Box Office
Review Film Ad Astra, Mengarungi Antariksa bersama Brad Pitt
GwiGwi.com – Saya terkesima dengan film James Gray yang berjudul THE LOST CITY OF Z(2016) yang bercerita tentang perjalanan penjelajah Percy Fawcett dalam mencari kota yang hilang di hutan Amazon. Padahal jarang sekali ada film tentang eksplorasi di awal abad 20 selain seri Indiana Jones yang berkualitas mumpuni. James Gray mampu menghadirkan perjalanan menegangkan, kaya misteri, sekaligus menghadirkan drama perjuangan yang menggugah emosi. Kemampuannya mengarahkan pemain pun gue acungkan jempol lantaran bisa menghadirkan akting terbaik aktor Charlie Hunnam yang pernah gue lihat.
Mengetahui kalau film terbarunya Ad Astra yang bercerita tentang perjalanan di angkasa luar dan dibintangi Brad Pitt, saya tentu penasaran apa yang akan dia lakukan dengan setting ruang vakum gelap nun jauh di luar sana dari segi audiovisual dan bagaimana ia meramu cerita dan karakter yang berbobot dari situ. Mayor Roy Mcbride (Brad Pitt) sulit merasakan emosi dari sekitarnya baik saat ditinggal orang tersayang atau hampir kehilangan nyawa. Kondisinya yang selalu tenang ini justru ideal untuk perjalanan luar angkasa yang jauh. Suatu hari ia ditugaskan oleh Space Command atau SPACECOM untuk pergi ke Pos yang berada di Mars untuk menghubungi ayahnya, H. Clifford Mcbride (Tommy Lee Jones) yang diduga hilang dalam “Lima Project” – misi untuk mencari makhluk berintelejensi tinggi lain. Komunikasi ini dirasa penting karena sumber bencana bernama “Surge” atau “Gelora” yang menyerang alat elektronik di seantero tata surya berada di posisi terakhir ayah Roy.
James Gray tak hanya mampu menampilkan luar angkasa yang mengagumkan tapi juga kengeriannya, kesunyiannya dan terpencilnya manusia yang melayang di ruang yang luas itu. Ad Astra juga tidak miskin adegan spektakuler dari; baku tembak di bulan, pendaratan darurat di mars dan klimaks filmnya yang berkaitan dengan cincin planet neptunus. Dari segi gonjang-ganjing petualangan luar angkasa, Ad Astra cukup memuaskan walau harus bersabar karena alurnya lambat. Setiap sudut setting masa depan seolah disuguhkan pada penonton. Kita diajak untuk melihat markas di Bulan yang luas, pesawat terdampar mengambang, dan danau di Mars yang gelap. Begitu kredit diputar, saya merasa seperti beneran baru pulang jalan-jalan di luar angkasa…. dengan Brad Pitt. Pengalaman yang sayang dilewatkan untuk dinikmati di layar besar.
Sayangnya saya tak bisa berkata sama soal story arc karakternya. Beberapa scene Roy seakan hanya menjadi perwakilan perspektif penonton dalam berbagai hal yang terjadi di luar angkasa. Sifatnya yang kelewat tenang terkadang sedikit merusak ketegangan atau membuatnya jadi datar. Beberapa adegan aksi yang diberikan tidak punya banyak kontribusi untuk perkembangan karakternya sendiri. Hanya terjadi untuk menaikkan tensi atau menggambarkan bahayanya hidup di luar sana tanpa punya pengaruh signifikan pada Roy. Visualnya pergi melesat jauh namun dari naratif sulit untuk tidak merasa been there done that.
Cerita yang lebih menarik justru datang secara subteks atau kondisi settingnya dalam memandang penjelajahan luar angkasa. Berawal dari eksplorasi dengan tujuan mulia seperti yang dilakukan oleh ayah Roy, berlanjut ke penelitian seperti markas di Mars, kemudian pada akhirnya komersialisasi seperti pangkalan di Bulan yang tak ubahnya mall di Jakarta. Konflik yang dialami Roy di Bulan menariknya dianggap sebagai keseharian. Seolah sifat dasar manusia untuk berselisih sudah hal lumrah dan tak akan berubah mau di mana pun kapan pun. Ad Astra mempunyai bagasi atau muatan berat sebagai kompensasi penonton menikmati perjalanannya, tapi wow, indahnya pemandangan… sangat disayangkan jika kamu melewati film ini.