Daftar Anime
Review Dua Episode Toujima Tanzaburou wa Kamen Rider ni Naritai: Apakah Menepati Ekspektasi?
www.gwigwi.com – Toujima Tanzaburou wa Kamen Rider ni Naritai atau Tojima Wants to Be a Kamen Rider hadir sebagai anime yang menggabungkan aksi, komedi, dan pesan emosional mendalam. Diproduksi oleh LIDENFILMS dengan kolaborasi Toei Company dan Ishimori Productions, anime ini mulai ditayangkan pada 5 Oktober 2025 dan mengudara setiap hari Minggu pukul 00:30 JST.
Dengan durasi sekitar 23-24 menit per episode, anime ini menawarkan pengalaman yang unik bagi penggemar tokusatsu maupun pendatang baru. Mari kita bedah dua episode pertama untuk mengetahui apakah anime ini benar-benar menepati ekspektasi yang tinggi dari para penggemarnya.
1. Premis yang Menyentuh Hati: Mimpi Seorang Pria Berusia 40 Tahun
Episode pertama berjudul “Tojima Wants to Be a Kamen Rider!” memperkenalkan kamu pada Tanzaburo Tojima. Dia adalah seorang pria berusia 40 tahun yang bekerja sebagai pekerja konstruksi dan masih bermimpi menjadi Kamen Rider sejati. Berbeda dari protagonis anime pada umumnya, Tojima adalah karakter yang sangat relatable dengan latar belakang yang menyedihkan. Dia sering ditinggal sendiri oleh ibunya dengan hanya kaset VHS Kamen Rider sebagai teman.
Bahkan, sudah ditinggalkan ayahnya di festival dengan hanya 4.000 Yen. Anime ini berhasil menggambarkan bagaimana Kamen Rider menjadi satu-satunya “teman” dan inspirasi Tojima sejak kecil. Hal itu menciptakan ikatan emosional yang kuat antara karakter dan penonton.
Yang membuat premis ini semakin menarik adalah bagaimana animenya tidak menghakimi mimpi Tojima yang terlihat kekanak-kanakan. Ketika Tojima sudah dewasa, ia mencoba melepaskan obsesinya dengan menjual semua koleksi merchandise Kamen Rider-nya dan berusaha kembali ke kenyataan.
Namun, ketika ia menyaksikan sekelompok penjahat yang meniru Shocker (organisasi villain ikonik dari Kamen Rider) melakukan perampokan di sebuah festival, sesuatu dalam dirinya terbangun kembali. Ia membeli topeng Kamen Rider dari pedagang, memakainya, dan mengalahkan para penjahat tersebut dengan kemampuan bertarung yang telah ia latih selama bertahun-tahun. Momen transformasi ini sangat powerful karena menunjukkan bahwa mimpi masa kecil, betapapun tidak realistisnya, tetap punya nilai dan bisa menginspirasi kebaikan dalam diri seseorang.
2. Aksi yang Solid dan Animasi yang Memukau
Dari segi visual, LIDENFILMS berhasil menghadirkan kualitas animasi yang impresif, terutama dalam sekuens aksi. Episode pertama menampilkan adegan pertarungan yang simpel namun sangat efektif. Setiap pukulan terasa berat dan koreografi yang jelas membuatmu mudah mengikuti alur pertarungannya.
Yang paling menonjol adalah bagaimana anime ini membangun lagi adegan-adegan klasik dari serial Kamen Rider asli. Terdapat tambahan gaya artistik yang beragam dan pilihan sutradara cerdas. Transformasi Tojima ketika memakai topeng juga dianimasikan dengan sangat baik. Hal itu memberikan sensasi heroik yang autentik meskipun hanya mengenakan topeng murahan.
Namun, beberapa penonton mencatat bahwa di luar adegan aksi, kualitas animasi cenderung menurun. Percakapan antar karakter kadang terlihat statis dengan blocking dan framing yang kurang menarik. Beberapa scene juga menunjukkan detail line art yang kurang sempurna dan karakter terlihat off-model.
Meski begitu, kekurangan ini tidak terlalu mengganggu pengalaman menonton secara keseluruhan. Soundtrack-nya memberikan energi yang sempurna untuk membangun semangat tokusatsu klasik. Music direction anime ini berhasil menyeimbangkan nostalgia dengan sentuhan modern yang segar.
