Berita Anime & Manga
“Ojou-sama no Geboku” Tuai Kritik: Dugaan Penggunaan AI di Shonen Jump Plus
www.gwigwi.com –
Kabar kurang sedap datang dari platform manga digital populer Shonen Jump Plus. Manga baru berjudul Ojou-sama no Geboku langsung menuai gelombang kritik tajam tak lama setelah Chapter 1 dirilis.
Sejumlah pembaca dengan cepat menemukan berbagai kejanggalan pada ilustrasi manga tersebut. Detail anatomi yang tidak konsisten, pola bayangan yang terasa “aneh”, hingga tekstur tertentu yang terlihat tidak natural membuat banyak orang menduga bahwa gambar tersebut dihasilkan atau setidaknya dibantu oleh teknologi Artificial Intelligence (AI).
Kontroversi AI di Industri Manga Jepang
Di Jepang, penggunaan AI dalam karya kreatif—terutama untuk kebutuhan komersial—masih menjadi topik sensitif. Industri manga dikenal sangat menghargai proses manual dan dedikasi tinggi para mangaka, mulai dari sketsa awal hingga tinta akhir yang dikerjakan dengan tangan.
Karena itu, munculnya dugaan penggunaan AI di platform sebesar Shonen Jump Plus memicu reaksi keras. Banyak pembaca merasa bahwa hal ini bertentangan dengan nilai tradisional manga yang selama ini dijunjung tinggi.
Reaksi Fans: Antara Kecewa dan Khawatir
Sebagian besar kritik datang dari fans yang merasa “dikhianati”. Mereka mengharapkan kualitas ilustrasi autentik yang mencerminkan kerja keras kreator, bukan hasil yang dianggap instan atau dibantu mesin.
Beberapa kekhawatiran yang muncul di komunitas antara lain:
AI bisa mengurangi peluang mangaka baru untuk berkembang
Nilai artistik manga dianggap menurun
Kekhawatiran soal etika, terutama jika AI dilatih dari karya seniman lain tanpa izin
Namun, di sisi lain, ada juga sebagian pembaca yang mencoba melihat dari sudut pandang berbeda.
AI sebagai Alat Bantu Kreator?
Dalam industri yang dikenal dengan deadline ketat dan tekanan tinggi, penggunaan AI oleh kreator bisa saja dianggap sebagai alat bantu untuk efisiensi. Beberapa pihak berpendapat bahwa selama ide cerita dan arah visual tetap berasal dari mangaka, penggunaan teknologi tidak sepenuhnya salah.
Perdebatan pun berkembang: apakah AI hanyalah alat seperti software digital lainnya, atau justru sesuatu yang fundamentally mengubah cara karya seni diciptakan?