Box Office
Review Film DOG, Veteran, Road Trip, dan Persahabatan dengan Anjing
GwiGwi.com – “Jangan bunuh anjingnya,” kata Channing Tatum, aktor yang juga menjadi co-director bersama Reid Carolin, di film DOG ini. Mengaku sebagai penyayang anjing, Tatum juga merasa membunuh anjing adalah salah satu dosa dalam film. Lebih dari membunuh orang lol. Jadi yang khawatir film ini akan jatuh setragis itu, anda aman. Malahan, DOG menawarkan sesuatu yang barangkali lebih menarik lagi.
Briggs (Channing Tatum) adalah veteran Army Ranger yang berharap bisa kembali ke medan perang, tapi cedera otaknya membuatnya sulit mendapat kesempatan itu. Saat mendapat telepon dari atasannya, Briggs pikir saatnya akhirnya tiba. Namun ternyata dia malah harus mengantar anjing militer yang juga veteran perang Afghanistan, Lulu (dimainkan 3 anjing Belgian Malinois – Lana, Britta dan Zuza) untuk menghadiri pemakaman handlernya, Rodriguez (Eric Urbiztondo)
Film Road Trip dengan dua veteran, manusia dan asu. Premise yang bisa jadi segar dan jarang ada.
Untuk film anjing seperti DOG, penonton mungkin bisa menerka seperti apa plotnya; si manusia yang tadinya berjarak dengan si anjing, kesulitan mengaturnya, mencoba memahami lalu akur dan akhirnya malah sulit meninggalkan. Menariknya, plotting film ini membuat ceritanya jadi segar dan gak membosankan.
Saat anda kira film akan mencheck list klise, ternyata malah bergulir ke yang lain. Plotting adegan begitu kreatif untuk nampilin komedi dan haru yang mendekatkan Briggs dan Lulu .
Aspek veteran keduanya pun menarik; diperlihatkan hidup tak mudah Briggs yang punya cedera, menghadapi anak-anak muda hipster, bagaimana teman-teman senasibnya menghadapi kehidupan biasa jauh dari militer, veteran lain yang tak beruntung dan trauma Lulu sendiri.
Anjingnya punya trauma. Jadi anjingnya “terluka” oleh perang sebagaimana si Briggs. Wew.
DOG mungkin gak mendobrak banyak tipikal film se sub genrenya dan berakhir sederhana, tapi aspek militer nya ini begitu menarik untuk dilihat dan dibicarakan. Veteran mau yang berkaki dua atau empat, mereka layak diperhatikan lebih baik.
Banyak profanity and harsh language, it shouldn't be PG-13. Ada juga adegan di Portland yang wuaneh dan lama, like why they spend too much time in this?