TV & Movies
Review Film Black Adam, So Much Power, So Little Depth
GwiGwi.com – Dwayne Johnson menjanjikan perubahan hirearki kekuatan di semesta perfilman DC. Apa yang mungkin harusnya dijanjikan adalah perbaikan kualitas filmnya.
Teth Adam (Dwayne Johnson), sepanjang film sampai akhir tak pernah dipanggil Black Adam entah kenapa, bangun dari tidur panjang 5000 tahunnya. Dia melihat kota tempatnya tinggal, Khandaq, telah berubah total dan kini dikuasai kelompok tentara bayaran bernama Intergang.
Diarahkan oleh bocah lokal bernama Amon (Bodhi Sabongui), Adam membunuhi para anggota Intergang tanpa ampun. Khawatir dengan aksi brutal ini, Justice Society, kelompok (pembela keadilan..? Gak terlalu dijelaskan juga) yang dipimpin Carter Hall sang Hawkman (Aldis Hodge), berkumpul untuk menghentikannya.
Bila bicara soal “hierarchy of power” yang kerap disebut The Rock pada marketing nya, barangkali janji ini ia tepati. Sedari awal diperlihatkan betapa sangat melimpahnya kekuatan Black Adam. Super cepat, super kuat, dan petir dari tangannya langsung membunuh. Mungkin semesta film DC tak perlu Justice League. Cukup dia menggila sendirian saja beres.
Flexing power yang menggebu ini sebenarnya sedikit membuat paruh awal BLACK ADAM menarik. Baku hantam yang hampir tanpa henti membuat alur menjadi cepat tak jemu dan komedi fish out of the water Teth Adam yang tak paham dunia modern selalu menyegarkan. Koreografi aksinya pun menarik, tapi ternyata berondongan gelegar audio dan visual itu punya bayaran mahal karena secara naratif dan karakter, film ini sungguh dangkal.
Baik dari cara bercerita, karakter dan naratif, BLACK ADAM tidak menuntut banyak dari audiens untuk berpikir. Cukup siap mengikuti alurnya yang cepat. Dalam kadar yang imbang bisa saja cukup servicable hanya saja film ini mendangkalkan terlalu jauh sampai rasanya hampir tak ada kedalaman yang menjadikan aksi menggelegar itu berbobot. Wam bam bang for a buck saja.
Cara bertutur yang begitu terburu-buru dan menggempur atensi penonton dengan score yang tak pernah berhenti, quick cut dan aksi yang konstan. Tak memberi banyak ruang untuk memperkuat karakterisasi atau mengokohkan narasi. Sangat surface level sekali.
Terdapat potensi tema yang menarik seperti Teth Adam sebagai pelindung Khandaq dan Justice Society sebagai kelompok dari luar yang mengklaim diri sebagai penolong, etc. Sayangnya, selain dari pemicu konflik, hal ini tak dieksplorasi lebih jauh.
Para anggota Justice Society seperti Kent Nelson/Doctor Fate (Pierce Brosnan), Al Rothstein/Atom Smasher (Noah Centineo) dan Maxine Hunkel/Cyclone (Quintessa Swindell), hanya kebagian bercanda, bereksposisi atau meramaikan aksi. Melihat potensinya, semoga di lain waktu mereka diberi ruang yang lebih banyak.
Malahan tindakan para “hero” ini bertolak belakang karena berbagai kehancuran di Khandaq yang diakibatkan aksi mereka. Sama sekali tak memikirkan efek kehancurannya pada warga atau pun niat membantu memperbaiki kerusakannya. Anehnya lagi, karakter sampingan juga tidak mempermasalahkan bahkan para warga akhirnya berbarengan mendukung Black Adam.
BLACK ADAM mungkin bukanlah perubahan besar yang dibutuhkan semesta film DC. Kritikan pada masa Zack Snyder seperti aksi CG yang eksesif dan lemahnya karakter justru digas lagi. Apakah memang ini identitas film-film DC seterusnya?