Teknologi

Ketika tren Virtual Reality (VR) memasuki industri konten hiburan dewasa

Published

on

GwiGwi.com – Bulan Juni lalu, ratusan orang memenuhi acara Virtual Reality (VR) kecil di distrik Akihabara, Tokyo. Kejadian ini memaksa panitia menghentikan acara saat baru berjalan separuh.

Apa yang membuat banyak orang berkumpul sedemikian cepatnya?

Sebuah demonstrasi film porno berbasis VR.

“Sangat mengejutkan,” ujar Kento Yoshida, ketua panitia penyelenggara. “Tapi hal ini membuktikan banyak orang berminat dengan konten dewasa berbasis VR.”

Beberapa orang dari industri porno mengklaim bahwa konten dewasa berbasis VR bisa menjadi kunci untuk menyebarkan teknologi VR ke khalayak umum, seperti halnya kaset video dan internet. Mereka mengatakan kalau potensi yang dimiliki VR sangat besar karena memungkinkan untuk melakukan hubungan seks secara virtual dengan karakter digital ataupun orang lain di lokasi yang berbeda. Teknologi ini juga bisa lebih mudah memenuhi fantasi tiap orang.

Meskipun mereka mengakui konten dewasa berbasis VR ini akan menuai kritik, mereka mengatakan kalau mempunyai opsi baru untuk berhubungan seks tetaplah hal yang berguna. Yoshida, yang juga pemimpin perusahaan pembuat video porno yang berlokasi di Tokyo, mengatakan banyak orang belum menyadari potensi yang dimiliki VR. Karena itulah dia mengadakan event di Akihabara.

“Pada saat itu, belum banyak yang tahu apa itu VR, jadi kupikir konten dewasa adalah salah satu tercepat untuk mengenalkan orang-orang pada VR.” ujarnya. Teknologi ini membuka kesempatan baru bagi mereka yang punya fantasi seksual. Misalnya, ketika seseorang punya keinginan akan seks yang abnormal atau terlarang, untuk melakukannya di dunia nyata sangatlah sulit atau beresiko. Tapi VR bisa mengakomodasi hal itu, ungkap Yoshida.

“VR juga bisa membantu mereka yang terlalu pemalu untuk mengungkapkan perasaan mereka ataupun memulai sebuah hubungan. VR adalah cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan seksual mereka.” ujar Yoshida. “VR headset juga memungkinkan orang untuk memasuki dunia yang mereka lihat, jadi pengalaman yang mendalam ini bisa menuju ke hubungan seks virtual dengan karakter digital ataupun orang lain.” tambah Yoshida.

Tapi untuk bisa mencapai seks virtual kualitas tinggi, itu berarti harus bisa mendobrak beberapa kendala teknologi seperti kurangnya sensasi fisik. Beberapa perusahaan lain sudah mengikuti trend ini.

Grup DMM, yang menjalankan bisnis stream video dan unduh video bahkan sudah menawarkan VR dan video porno yang bisa berotasi 360 derajat pada 10 November lalu. Pada senin lalu, DMM sudah menyediakan 146 judul film porno berbasis VR yang bisa diunduh. Film-film ini bisa di tonton melalui smartphone, dengan menyambungkannya dengan alat VR.

Beberapa perusahaan juga menyediakan video porno berbasis VR. Pembuat game yang berlokasi di Kanagawa, Illusion, bahkan sedang membuat game berbasis VR yang kemungkinan diluncurkan tahun depan.

Naoyuki Otsuru, sang produser umum dari VR, mengakui kalau industri adult entertaintment akan membantu menyebarkan VR tapi juga takut kalau konten yang ada didalamnya terlalu banyak disorot media akhir-akhir ini.

“Ada beberapa reaksi penolakan di tingkat tertentu. Dan aku takut kalau itu akan merusak image VR,” ujarnya.

Illusion berencana untuk merilis game berjudul VR Kanojo (pacar VR) yang memungkinkan pemainnya memasuki kamar sang pacar virtual dan melakukan hubungan seks. Produser game teesebut mengatakan kalau mereka akan fokus pada bagaimana membuat pemain merasa sang pacar virtual benar-benar ada disana.

Otsuru juga mengatakan kalau VR punya potensi memberikan pengalaman baru pada pengalaman seksual manusia tapi kontennya wajib dikontrol dengan ketat.

“saya khawatir saat nanti VR tersebar luas, VR akan sampai pada mereka yang seharusnya tidak mempunyainya atau mereka yang tidak menyukainya.”

Mungkin di masa depan, beberapa org akan melihat sebagian org melupakan hubungan dengan manusia nyata dan lebih memilih romansa virtual- sebuah kemungkinan yang semakin dekat dengan kenyataan dengan semakin imersifnya teknologi, yang juga akan memunculkan perdebatan moral.

“Sangatlah tidak mungkin untuk menghapus konten dewasa selamanya, jadi sebaiknya kita memikirkan bagaimana menggunakannya.” ungkap Otsuru.

Yoshida, dari VRG, mengatakan kalau keputusan tentang memasuki romansa virtual atau nyata diserahkan pada masing-masing individu. “Ini akan memberikan opsi baru di kehidupan seksual kita. Punya opsi baru itu sangatlah bagus,” ujarnya.

Trending

Exit mobile version