Box Office

Review Film Black Panther, all hail the king

Published

on

GwiGwi.com – Setelah kejadian dalam Captain America: Civil War, T'Challa pulang ke Wakanda untuk meneruskan tahta ayahnya yang terbunuh sebagai Raja yang sah, T'Challa harus menerima berbagai tantangan dari internal negaranya sendiri maupun dari pihak luar yang ingin mengekspolitasi sumber daya alam Wakanda yaitu vibranium.

Di sisi lain ada saudara jauh T'Challa yang menuntut hak atas tahta Wakanda. Film ke-18 dalam Marvel Cinematic Universe (MCU) ini menandai babak ke-6 dalam Phase 3 menjadi film solo terakhir menjelang Avengers: Infinity War yang akan rilis bulan April 2018 nanti. Di tahap ini, Marvel semakin matang dalam membuat setiap film pahlawan supernya. Tidak hanya menyajikan adegan aksi yang menghibur mata dan telinga semata, tetapi juga menyelipkan tema-tema besar yang konsisten sepanjang film.

Film ini 95% pemerannya yang berkulit hitam, ternyata memiliki tema cerita yang cukup signifikan, bisa dibilang sangat tepat dengan era di mana Brexit dan Trump's Wall banyak dibicarakan. Wakanda memiliki sumber daya alam vibranium sebagai material terkuat di dunia, yang kemudian menjadi sumber utama kemajuan teknologi Wakanda. Terjadi dilema di dalam diri T'Challa apakah tetap mengisolasi diri dari dunia dengan kekhawatiran teknologi dan sumber daya akan jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab, atau membuka diri dan membantu mereka yang membutuhkan.

Meski menjadi tema yang cukup berat bagi tipikal film superheroes, Black Panther tetap tampil kocak dan menghibur lewat karakter-karakternya yang sangat lovable. Mulai dari Shuri adik kecil T'Challa hingga Okoye si jenderal perang yang punya sudut pandang menarik tentang dunia. Serta tidak ketinggalan Michael B. Jordan yang berperan sebagai Erik Killmonger tampil dengan cukup prima, momen ini dibuat oleh nya sebagai ‘penebusan dosa' dalam memerankan tokoh dari komik marvel yang sebelumnya ia berperan sebagai Human Torch di Fantastic Four (2016) yang dicerca habis oleh fans dan kritikus.

Setiap karakter yang muncul dalam film ini digali dengan cukup dalam dan sangat meyakinkan, suatu hal yang cukup langka ditemui di genre superhero. Memang guyonannya tidak selucu Thor: Ragnarok (2017) yang saking komikalnya malah mendatangkan banyak kritikan. Black Panther berhasil tampil sangat pas dengan pesan sarat makna yang diangkat dengan selipan humornya.

Hats off untuk sutradara Ryan Coogler dalam menampilkan budaya Afrika luar dalam. Sebagai film blockbuster, apalagi bertema pahlawan super, menampilkan budaya yang tidak familiar jelas menjadi resiko besar. Tetapi dengan penggunaan bahasa asli Afrika sangat mempengaruhi atmosfer film ini menjadi cukup meyakinkan. Apalagi bahasa isi Xhosa, bahasa yang digunakan sebagai bahasa resmi Wakanda, memiliki click tounge yang menarik dan mirip-mirip dengan bahasa si Xi dalam film Gods Must Be Crazy. Belum lagi film ini dibungkus dengan music scoring bergaya instrumen khas Afrika, yang sukses menyajikan atmosfer eksotis dan Wakanda yang modern dengan apik.

Trending

Exit mobile version