TV & Movies
Review Film Agak Laen: Menyala Pantiku, Komedi yang sekaligus heart-warming
www.gwigwi.com – Cerita berpusat pada empat sahabat karib Bene, Boris, Jegel, Oki yang bekerja sebagai detektif ala kadarnya.
Mereka adalah tim investigasi yang dikenal karena rekam jejaknya yang buruk selalu gagal menjalankan misi dengan cara yang absurd dan kacau, sering kali berujung pada kekonyolan yang tak terduga.
Nasib karier mereka berada di ujung tanduk setelah serangkaian kegagalan beruntun, hingga akhirnya atasan memberikan kesempatan terakhir: sebuah misi krusial untuk membuktikan kemampuan mereka atau selamanya dipecat sonder pesangon.
Review Film Agak Laen: Menyala Pantiku, Komedi Yang Sekaligus Heart Warming
Misi tersebut adalah menyusup ke sebuah panti jompo misterius bernama, yang menjadi pusat intrik utama film.
Petunjuk intelijen menunjukkan bahwa buronan utama adalah seorang tersangka dalam kasus pembunuhan anak walikota bersembunyi di antara para penghuni lansia di sana.
Untuk menyamar, keempat detektif ini berpura-pura menjadi perawat panti jompo, lengkap dengan seragam dan tugas sehari-hari yang melelahkan.
Review Film Agak Laen: Menyala Pantiku, Komedi Yang Sekaligus Heart Warming
Mereka harus merawat para orang tua lanjut usia, mengurus aktivitas rutin seperti makan siang bersama, terapi fisik, hingga menggelar acara hiburan sederhana untuk menghibur penghuni semua sambil diam-diam mencari identitas buronan tanpa menimbulkan kecurigaan.
Namun, seperti biasa dengan gaya “Agak Laen”, penyamarannya cepat berubah menjadi komedi.
Panti jompo yang awalnya tampak seperti tempat yang tenang dan penuh kehangatan justru menyimpan rahasia gelap seperti misteri-misteri tersembunyi di balik dinding-dindingnya, intrik antar-penghuni yang penuh plot twist, dan dinamika sosial yang absurd.
Film ini menggabungkan komedi situasi liar dengan elemen thriller ringan yang berbeda dari film pertama yang lebih horor komedi di rumah hantu pasar malam.
Review Film Agak Laen: Menyala Pantiku, Komedi Yang Sekaligus Heart Warming
Setting panti jompo dipilih untuk menantang stereotip “menyeramkan”, diubah menjadi arena kekacauan lucu yang penuh empati.
Film yang disutradarai dan naskahnya ditulis oleh Muhadkly Acho digarap dengan sangat matang, rapi, keep it simple and to the point.
Hal ini memudahkan seluruh penonton untuk langsung terhubung dengan alur cerita.
Lewat film ini, Acho lagi-lagi berhasil menggambarkan dengan baik bagaimana Indonesia adalah negara yang sangat plural dan beragam, dengan masyarakat yang memang terbiasa akan keberagaman tersebut.
Memang masih ada beberapa sindiran halus soal identitas tertentu, tapi semua itu terasa tidak melewati batas.
Ia menunjukkan dengan jelas, bagaimana identitas yang sensitif sebenarnya bisa dibawakan dengan santai jadi yang merespons tidak perlu emosi.
Review Film Agak Laen: Menyala Pantiku, Komedi Yang Sekaligus Heart Warming
Meski begitu, cara mengemas komedi keseharian dan diangkat ke layar lebar bukan perkara gampang. Banyak sineas dan komedian sebelumnya yang menggunakan formula serupa, tapi sedikit yang bisa menuai kesuksesan apalagi menjaganya.
Nah, Acho bisa dibilang salah satu di antara orang yang sedikit itu. Namun tentu saja, cerita Acho tak akan bisa berjalan bila tidak ada kuartet Agak Laen.
Sajian komedi slapstick disini memang mudah membuat tawa terutama untuk masyarakat awam, tapi rentan membuat sebuah karya menjadi kehilangan esensi.
Akan tetapi, dipadu dengan komedi verbal dengan materi ala stand-up juga memiliki jangkauan penonton yang terbatas.
Tapi lagi-lagi, chemistry mereka dengan sigap mampu membantu Acho dalam membawakan komedi slapstick tersebut lewat mimik, akting, tingkah laku, hingga koneksi di antara mereka.
Persis seperti yang dilakukan grup Warkop DKI di era keemasan-nya.
Secara keseluruhan, Agak Laen: Menyala Pantiku berhasil menyajikan film yang lebih rapih dibanding film pertamanya dan kali ini lebih heartwarming juga. Bisa dibilang Agak Laen menjadi ikon komedi modern nasional untuk saat ini.