TV & Movies

Review Film Animal Kingdom, Suka duka menjadi binatang

Published

on

www.gwigwi.com – Ibu Èmile (Paul Kircher), Lana (Florence Deretz), bermutasi menjadi binatang, bisa dibilang mutan. Ayah Èmile, Francois (Romain Duris) mengajak anaknya pindah supaya dekat ke ibunya yang akan dimasukkan ke fasilitas perawatan mutan baru.

Karena hujan besar bis yang membawa ibunya tergelincir dan para mutan di dalamnya banyak yang kabur. Francois kemudian memaksa anaknya untuk ikut dengannya mencari si ibu. Sementara itu Èmile merasakan perubahan dalam dirinya.

ANIMAL Kingdom atau judul asli perancisnya LE RÈGNE ANIMAL adalah film ber sub genre karakter menjadi binatang atau monster. Biasanya jadi makhluk tak berakal.

Review Film Animal Kingdom, Suka Duka Menjadi Binatang

Barangkali berbeda dengan yang biasanya Hollywood lakukan pada sub genre ini seperti dibuat ada manusia atau perusahaan jahat, mutasi yang harus obati atau didramatisir abis romansanya. Menjadi hero narrative.

ANIMAL Kingdom lebih tertarik dengan gonjang ganjing emosi dan keseharian perubahan Èmile membuatnya berbeda meskipun sajiannya bisa membuat tak nyaman.

Èmile yang tadinya cuek namun akibat peristiwa di hidupnya ini bisa melihat ayahnya yang kaku soal aturan ternyata sangat sayang ibunya, perubahan pada dirinya juga membuat melihat para mutan yang dari sisi lain dan bagaimana berserah menerima keadaannya tak lantas membuat dia tak bahagia.

Menarik bagaimana film memperlihatkan para mutan bukan sebagai monster buas atau zombie. Mereka adalah manusia yang mengikuti insting binatang barunya itu baik agresif melindungi diri, cari makan atau bersembunyi. Adalah persepsi manusia di sekitarnya yang terkesan memaksakan bagaimana mereka harus hidup, bukan berkompromi pada keadaan baru mereka. Tapi hey di sisi lain tetap masuk akal manusia latah bereaksi demikian pada fenomena baru ini. Kompleksitas masalah yang  renyah dinikmati.

Pendekatan realis dari filmmakernya membuat suka drama ANIMAL Kingdom lebih menikam. Bukan tentang serta merta menyelesaikan masalah tapi bagaimana hidup dengan situasi baru itu.

Saya suka bagaimana si setengah burung Fix (Tom Mercier) yang tadinya ditakuti memiliki sisi yang bisa membuat penonton sangat peduli; si bapak yang strict perhatiannya merawat perubahan Èmile sampai detil justru menjadi adegan menyentuh, etc. Untuk film tentang orang jadi binatang, ternyata kental dengan nilai manusiawi.

Walau memiliki momen-momen yang umum di film sejenis, ANIMAL Kingdom secara keseluruhan mampu membuatnya jadi cukup segar dan berdimensi.

Meskipun yaah ada beberapa pertanyaan yang sedikit menggelitik terkait logika filmnya (ex: Bagaimana bila ada yang perubahannya nanggung dan terus merasa tersiksa? Apakah menuruti insting binatang selalu jalan terbaik?), tapi bagaimana film ini membuat saya berpikir ke sana dibanding mikirin klisenya genre ini, boleh jadi adalah pencapaian spesial filmnya.

Not for kidsss

Trending

Exit mobile version