Gaming

WHO mengakui “Kecanduan Game” sebagai Penyakit Kelainan Mental

Published

on

GwiGwi.com – Kita semua pasti tahu seseorang yang menghabiskan banyak waktu untuk bermain game. Bermain game adalah hobi yang biasa tapi ketika hobi itu terlalu banyak menyita waktu dan tenaga, kesehatan dan kehidupan orang tersebut terancam bahaya.

Salah satu contoh ekstrimnya adalah seorang anak di Korea Selatan meninggal karena malnutrisi pada tahun 2010 lalu karena orang tuanya lebih sibuk mengurus “anak virtual” mereka.

Pemain game, termasuk salah satunya adalah pria asal Taiwan pada 2015 lalu, juga meninggal karena bermain game terlalu lama tanpa istirahat yang cukup. Meskipun begitu, kecanduan game masih belum diakui sebagai kondisi medis di banyak negara.

Untuk mengatasi kondisi ini, WHO akan memasukkan “kecanduan game” dalam panduan diagnostik International Classification of Diseases (ICD) ke-11 mereka. Edisi yang paling baru dari panduan ini masih dalam tahap revisi dan WHO berencana menerbitkannya tahun ini.

Naskah dokumen ini mendeskripsikan kondisi tersebut sebagai perilaku bermain game yang berulang-ulang sampai-sampai hal tersebut mengalahkan kebutuhan hidup lainnya. Beberapa Negara sudah mengidentifikasi kondisi ini sebagai masalah kesehatan dan menyediakan klinik rehabilitasi untuk kecanduan bermain game berlebihan.

Edisi terbaru dari ICD ini nantinya akan menyatakan perilaku abnormal ini harus disaksikan selama jangka waktu minimal 12 bulan untuk bisa mendiagnosa “kecanduan game”. Akan tetapi jangka waktu ini bisa dipersingkat jika gejalanya parah. Gejala2-gejala yang disebutkan termasuk bermain game secara tak terkontrol, prioritas berlebihan yang diberikan pada bermain game dan “ngeyel” bermain game meski ada dampak negative yang nyata.

Dr. Richard Graham, spesialis kecanduan teknologi di rumah sakit Nightingale London, memuji keputusan untuk mengakui kondisi medis ini. Graham berkata “Hal ini signifikan karena bisa menciptakan kesempatan untuk memberikan pelayanan yang lebih spesifik. Keputusan ini membuat kondisi tersebut diakui sebagai masalah yang serius.”

Akan tetapi Graham juga mengakui agar berhati-hati dalam menangani kondisi ini supaya tidak terjadi salah diagnosa. Dia juga menambahkan, “kalau tidak berhati-hati, nantinya akan membuat para orang tua yang anaknya memang antusias bermain game bingung.”

Graham yang menangani kira-kira 50 kasus kecanduan teknologi pertahun, menggunakan kriterianya sendiri untuk menentukan kecanduan game. Sebagai contoh, dia bertanya. “Apakah kecanduannya menggangu fungsi neurologis, mendominasi pikiran dan menjadi sebuah obsesi?”

Psikiatris, peneliti dan berbagai agensi juga memakai Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), sebuah panduan diagnosis yang mirip dengan ICD yang dipublikasikan oleh American Psychiatric Association (APA,) sebagai panduan.

Di edisi kelima APA, yang dipublkasikan pada 2013 lalu, menyebutkan kecanduan game online sebagai sebuah kondisi yang perlu diteliti lebih lanjut.

Karakter-karakter yang terobsesi dengan game sering muncul di anime dan manga. Dalam anime Recovery of an MMO Junkie, yang pertama tayang pada bulan Oktober lalu, seorang wanita usia 30 tahun berhenti dari pekerjaannya untuk menjadi seorang pemain game online.

Trending

Exit mobile version