Lokal

GJUI 29 A PLACE TO RETURN…?

Published

on

Gelar Jepang Universitas Indonesia (GJUI) kembali ke rumahnya, Fakultas Ilmu Budaya UI, setelah sebelumnya GJUI 28 diadakan di Mall Aeon. Mengusung tema ‘Neo Tokyo A Place to Return,’ GJUI 29 akan berlangsung selama 3 hari; 11-13 Agustus 2023. Day 1 bertempat di Pusat Studi Jepang sementara Day 2 dan Day 3 dilangsungkan tepat di depan FIB yang dilengkapi dengan panggung, yang puncak acaranya akan dimeriahkan penampilan girlband JKT48.

Saya berkesempatan menjajal Day 1 nya dan yah sangat klasik acara festival bertemakan pop culture Jepang; vendor jualan takoyaki, okonomiyaki, permen apel, cumi panggang, etc; merchandise baik gantungan kunci, poster dan baju bergambar ONE PIECE dan anime lainnya; Booth Bumilangit menjual berbagai komik superhero Indonesia macam Gundala, Virgo, Godam dan kawan-kawannya. Ditambah pengunjung ber cosplay berseliweran dan diiringi hingar bingar musik populer dari berbagai anime, maka bagi yang terbiasa ke acara festival serupa, it felt right at home.

Saya pribadi lebih suka mood Day 1 Gelar Jepang sejak bertahun-tahun lalu diadakan. Dikarenakan desain interior Pusat Studi Jepang dengan ada sedikit taman di dalam yang memberi rasa nyaman, lebih intim dan tenang. Baru Day 2 dan 3 mulai ‘panas.’

Sehabis melihat-lihat merchandise saya menuju lantai 2 untuk masuk ke ruangan yang ternyata sedang ada workshop seiyuu atau pengisi suara Indonesia yang diisi oleh 2 legend di industrinya; Tisa dan Ian Syaibani.

Ya tak hanya jualan makanan dan merchandise, ada pula beberapa kegiatan seperti Diskusi Film, wahana Rumah Hantu Jepang Obake Yashiki yang cukup menghibur, workshop Yukata, Karaoke, Talkshow; Bumilangit; LIVIUM.

Keduanya dalam suasana santai membagi pengalaman sebagai pengisi suara. Menunjukkan showreel mereka yang sudah panjang lantaran sudah berkarir sejak tahun 90an; anime P-Man, Hamtaro, Naruto, Drakor ‘First Love,’ Kartun-kartun Disney, Telenovela Amigos dan lain-lain.

Kedua pengisi suara tersebut membawakan acara dengan energik dan seru sampai menular ke para peserta. Untuk menunjukkan prosesnya bahkan asa sesi live dubbing dengan adegan anime P-Man di layar. Mas Ian memainkan P-Man sementara Mbak Tisa memainkan Ganko, adiknya.

Luar biasa bagaimana keduanya lepas memainkan karakter. Tak ada tempat untuk malu. Total 100%. Keduanya begitu ekspresif memainkan mimik muka dan intonasi suara. Rasanya sampai lupa kalau sedang live bukan sekedar nonton biasa.

Meski sekarang sudah jago keduanya mengaku awalnya juga kesulitan. Bahkan Mbak Tisa pernah sampai nangis di studio karena tuntuta atau juga diminta menyelesaikan 30 episode dalam satu sesi. Dengan tetap bertahan dan terus menjalani prosesnya, memainkan beragam job tanpa banyak milih, keduanya sekarang meraaa ketagihan. Ingin mendapat lebih banyak peran berbeda lagi.

Trending

Exit mobile version