Box Office

Review Film Brahms: The Boy II, Berpotensi Namun Teralu Ringan

Published

on

GwiGwi.com – Sewaktu Joseph (Ralph Ineson) memberi tahu Liza (Katie Holmes) dan Sean (Owain Yeoman) kalau anak lelaki keluarga Heelshire yang meninggal bernama Brahms, nama yang sama dengan boneka yang ditemukan anak mereka, Jude (Christopher Convery), sulit untuk merasa terkejut lantaran di judul filmnya jelas tertulis BRAHMS: THE BOY II. Sudah pasti sentral horrornya adalah boneka tersebut dan segala yang misterius dan buruk berpusat padanya.

Liza menderita trauma berkepanjangan setelah rumahnya disantroni perampok. Anaknya, Jude yang juga menjadi korban menjadi bisu karena shock oleh peristiwa tersebut. Sang kepala keluarga, Sean berusaha menghibur mereka dengan menetap di rumah yang jauh dari kota. Tempat yang mereka tinggali dulu dimiliki oleh keluarga Heelshire dan di sanalah teror Brahms dimulai.

Bagi yang mengetahui cerita film pertamanya yakni THE BOY (2016) tentu tahu tentang twist mengejutkan yang membuat Brahms menjadi sosok unik dibanding karakter horror lain. Tentu sekuel ini membuat penasaran bagaimana karakter ini akan dieksplor lebih jauh. Sayangnya para pembuat filmnya membuat perubahan yang begitu besar untuk Brahms dan menjadikannya tak jauh berbeda dengan Annabelle.

BRAHMS: THE BOY II tampaknya ingin mengikuti kesuksesan franchise CONJURING terutama ANNABELLE sampai ke akarnya. Ceritanya sangat formulaik tipikal cerita horror dari boneka sampai terasa mirip. Rasanya hanya tinggal menunggu saja para karakternya sadar bonekanya bermasalah. Mencoba sabar untuk melihat barangkali film ini punya sentuhan orisinil pun sulit karena hampir nihil adanya. Keseraman yang disajikan terlalu sering menggunakan jump scare yang membikin jenuh malah cukup menyebalkan. Diperburuk dengan aturan main Brahms yang tidak jelas seolah mempertegas kalau konsep horror filmnya sendiri kurang didalami hingga hasilnya tak maksimal.

Cerita filmnya yang ingin mengeksplorasi soal trauma sebenarnya memiliki potensi yang besar. Liza yang tidak mau disentuh, Jude yang bisu berkomunikasi dengan tulisan dan Sean yang ramah. Sangat mampu sekali membuat dramanya lebih menarik. Namun sayang kurang bisa dinikahkan dengan horrornya hingga elemen ini hampir tenggelam dan berakhir seadanya saja.

BRAHMS: THE BOY II berasa hanya sebuah konsep yang masih kasar, tak banyak mempunyai identitas sendiri hingga mengikuti apa yang populer dan terlihat ingin sekali menjadi sebuah icon baru. but buat yang suka menonton film horror mungkin film ini bisa mengisi waktu luang kalian jadi silahkan disaksikan ya

 

Trending

Exit mobile version