Daftar Anime
Review Episode Pertama Chitose-kun wa Ramune Bin no Naka, Bagus untuk Awal Musim?
www.gwigwi.com – Anime Chitose-kun wa Ramune Bin no Naka atau dikenal dengan judul bahasa Inggris Chitose Is in the Ramune Bottle resmi tayang pada 7 Oktober 2025 pukul 23:00 JST. Serial anime yang diproduksi oleh studio Feel ini diadaptasi dari novel ringan karya Hiromu dan raemz. Kisahnya menghadirkan kisah tentang kehidupan sekolah menengah atas yang penuh drama dan intrik sosial.
Dengan durasi sekitar 25 menit per episode, anime ini dapat kamu saksikan secara legal di platform streaming Crunchyroll, Bilibili, dan kanal YouTube Ani-One Asia. Lantas, apakah episode pertama ini cukup menarik untuk membuatmu mengikuti musim ini hingga akhir? Mari kita bahas secara mendalam.
1. Pengenalan Karakter Utama yang Kontroversial namun Menarik
Episode pertama memperkenalkan kamu pada Saku Chitose, seorang siswa SMA Fujishi yang tampak sempurna di permukaan. Chitose digambarkan sebagai ketua kelas yang populer, memiliki kelompok elite bernama Tim Chitose, dan dikagumi banyak siswa.
Namun, reputasinya tidak lepas dari cercaan. Ia sering dijuluki sebagai “bajingan kelas 5 yang suka main perempuan” oleh mereka yang iri dengan popularitasnya. Karakternya memang tipe love-him-or-hate-him. Bahkan, di dalam animenya tidak berusaha menyembunyikan sisi pretensious Chitose. Hal ini membuat sebagian penonton merasa kurang nyaman dengan kepribadiannya yang blak-blakan.
Yang menarik adalah bagaimana anime ini menunjukkan lapisan kompleksitas di balik topeng kesempurnaan Chitose. Melalui narasi internal, kamu bisa merasakan filosofi hidupnya yang cukup dalam: “Jika aku tidak bisa hidup dengan indah, itu sama saja dengan mati”. Dialog ini mengisyaratkan bahwa Chitose bukanlah sekadar remaja populer biasa. Interaksinya dengan guru wali kelasnya, Iwanami (atau dipanggil Kura-sen), juga memperlihatkan dinamika hubungan tidak konvensional. Keduanya kerap saling melempar sindiran tajam namun penuh makna.
2. Alur Cerita dengan Pendekatan Tidak Biasa
Premis utama episode pertama berkisar pada tugas yang diberikan kepada Chitose: membawa pulang Kenta Yamazaki, seorang siswa yang telah menjadi hikikomori dan tidak datang ke sekolah selama berbulan-bulan. Tugas ini menjadi tantangan besar karena Kenta justru berada di jalur yang sangat membenci Chitose dan segala yang ia wakili. Pendekatan yang digunakan Chitose pun tidak biasa. Ia pertama kali datang dengan Yua Uchida, seorang gadis tenang dan rasional, berharap pendekatannya yang lembut bisa membujuk Kenta untuk membuka pintu. Sayangnya, upaya pertama ini gagal total dan Kenta menolak bertemu dengan mereka.
Seminggu kemudian, Chitose kembali dengan strategi berbeda, kali ini membawa Yuuko Hiiragi, anggota nomor satu di Tim Chitose yang terang-terangan menyukai Chitose. Yuuko mencoba berbicara dengan jujur tanpa memandang rendah kecerdasan Kenta, namun pendekatan ini juga gagal. Yang mengejutkan adalah klimaks episode ini: Chitose meminta maaf kepada ibu Kenta, lalu memanjat ke balkon rumah dan menghancurkan jendela kamar Kenta dengan tongkat baseball! Metode yang sangat ekstrem ini menunjukkan betapa berani dan tidak konvensionalnya cara penyelesaian masalah dalam serial ini.
3. Kualitas Visual yang Memukau dengan Sudut Pengambilan Gambar Kreatif
Review Episode Pertama Chitose Kun Wa Ramune Bin No Naka, Bagus Untuk Awal Musim?
Dari segi teknis, episode pertamanya menampilkan kualitas visual yang patut diacungi jempol. Studio Feel berhasil menghadirkan pengambilan gambar yang sangat sinematik dan tidak biasa untuk anime bergenre slice-of-life. Kamu akan menemukan extreme wide shots yang menangkap keindahan masa muda yang teridealisasi. Terdapat perspektif kamera yang kreatif, seperti mengintip karakter melalui lubang tangga atau menatap puncak menara transmisi dari dasarnya. Teknik penyutradaraan ini membuat setiap adegan terasa hidup dan mengundang rasa ingin tahu tentang dunia yang digambarkan.
