TV & Movies
Review Film Guy Ritchie’s The Covenant, Digdaya Amerika dan Sekutunya (lagi)
Gwigwi.com – Tak biasanya sutradara spesial film preman Inggris, Guy Ritchie mengangkat cerita mengenai militer. Soal tentara Amerika pula bukan negara beliau sendiri. Hal demikian membuat THE COVENANT menarik disambut. Polesan apa yang akan dibawa sang filmmaker ke genre tersebut? Cukup mengejutkan bahwasannya film teranyar beliau berakhir begitu datar dan tericip rasa agenda tertentunya.
John Kinsley (Jack Gyllenhaal) sersan tim pencari peledak bekerja sama dengan Ahmed (Dar Salim), penerjemah lokal dengan masa lalu misterius. Meski awalnya John tak suka, saran-saran Ahmed terbukti efektif menangani situasi. Sampai sebuah operasi naas merubah hubungan keduanya selamanya.
Melihat tim John Kinsley di awal film menarget rumah yang salah, saya sedikit berharap THE COVENANT memiliki pandangan lebih kritis pada Perang Afghanistan. Apalagi setelah terbitnya AFGHAN PAPERS yang membeberkan fakta bobroknya operasi Amerika di sana. Nyatanya film hanya menyentuh sedikit saja dan selebihnya tak ubahnya film militer yang banyak dibintangi aktor legendaris Chuck Norris dulu.
Review Film Guy Ritchie’s The Covenant, Digdaya Amerika Dan Sekutunya (lagi)
Penggambaran Taliban di sini sungguh seakan karikatur saja. Ingin rasanya lebih paham siapa musuh ini dan bagaimana pandangan warga lebih jauh tentang mereka. Sekedar memberi kedalaman nan bobot pada konflik. Nope. Mereka adalah monster jahat. Selesai. Konyol sekali melihat para bos Taliban ini hanya nongkrong di suatu ruangan bertelpon-telpon dengan agennya di lapangan.
Ditambah lagi mudah sekali mereka dihabisi saat beraksi. Serbuan mereka seolah tanpa berpikir. Maju saja bahkan jarang berlindung.
Apakah demikian penggambaran kelompok yang faktanya telah merepotkan militer Amerika selama bertahun-tahun?
Menunjukkan konflik yang begitu hitam-putih ini rasanya merendahkan usaha film membawakan hal lebih kompleks seperti sulitnya penerjemah yang bekerja untuk AS mendapat perlindungan seperti visa ke Amerika. Adegan pamungkas isu ini pun hanya selesai dengan John Kinsley berpidato di depan atasan dan temannya. Begitu dangkal sekali. Menarik sekali bila film fokus kental di isu ini seperti menegangkannya adegan pengadilan hak tak menggunakan senjata Desmond di HACKSAW RIDGE.
Terlihat Jack Gyllenhaal tetap berhasil mengangkat materi dialog skenario yang biasa saja ini. Cukup mengherankan kalau mengingat Guy Ritchie cukup piawai memainkan kata-kata, namun di sini terasa tipikal film militer saja tanpa sentuhan yang memorable.
Memang terdapat penekanan humanisme hubungan sesama rekan apalagi perjuangan Ahmed menolong John. Namun, pada akhirnya mentah karena konflik at large nya tak dibahas dan sekedar menunjukkan Amerika akan melindungi sekutunya (Ahmed) tapi lawannya akan dihabisi.
Saat GREEN ZONE Matt Damon berani menunjukkan sisi lain perang Irak dan ALL QUIET ON THE WESTERN FRONT memperlihatkan pedihnya perang yang merubah kehidupan anak-anak muda, THE COVENANT seolah ketinggalan zaman dengan pretensi persaudaraan tapi tak memberi pandangan lebih pada konflik yang ada. Hanya Amerika jagoan. Taliban harus dibasmi. Titik. Macam film kartun untuk anak-anak.
Penutup klimaks memperparah pesan keseluruhan film. Helikopter Amrik yang membom lawan seolah mengglorifikasi persenjataan dan operasi AS ditambah lagi peran private militaty contractor yang bagai penyelamat. Its the most blatant pro war message that movie has ever done in a while.
Di akhir film THE Kingdom nya Peter Berg, diperlihatkan baik pihak teroris dan pihak AS keduanya sama-sama terikat dendam yang akan terus membakar konflik. Hal demikian memberi pemahaman lebih pada perang sedari pada yang dilakukan THE COVENANT.