begitu menghibur dan jauh dari membosankan namun di saat bersamaan masih memancarkan sisi serius.
Setiap dialog didukung oleh materi yang bagus termasuk di dalamnya isu-isu sensitif tentang ras pasca perang konfedarasi dan pencarian keadilan yang mampu bersinergi lancar bersama joke-joke verbal mengelitik dan tensi ketegangan yang terjaga konsisten.
Kerenyahan dialognya ditunjang pula dengan kekuatan dari para pemainnya yang tampil bagus. Mungkin tidak semua mendapat porsi sama banyaknya mengingat Samuel L. Jackson sebagai Mayor Marquis Warren yang bad-ass begitu mendominasi.
Tetapi bukan berarti karakter lain tidak punya pesonanya sendiri. Kurt Russel sebagai John “The Hangman” Ruth (Jurt Russel) mungkin adalah yang paling kharismatik setelah Marquis Warren. Kebetulan berprofesi sebagai bounty hunter seperti Warren, keduanya adalah pasangan benci-cinta yang punya dinamika menarik. Sementara Jennifer Jason Leigh tampil luar biasa sebagai Daisy Domergue, buronan wanita setengah gila, tidak heran berkat penampilannya yang ‘sinting’ itu kemudian juri Oscar sampai memasukan namanya ke dalam nominasi pemeran pendukung wanita terbaik tahun ini. Terakhir ada Walton Goggins membawakan karakter Sheriff Chris Mannix, Mungkin kita akan meremehkan karakternya yang konyol ketika pertama kali berjumpa, tetapi dalam perjalanannya Mannix menjadi salah satu karakter paling asyik di sini.
Well, meskipun punya tema dan set lebih sempit, The Hatefull Eight terasa sedikit lebih baik ketimbang Django Unchained yang terlalu berusaha keras itu. The Hatefull Eight adalah sajian old western yang berbeda ketika Tarantino berhasil menjual misteri, teknis, dialog dan penyutradaraan yang sama baiknya dengan penampilan kuat dari para karakternya.
Video Trailer
[youtube id=”gnRbXn4-Yis” width=”100%” height=”50%” position=”left”]