3. Episode Dua: Debut Tackle dan Ekspansi Narasi
Episode kedua berjudul “I Am Tackle” membawa dimensi baru dengan memperkenalkan karakter Yuriko Okada. Dia adalah seorang guru SMA berusia 24 tahun yang terinspirasi oleh Electro-Wave Human Tackle dari serial Kamen Rider Stronger.
Episode ini dengan cerdas menggeser fokus dari Tojima ke Yuriko, menunjukkan bahwa ia bukan satu-satunya orang yang masih bermimpi menjadi Kamen Rider di kehidupan nyata. Backstory Yuriko sangat touching. Ia kehilangan ibunya pada usia muda, dan ayahnya membuatkan kostum Tackle untuknya sebagai bentuk dukungan terhadap mimpinya. Ini menciptakan paralel yang kuat dengan Tojima. Keduanya menggunakan tokusatsu sebagai cara untuk menghadapi kesepian dan trauma masa lalu mereka.
Yang membuat episode ini menarik adalah dinamika kompetisi antara Tojima dan Yuriko. Ketika Yuriko melihat Tojima menyelamatkan korban perampokan Shocker dan menjadi berita, ia merasa frustrasi. Sebab, bukan dia yang menjadi Kamen Rider pertama yang tampil di publik.
Dalam sebuah adegan yang menghibur, Yuriko bahkan memukul Tojima sebelum ia bisa “mencuri spotlight” untuk kedua kalinya. Lalu, dia mengalahkan para penjahat sambil mengenakan kostum Tackle-nya. Episode ini juga tidak takut untuk memasukkan elemen komedi. Momen tersebut menunjukkan bahwa anime ini mampu menyeimbangkan antara komedi, aksi, dan drama dengan sangat baik.
4. Plot Twist yang Mengejutkan dan Antisipasi untuk Episode Selanjutnya
Salah satu kekuatan terbesar dari episode kedua adalah ending yang sangat mengejutkan. Setelah credits roll, muncul seorang pria misterius yang bertransformasi menjadi Shocker. Twist ini mengubah seluruh premis anime dari sekadar cerita realistis tentang penggemar tokusatsu, menjadi sesuatu yang lebih kompleks. Apakah karakter ini datang dari dunia Kamen Rider yang sebenarnya? Apakah ada teknologi rahasia yang memungkinkan transformasi nyata? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat kamu tidak sabar menunggu episode berikutnya.
5. Tema Dewasa dan Dekonstruksi Superhero yang Cerdas
Yang membedakan Toujima Tanzaburou wa Kamen Rider ni Naritai dari anime tokusatsu lainnya adalah bagaimana seri ini melakukan dekonstruksi terhadap konsep superhero. Anime ini tidak mengejek karakter-karakter dewasa yang masih “bermain-main” dengan kostum dan berpura-pura menjadi pahlawan.
Sebaliknya, anime ini merayakan dedikasi mereka dan menggambarkan tindakan mereka sebagai sesuatu yang noble dan bermakna. Tojima dan Yuriko adalah orang dewasa yang tidak puas dengan kehidupan mereka yang biasa-biasa saja dan kosong. Dengan begitu, mereka berpegang pada mimpi masa kecil untuk menemukan tujuan hidup yang lebih besar.
Tema representasi juga diangkat dengan sangat baik melalui karakter Yuriko. Episode kedua menunjukkan bagaimana karakter Tackle dalam Kamen Rider Stronger memberikan pengaruh mendalam bagi Yuriko. Dia merasa “dilihat” dan “dipahami” untuk pertama kalinya oleh sebuah karya fiksi. Itu adalah pesan powerful tentang pentingnya representasi dalam media, terutama bagi anak-anak yang mencari role model. Tanpa Tackle, Yuriko tidak akan menjadi hero yang ia jalani sekarang. Anime ini juga tidak menghakimi para villain yang meniru Shocker. Mereka diperlakukan sebagai lawan yang layak untuk menguji keyakinan dan kemampuan protagonis.
Secara keseluruhan, dua episode pertama Toujima Tanzaburou wa Kamen Rider ni Naritai berhasil menepati bahkan melampaui ekspektasi. Meskipun terdapat beberapa kelemahan dalam animasi dan pacing, kekuatan narasi dan karakterisasi yang solid membuat anime ini wajib kamu tonton. Dengan plot twist menjanjikan di akhir episode dua, anime ini siap memberikan pengalaman lebih seru di episode-episode mendatang.