News

Panduan Merayakan Tahun Baru di Jepang

Published

on

GwiGwi.com – Tidak terasa sudah mencapai hari terakhir di tahun 2014. Biasanya semua umat manusia di dunia akan merayakan pergantian tahun baru dengan pesta, makan-makan, pesta kembang api, minum-minum dan sebagainya.

Di Jepang memiliki tradisi tahun baru dimana biasanya semua orang akan kembali ke kampung halaman dan berkumpul bersama sanak keluarga. Mereka akan melakukan ritual-ritual unik untuk menyambut tahun baru.

Walaupun terdengar membosankan, tetapi warga Jepang sangat menghormati tradisi seperti itu. Panduan buat kamu menyambut tahun baru di Jepang dilansir dari Japan Today.

Omisoka (大晦日)

“Omisoka” di dalam bahasa Jepang berarti Malam Tahun Baru. Dalam kalendar tua Jepang, hari terakhir dalam setiap bulan biasa disebut “misoka”. “Miso” berarti 30 dan “ka” berarti hari. Walaupun tidak semua bulan memiliki jumlah hari 30 hari, hari terakhir setiap bulan tetap disebut misoka dan hari terakhir di satu tahun disebut omisoka. Pada kalender baru, sebutan misoka menjadi jarang terdengar, namun omisoka masih tetap digunakan hingga sekarang

 

Osoji (大掃除)

Osoji ini maksudnya bersih-bersih akhir tahun yang dilakukan di kantor dan rumah. Hal ini dipercayai oleh masyarakat Jepang bahwa, jika membersihkan rumah diakhir tahun dapat menyucikan rumah dan menyambut Toshigami-sama (dewa tahun baru).

 

Kadomatsu (門松)

Setelah hari natal berakhir, semua dekorasi natal dan pohon natal akan diganti dengan dekorasi tahun baru. Kodamatsu ini merupakan 3 potongan bambu dan cabang pohon pinus yang diatur sedemikian rupa yang dipajang di depan rumah atau bangunan. Batang bambu ini mewakili surga, bumi dan kemanusian yang dipercaya untuk menarik para dewa. Para dewa akan mendiami cabang pinus sampai tanggal 7 Januari, setelah itu semua dekorasi dibawa ke kuil untuk dibakar, melepaskan roh-roh kembali ke alamnya.

 

Toshikoshi Soba (年越し蕎麦)

Orang Jepang menyantap soba ditengah malam untuk mengusir roh jahat sebelum tahun baru datang. Beberapa juga berharap untuk umur panjang dan hubunga yang awet bersama keluarga dengan memakan soba. Penelitian oleh Rakuten melaporkan 67,5% orang akan makan Toshikoshi Soba tahun ini.

 

Joya no Kane (除夜の鐘)

“Joya no Kane” atau lonceng pemurnian merupakan hal yang sangat penting dalam upacara malam tahun baru kaum Buddha, yang mana sang biksu akan membunyikan lonceng tersebut sebanyak 108 kali. Berdasarkan kepercayaan orang Buddha, nomor 108 merupakan jumlah keinginan jahat yang kita alami. Dipercayai dengan mendengarkan atau membunyikan lonceng 108 kali, orang dapat membersihkan diri dari keinginan jahat tersebut. Banyak kuil yang memperbolehkan orang untuk ikut berpartisipasi membunyikan lonceng

 

Ganjitsu (元旦) dan Gantan (元日)

Kedua kata diatas sama-sama mempunyai arti Hari Tahun Baru. “Gantan” secara umum berarti pagi hari di tanggal 1 January sementara “Ganjitsu” merujuk pada hari pertama di tahun baru.

