Box Office

Review Film DUNE, A DARK MAGNIFICENT SCI-FI EPIC

Published

on

GwiGwi.com – Saya pernah membaca novel DUNE yang dikarang oleh penulis FrankHerbert ini sebelumnya walau sedikit banyak lupa ceritanya. Seingat saya buku bergenre sains fiksi ini, yang digaungkan sebagai novel Sains Fiksi terbaik, sebenarnya tidak punya banyak adegan aksi dan untuk dibuat sebagai film box office berbudget besar, daya tariknya untuk penonton awam sepertinya kurang. Apalagi setelah resepsi buruk film DUNE (1984) versi David Lynch, apa bisa adaptasi terbaru ini bernasib lebih baik?

Dari trailer secara visual sepertinya aman, megah nan epik namun bagaimana sutradara Denis Villeneuve menggarap daya tarik terkuat DUNE, naratif dan karakternya? Setelah menikmati film ini dalam format IMAX tempo hari, saya bisa mengatakan Denis Villeneuve dan tim telah berhasil memutus rantai kegagalan mengadaptasi kisah ini.

Leto Atreides (Oscar Isaac) diperintahkan Padishah Emperor Shadam Corrino IV untuk menempati planet Arrakis, planet berisikan padang pasir gersang yang kaya akan sumber daya alam penting bernama spice. Menyanggupi perintah itu, Leto kemudian melakukan pindahan besar-besaran dari Planet Caladan bersama keluarganya; selirnya Jessica (Rebecca Fergusson) wanita yang memiliki kekuatan The Voice dan tergabung dalam kelompok grup wanita berpengaruh di galaksi, Bene Gesserit, dan anaknya si pewaris keluarga Atreides, Paul Atreides (Timothy Chalamet), beserta para punggawa dan bala tentara mereka.

Leto yang waspada meminta 2 anak buahnya; Thuvir Hawatt, (Stephen Mckinley Henderson), seorang Mentat dan “master of assassins” dan Duncan Idaho (Jason Momoa), ahli pedang yang karismatik, untuk pergi lebih dahulu dan menjalin hubungan dengan klan lokal yang dijuluki Fremen. Salah satu anggotanya, Chani (Zendaya) entah kenapa kerap muncul di mimpi Paul.

Meski terdengar sebagai posisi yang menggiurkan, di balik semua itu terdapat intrik kejam yang melibatkan keluarga saingan mereka, Harkonnen, yang dipimpin oleh Baron Harkonnen (Stellan Skarsgard). Berbagai peristiwa setelahnya akan merubah hidup Paul dan ibunya selamanya.

Dari kilasan cerita di atas terdapat banyak istilah lore cerita yang asing dan mungkin berat diingat para penonton. Menyadari hal itu, sutradara Denis Villeneuve melakukan perubahan pada penyampaian cerita dengan memotong banyak porsi lore dan dialog beberapa karakter di buku dan menggunakan perspektif Paul di hampir 95% durasi film. Hasilnya, cerita jadi lebih mudah disampaikan dan dicerna meski tetap penyampaian lore yang agak padat di awal, namun setelahnya lebih ringan.

Jadi, bagi yang ragu karena takut filmnya “berat,” anda aman.

DUNE bukanlah film yang mengglorifikasi heroisme seperti cerita superhero pada umumnya. Segala aksi di film ini mempunyai dampak negatif yang terus memberi suspense. Leto berhasil menyelamatkan pekerja dari cacing raksasa padang pasir namun harus mengetahui posisi barunya di Arrakis disetting untuk gagal, Duncan Idaho secara individu memang sanggup menghajar banyak musuh tapi pihaknya menderita kerugian. Bahkan saat Paul berhasil melewati ujian Bene Gesserit dan mengalahkan seorang Fremen, kemenangan itu tidak terasa akan membawa akibat yang lebih baik ke depannya.

Kesan sebuah bencana yang pelan merayap dari balik sana siapa pun menang atau kalah inilah yang dominan dalam film dan memang itulah kisah buku pertama DUNE; dekonstruksi dari narasi messiah. Bayangkan THE LAST SAMURAI (2003), AVATAR (2009), dan JOHN CARTER (2012) dengan cerita dan akhir yang lebih gelap. Fakta Denis Villeneuve bisa menangkap esensi itu saja sudah merupakan prestasi.

Paul juga bukan tipikal jagoan seperti halnya para superhero. Dia lebih digambarkan sebagai penyintas berbagai peristiwa baik dari luar mau pun dari dalam. Kompleksitas ini yang secara baik dibawakan oleh Timothy Chalamet. Dia mampu membuat Paul terus menarik baik saat dia sedang lemah mau pun saat mantap memilih jalan hidupnya meskipun tak banyak beratraksi..

Jessica si ibu pun menarik. Di saat film-film Hollywood sekarang dihujani karakter perempuan “modern strong woman” yang kaku dan membosankan seperti terminator tanpa kharisma, melihat Jessica begitu rapuh dan penuh kekhawatiran padahal sih sakti juga. Melihat sisi manusiawi nya deras keluar inilah yang membuat karakternya menyegarkan.

Meski saat naratifnya sedang melemah, pengadeganan dan aktingnya begitu mengangkat isi scene yang kadang biasa saja. Contoh terbaiknya adalah setiap adegan keluarga Harkonnen. Apa yang dibicarakan sebenarnya tak jauh dari bersiasat, perintah membunuh atau membunuh, tapi penggambaran Harkonnen yang seperti binatang buas berkulit manusia yang kejam, brutal dan rakus, namun diadegankan dengan elegan nan creepy. Itu wew sekali.

Tak berarti isi filmnya suram saja. Karakter-karakter seperti Gurney Halleck (Josh Brolin) yang manyun terus dan baru tersenyum ketika situasi terdesak, Duncan Idaho yang ramah dan paling mendekati sosok hero umumnya, Stilgar (Javier Bardem) si Fremen yang meludah di depan Leto, mereka menginjeksi suasana menyenangkan di tengah beratnya situasi. Memang hanya dosis kecil tapi justru jadi menonjol dan memorable.

Pendekatan Denis dalam menunjukkan gambar skala besar ini tidak asal setor gambar indah saja. Kalau di beberapa film panjang dan pendek Indonesia, kadang kali saya melihat lansekap alam Indonesia begitu saja diberikan. Seperti iklan travel saja.

Denis memastikan gambar-gambar skala megah nan indah itu baru diberikan apabila dibutuhkan secara naratif. Misal; Saat utusan Emperor datang ke planetnya Leto. Tentu pesawat utusan harus berskala besar untuk memperlihatkan pengaruh dan power dari pengutusnya. Hasilnya secara audiovisual tak menjadi gambar kosong asal pemukau mata saja tapi juga memiliki fungsi untuk karakter dan cerita.

DUNE itu seperti melihat Denis Villeneuve flexing skill directing beliau. Ia bisa mengadaptasi cerita yang sebenarnya tidak jauh beda dengan AVATAR (2009) menjadi tontonan yang sebisa mungkin dicerna umum tanpa kehilangan esensi novelnya. Saya tidak berharap dia mengadaptasi buku sekuel-sekuelnya sih, hanya ingin lihat bagaimana dia bisa membuat ending buku satu nanti dengan cetar memuaskan. Ending itu..wihh!!!!!

Film ini punya adegan orang dipenggal dan kepalanya ditenteng. Juga ada profanity meski sedikiiit, tapi kok ratingnya SU? Bingung sama LSF.

Trending

Exit mobile version