Meskipun demikian, ada beberapa kelemahan dalam eksekusi warna dan pasca-produksi yang terasa sedikit kurang optimal. Namun, kelebihan visual ini berhasil mengimbangi dialog yang kadang terasa terlalu berat dengan narasi internal bertele-tele. Sutradara Yuji Tokuno bersama dengan episode director Taichi Yoshizawa dan Shinichi Tatsuta berhasil menciptakan atmosfer elegan dan evocative. Kombinasi animasi berkualitas dengan desain karakter oleh Sumie Kinoshita memberikan identitas visual yang kuat untuk serial ini.
4. Dialog Cerdas yang Keluar dari Pakem Anime Sekolahan
Salah satu kekuatan terbesar episode pertama ini adalah penulisan dialognya yang sangat tidak konvensional dan cerdas. Berbeda dengan anime slice-of-life sekolahan pada umumnya yang menggunakan frasa-frasa klise dan trope yang dapat diprediksi, Chitose-kun wa Ramune Bin no Naka berani mengambil pendekatan berbeda. Ketika Chitose bertemu dengan teman lamanya, ia langsung mengenali buku yang sedang dibaca gadis itu dan merespons dialognya dengan kutipan langsung dari buku tersebut. Pendekatan ini menunjukkan kedalaman karakter dan menciptakan percakapan yang terasa autentik dan menyegarkan.
Contoh lain adalah banter antara Chitose dan Kura-sen di atap sekolah, di mana Chitose melontarkan komentar yang terdengar merendahkan tentang kehidupan gurunya. Alih-alih memarahi atau tersinggung, Kura-sen justru membalas dengan sindiran self-deprecating yang jenaka. Dialog seperti ini membuatmu merasa sedang menonton sesuatu yang fresh dan tidak terpaku pada formula standar anime sekolahan. Meski cerita utamanya bukanlah konsep baru, cara penyampaiannya melalui interaksi karakter yang tajam dan witty inilah yang membuat serialnya menonjol.
5. Kekurangan yang Perlu Kamu Pertimbangkan
Meskipun memiliki banyak kelebihan, episode pertama ini juga memiliki kelemahan yang cukup signifikan dan perlu kamu ketahui sebelum memutuskan melanjutkan serial ini. Penulisan yang terasa sangat “light novel-ish” menjadi masalah utama. Banyak narasi internal yang mencoba terdengar filosofis dan bermakna, namun justru terasa mengganggu dan sulit diingat. Humor yang digunakan juga cenderung klise dan kadang tidak nyaman. Contohnya joke tentang meraba-raba dan memperlihatkan pakaian dalam, serta penggambaran para gadis sebagai “anggota harem” yang terasa dipaksakan dan tidak natural.
Selain itu, karakterisasi yang terasa performatif dan dipaksakan membuat beberapa momen kurang dapat dipercaya. Bagi kamu yang tidak menyukai protagonis dengan kepribadian arogan atau metode penyelesaian masalah ekstrim, Chitose mungkin bukan karakter yang mudah didukung. Namun, jika bersedia memberikan kesempatan untuk perkembangan karakternya, ada potensi serial ini menunjukkan sisi lembut Chitose.
Kesimpulan: Apakah Bagus untuk Awal Musim?
Episode pertama Chitose-kun wa Ramune Bin no Naka adalah permulaan yang kontroversial namun menjanjikan. Dengan jam tayang pada pukul 23:00 JST setiap hari Selasa, anime ini menargetkan penonton yang mencari sesuatu yang berbeda dari slice-of-life konvensional. Kualitas visualnya yang sinematik dan dialog cerdas yang keluar dari pakem standar menjadi nilai tambah yang kuat. Namun, karakterisasi Chitose yang polarisasi dan humor yang kadang tidak nyaman bisa menjadi penghalang bagi sebagian penonton.
Jika kamu menyukai anime dengan protagonis kompleks, dialog tajam, dan tidak keberatan dengan pace lambat, Chitose-kun wa Ramune Bin no Naka patut kamu tonton. Dengan 13 episode yang dijadwalkan untuk season pertama ini, masih ada banyak ruang untuk perkembangan karakter dan cerita yang lebih mendalam. Keputusan ada di tanganmu, apakah kamu siap memberikan kesempatan pada serial yang tidak biasa ini?