 

Nengajo (年賀状)

Pada hari pertama rahun baru, kamu akan mendapati para pengantar pos yang sibuk mengantar kartu ucapan tahun baru. Beberapa tahun terakhir, popularitas kartu ucapan semakin sedikit dijaman teknologi canggih, ada yang membuat kartu nama dengan desain yang mereka buat sendiri dan dikirim melalui email. “Nengajo” sangat penting dalam dunia bisnis dan generasi orang tua, sebagai bentuk apresiasi dan harapan yang baik untuk Tahun Baru. “Nengajo” biasanya dibuat dengan tulisan tangan dan juga terdapat nomor lotre didalamnya.

 

Hatsumode (初詣)

Hal yang populer dilakukan di hari Tahun Baru adalah “hatsumode” atau kunjungan pertama ke kuil. Kuli besar seperti di Meiji Tokyo, Kawaski Taishi di Kawasaki, dan Fushimi Inari Taisha di Kyoto akan dipenuhi ribuan orang dipagi hari pertama tahun baru. Adapun yang pergi ke kuil yang berada dilinkungan mereka. Jika kamu mengunjungi kuil juga, kamu akan menemukan dupa yang dibakar. Asap dari dupa itu disebut “zuko” dan asap itu akan dikipaskan ketubuh orang yang datang untuk menyucikan roh dan tubuh mereka untuk Tahun Baru.

 

Hamaya (破魔矢)

Kamu akan sering melihat orang meninggalkan kuil dengan membawa anak panah kayu, yang mana itu diberikan kepada pengunjung kuil untuk ditaruh di rumah mereka, untuk mengusir roh jahat.

 

Osechi ryori (おせち料理)

Hal ini mengacu pada hidangan tahun baru khusus tradisional dibuat sebelum Hari Tahun Baru, dan dimaksudkan untuk dibiarkan selama tujuh hari tanpa pendinginan. Alasan sebenarnya membiarkan hidangan tersebut untuk bertahan selama tujuh hari karena ada periode tujuh hari tanpa memasak untuk menenangkan dewa api, Kohji. Dia akan marah dan menyebabkan bahaya alam jika Anda membuat api sehingga di awal tahun. Dalam tahun sekarang ini, periode tanpa memasak ini telah berubah dengan memberikan para ibu rumah tangga istirahat selama liburan Tahun Baru karena mereka bekerja sangat keras sampai malam tahun baru. Makanan ini sering datang dalam kotak bento yang rumit.

 

Kagami-mochi (鏡餅)

Dekorasi ini terdiri dari 2 kue beras bulat dan sebuah jeruk mandarin diatasnya. Secara tradisional, kue yang dihiasi dengan buah jeruk yang berbeda yang dikenal sebagai “daidai,” yang dianggap menguntungkan sebagai arti kata dapat diterjemahkan menjadi “generasi ke generasi”, yang mewakili keinginan keluarga untuk keturunan yang panjang dan sejahtera. Kue beras menjadi penghormatan kepada cermin dari dewi matahari Amaterasu. Bentuknya yang bulat, berbentuk seperti cermin, “kagami mochi-” melambangkan pembaharuan cahaya dan energi pada awal tahun baru

 

Otoshidama (お年玉)

Pada Hari Tahun Baru, anak-anak berusia 22 tahun ke bawah menerima hadiah uang dari orang tua dan kakek-nenek mereka di amplop yang dihiasi khusus yang disebut “Pochi Bukuro” (Pochi bag). Menurut kuesioner Allabout, jumlah populer “otoshidama” 1.000 yen untuk anak-anak muda dari 6, 3.000 sampai 5.000 yen untuk anak-anak berusia 6-17, dan 10.000 yen untuk 18 sampai 20 + siswa.

 

Fukubukuro (福袋)

Banyak department store dan toko lainnya sekarang buka pada Hari Tahun Baru untuk memberikan anak-anak kesempatan untuk menghabiskan “otoshidama” mereka, serta menggoda pembeli lain dengan tas beruntung ini. Beberapa orang akan mengunjungi toko ke toko lainnya dan akan membawa setumpuk “Fukubukuro.” Tas berisi berbagai item dengan total nilai dua kali harga tas.

featured image: http://loveofjapan.files.wordpress.com/

Trending

Exit mobile version