TV & Movies

Review Film Empat Musim Pertiwi, Puisi Visual tentang Trauma, Patriarki, dan Ketahanan Perempuan.

Published

on

Pertiwi (Putri Marino), seorang wanita yang baru saja bebas dari penjara setelah mendekam selama 20 tahun akibat tuduhan membunuh seorang pria. Kasus yang hingga kini menyisakan misteri di desa asalnya di kawasan Bromo.

Bukannya disambut dengan kehangatan atau simpati, kepulangan Pertiwi justru menyulut ketegangan. Warga desa memandangnya dengan kecurigaan dan penolakan, sementara ayahnya sendiri (Iswadi Pratama) bersikap dingin.

Keadaan kian rumit karena desa tersebut kini berada di bawah kendali segelintir pria berkuasa yang dulu menjebloskannya ke penjara.

Review Film Empat Musim Pertiwi, Puisi Visual Tentang Trauma, Patriarki, Dan Ketahanan Perempuan.

Di tengah pengasingan sosial itu, dukungan hanya datang dari Bisma (Arya Saloka) mantan kekasihnya yang kini telah menikahi sahabatnya, Niken (Hana Malasan) serta Mak Ira (Christine Hakim), mantan pekerja seks yang mengelola warung di kawasan wisata Bromo.

Dalam iklim yang serba menindas, Pertiwi berjuang memutus mata rantai kekerasan, membela kaum marginal, dan merajut kembali serpihan hidupnya.

Sutradara Kamila Andini kembali mengukuhkan posisinya sebagai salah satu sutradara paling vokal dalam mengurai kompleksitas psikologis perempuan Indonesia.

Review Film Empat Musim Pertiwi, Puisi Visual Tentang Trauma, Patriarki, Dan Ketahanan Perempuan.

Mengawali perjalanannya dari panggung sinema global hingga siap menyapa penonton domestik, Empat Musim Pertiwi hadir bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan sebuah eksplorasi sinematik yang intens, puitis, sekaligus menekan emosi penontonnya.

Salah satu pencapaian visual dan naratif terbesar film ini adalah pengolahan latar Bromo. Kamila Andini meminjam fenomena lanskap Bromo—dengan kabut, pasir, vegetasi rumput, hingga lereng terjalnya—untuk menyimbolkan empat fase (seasons) emosional perempuan: dari masa paling kelam (winter), penderitaan yang membakar (summer), hingga penemuan kembali harapan dan penyembuhan (spring).

Sinematografi dengan palette warna dingin dan kontras tinggi berhasil merawat atmosfer misteri.

Review Film Empat Musim Pertiwi, Puisi Visual Tentang Trauma, Patriarki, Dan Ketahanan Perempuan.

Lanskap pegunungan tidak disajikan sekadar sebagai latar eksotis, melainkan karakter pasif yang merepresentasikan trauma terpendam dan ketidakpastian masa depan tokoh-tokohnya.

Performa acting para cast di level top-notch, Putri Marino menampilkan akting berskala tinggi sebagai sosok antihero.

Putri bertransformasi menjadi wanita yang penuh luka, rapuh, namun menyimpan ketangguhan yang tajam. Tatapan matanya menyampaikan begitu banyak narasi tanpa perlu banyak dialog.

Dan, ada Arya Saloka setelah sukses beradu peran di Gadis Kretek, reuni Arya Saloka dan Putri Marino membawa dinamika chemistry yang penuh ketegangan, kerinduan terlarang, dan penyesalan masa lalu.

Ibu Christine Hakim, memang doi aktris kawakan…Perannya sebagai Mak Ira memberi napas kehangatan dan kejenakaan di tengah alur penceritaan yang cenderung kelam dan menekan.

Film ini menggabungkan elemen drama psikologis, ketegangan misteri, hingga cita rasa ala western kontemporer membuat film ini memiliki ritme yang tidak tergesa-gesa.

Bagi penonton yang mengharapkan resolusi konflik secara konvensional atau tempo penceritaan yang cepat, durasi 2 jam 17 menit mungkin terasa menuntut kesabaran.

Namun, gaya penceritaan slow-burn sengaja dibangun untuk membiarkan ketegangan dan luka sosial di desa itu mengendap perlahan pada benak penonton.

Anyway, film Empat Musim Pertiwi film ini telah mencatatkan rekam jejak yang mengagumkan di kancah internasional:

World Premiere di Toronto International Film Festival (TIFF) 2026: Diputar pertama kali di program Centrepiece, film ini mendapat standing ovation serta pujian kritikus internasional atas estetika visual dan kedalaman temanya.

Kompetisi Utama di Busan International Film Festival (BIFF) 2026: Memenangkan penghargaan bergengsi A Window on Asian Cinema, makin memperkuat posisi Kamila Andini di peta sinema Asia.

Perwakilan Resmi Indonesia untuk Academy Awards (Oscar) 2027: Komite Seleksi Oscar Indonesia secara resmi memilih Empat Musim Pertiwi sebagai wakil tunggal Indonesia untuk bersaing di kategori Best International Feature Film pada ajang 99th Academy Awards.

Well, looks promising dan gue rasa memang filmnya dikerjakan dengan totalitas.

Secara keseluruhan, Empat Musim Pertiwi adalah sebuah mahakarya sinema Indonesia yang berani merefleksikan benturan budaya, ketidakadilan struktur patriarki, dan perjuangan seorang perempuan untuk merebut kembali kedaulatan dirinya.

Pengakuan di festival film kelas dunia hingga pencalonannya di ajang Oscar 2027 menjadi bukti shahih bahwa kisah lokal yang digarap secara personal dan jujur mampu bergema secara universal.

Lebih dari sekadar tontonan, film ini adalah pengalaman audio-visual puitis yang membekas secara emosional.

Trending

Exit mobile version