Lokal

Liputan Ideafast 2022 Hari Terakhir

Published

on

GwiGwi.com – Di hari terakhir IDEAFEST 2022 saya baru tiba di sore hari. Bisa dibilang telat. Saat saya mengira isinya adalah tentang “dakwah” motivasi, networking, etc, ternyata memang ada, tapi yang melenceng jauuuh dari itu lebih dominan. Karena hari itu dikhususkan untuk LUCU FEST yang diselenggarakan Majelis Lucu Indonesia (MLI).

Saya melesat ke STAND UP COMEDY STAGE di mana komika Gautama di sesi KOMEDI CERDAS sedang berlangsung. Sebelumnya saya tidak pernah menonton langsung aksi stand up orang indonesia. Saya hanya pernah menonton spesial komedian AS di Netflix seperti Chris Tucker dan Dave Chapelle. Saya tak bisa bilang saya menikmati tapi saya jadi paham pesonanya dan sebenarnya cukup kaget melihat begitu baaanyak kursi terpenuhi penikmat komedi ini.

Di Ruang Cendrawasih sedang ada Cinta Laura yang sedang berbagi cara pandangan hidupnya seperti; harus berinvestasi pada diri sendiri juga lead a purposeful life/berkehidupan yang bermakna.

Dengan aksen rada englishnya yang khas, dia juga bercerita tentang bagaimana screen time penggunaan Handphone hanya berkisar 2,5 jam selama seminggu. Bangga dengan prestasinya ini, dia mengajak penonton untuk berbuat yang sama dan menikmati berbagai keindahan hidup di luar sana.

Saya kemudian berpindah ke NOICE PODCAST ROOM dan duduk menunggu sesi yang saya tak sangka ada dan selalu diam-diam berharap bisa melihat langsung, yakni sesi BERBEDA TAPI BERSAMA dengan Habib milenieal Husein Jafar Al Hadar yang sedang tren berkat konten PEMUDA TERSESAT (dakwah komedi Habib dengan tandem Coki dan Tretan Muslim).

Bertemakan Logika dan Agama, Habib mengobrol dengan Cania Citta Irlanie yang terkenal karena pandangan out of the box sekulernya. Cania berpendapat soal relativitas moral dan bagaimana orang baru bisa menerima fakta itu benar kalau ada bukti realitasnya.

Habib Jafar berkata orang yang berpegang pada logika salah satu tantangannya adalah berpikir kehidupan itu bebas sebebas-bebasnya.

“Padahal menurut gua, kebebasan itu akan dibatasi paling tidak oleh kebebasan orang lain agar tidak saling tabrak..,” tukasnya.

Dialog ini sesekali diselipi candaan nyentil khas Habib yang sepertinya belajar dari Coki dan Tretan Muslim. Seperti saat membahas sikap sok merasionalisasi hal tidak rasional dalam Islam dengan contoh atom yang dikira Zarah (partikel terkecil dalam bahasa Al-Qur'an),

“Terus orang-orang Islam yang sok-sok open minded, ‘Oh, Zarah itu berarti atom,' ketika yang terkecil itu atom. Tapi ketika perkembangan science kemudian berkembang dan yang terkecil bukan lagi atom, lu mau ke mana? Apa Al-Qur'an-nya salah? Bahaya kan? Jadi Cania gua,” canda Habib yang disambut gelak tawa penonton.

Di akhir dialog, Habib menyampaikan tujuan tema dan mengundang Cania, “Makanya gua bilang kan, gua butuh orang seperti Cania sebenarnya. Untuk membersihkan mitos-mitos yang berkeliaran di sekitar gua yang mengatasnamakan agama. Di sana sebenarnya fungsi logika, fungsi science, itu di sana, membersihkan mitos-mitos yang mengatasnamakan agama..”

Dialog selesai, saya menghampiri Habib untuk berfoto. Beliau memang sehangat impresi saya dari berbagai video dakwahnya. Meskipun telat dan tak full nyemplung LUCU FEST ini, pertemuan kecil tersebut terasa worth it sekali.

Kemudian acara utama yang tampaknya paaling ditunggu fans MLI, SPECIAL NIGHT yang menampilkan Dodit Mulyanto, trio GJLS; Hifdzi, Rispo dan Rigen, Stand Up Perdana Deddy Corbuzier dan penutup ultimate-nya, show panggung terakhir Coki dan Tretan Muslim.

Sesi Dodit yang menghangatkan suasana membuat saya akhirnya tertarik stand up komika Indonesia, tapi follow up-nya oleh GJLS yang terkesan kacau mungkin mematikan rasa itu. Stand Up Deddy lebih ke curhat bukan berkomedi rasanya. Aksi panggung terakhir Coki dan Muslim? Gilani parah.

Dark jokes Coki dan celetukan lucu Muslim digas penuh. Puncaknya saat Muslim memanggil teman-teman cacatnya (mereka sudah berdamai dengan kondisi mereka kata Muslim) untuk beraksi. Its insane and i think everybody is losing it. Laugh like crazy.

Hal yang paling berkesan dari hari terakhir IDEA FEST ini adalah pentingnya bertemu offline. Beberapa kali saya ingin memotret atau merekam lebih banyak tapi saya tahan karena ingin menikmati langsung acaranya.

Dave Chapelle pernah bilang pada fans yang ingin berfoto, “Kita di sini bukan untuk berfoto tapi membuat memori.”

Melihat, mendengar dan meresapi langsung wejangan Habib Jafar tanpa melalui gadget adalah pengalaman yang tak tergantikan resolusi layar setinggi apa pun.

Para public figure ini yang punya keberanian lebih menghadapi orang banyak are human nonetheless. Bukan karakter fiksi di layar yang tidak hidup, manusia yang layak dihargai dan dihormati. Mungkin itu salah satu gunanya mendatangi acara offline begini dan mungkin saya bisa dapat manfaat lebih banyak kalau tidak telat.

Trending

Exit mobile version