TV & Movies
Menyambut versi live action-nya, 5cm per second tayang di Bioskop Indonesia
www.gwigwi.com – Film anime legendaris karya Makoto Shinkai yaitu 5cm Per Second akan rilis pada tanggal 16 Januari 2026 di Bioskop Indonesia.
Penonton kini akan diajak merasakan nostalgia bersama Takaki dan Akari, yang terpisahkan oleh jarak dan waktu.
Filmnya sendiri berhasil meraih penghargaan Best Animated Feature Film di ajang Asia Pacific Screen Awards, yang dikenal sebagai penghargaan paling bergengsi di kawasan Asia-Pasifik. Sebelum rilis reguler, juga akan ada special screening pada 10 dan 11 Januari 2026.
Dikisahkan,setelah pindah ke sekolah dasar yang sama, Takaki dan Akari menjadi sahabat dekat. Namun, kehidupan mereka mulai berubah saat keluarga masing-masing harus pindah ke kota yang berbeda.
Setelah satu tahun berpisah, Takaki berniat untuk menemui Akari kembali. Saat duduk di dalam kereta dari Tokyo, kenangan masa lalu membanjiri pikiran Takaki seiring waktu pertemuannya dengan Akari yang semakin dekat.
Menyambut Versi Live Action Nya, 5cm Per Second Tayang Di Bioskop Indonesia
Takaki dan Akari mulai mempertanyakan apakah mereka dapat bertemu kembali untuk mengungkapkan perasaan terpendam mereka satu sama lain.
Bisa dibilang, anime ini bukan merupakan tipe anime yang ‘wah’ dengan banyak aksi atau bukan juga anime yang diisi oleh karakter-karakter keren.
Ini merupakan anime slice of life , yang justru punya alasan kuat kenapa karya Makoto Shinkai berkesan di hati penontonnya.
Salah satu alasan utamanya adalah karena temanya yang realistis, manusiawi, klise, dan banyak dialami oleh orang-orang di kehidupan sehari-hari.
Dalam film ini, kita dibawa ke tiga fase kehidupan Tohno Takaki yang merasakan cinta pertamanya dengan Shinohara Akari semasa SD. Saat perjalanan pulang sekolah melewati perlintasan kereta di Tokyo, Takaki dan Akari membuat janji untuk kembali bersama menikmati mekarnya bunga sakura pada musim semi tahun depan.
Namun, niat mereka terhalang karena takdir yang berkata lain. Keluarga Akari harus pindah jauh dari Tokyo, membuat keduanya dipisahkan oleh jarak.
Janji untuk bertemu Akari itu tak disangka terus membayangi pikiran Takaki hingga dua fase kehidupan selanjutnya. Berbagai percobaan dilakukan untuk saling bertemu, tapi selalu gagal.
Hingga akhirnya di fase ketiga, di mana Takaki dan Akari sudah dalam fase awal dewasa, Takaki masih terkurung dalam kenangan masa kecil dan janji yang tidak pernah terwujud.
Sementara di sisi lain, Akari bisa mengambil keputusan move on di saat yang tepat, tanpa harus menunggu janji masa kecilnya yang tak kunjung bisa terwujud itu.
Film ini juga bukan merupakan film yang ditutup dengan ending yang bahagia. Dalam artian, ending-nya pun tidak sesuai apa yang diinginkan oleh kebanyakan penonton. Termasuk gue pribadi.
Salah satu adegan ikonik di film 5 Centimeters Per Second adalah adegan Takaki dan Akari yang akhirnya nyaris bertemu.
Pada paruh akhir film, Takaki dan Akari kembali mengunjungi perlintasan kereta api tempat janji masa kecil mereka dibuat. Keduanya tanpa disadari dan secara tidak sengaja berpapasan saat menyeberangi perlintasan tersebut. Setelah sepersekian detik, Takaki sadar, karena mengenali sosok Akari.
Namun, ketika ia berhenti berjalan dan menengok ke belakang, pas banget dengan kereta yang melewati perlintasan tersebut, menutupi pandangan Takaki yang ingin melihat Akari.
Sementara itu, Akari tak menghentikan langkahnya sama sekali. Ketika seluruh rangkaian kereta sudah lewat perlintasan tersebut, sosok Akari sudah jauh berjalan dan tak terlihat.
Adegan ini jadi momen paling gereget untuk menutup sebuah film. Saat adegan itu terjadi, mungkin kebanyakan penonton akan siap bernapas lega dan menyambut ending yang membahagiakan.
Namun, hal itu justru tidak terjadi sama sekali. Adegan kereta lewat sebagai pesan tersirat dari gambaran kehidupan, di mana waktunya terus berjalan tanpa kenal menunggu.
Anyway, versi live action dari anime 5cm per second juga akan tayang di Indonesia pada tahun 2026 ini. Jadi versi tayang ulang dari anime nya ini bukan sekedar dirilis ulang semata, melainkan untuk menyambut versi ‘hidup’ dari salah satu masterpiece milik Makoto Shinkai.