Gaming

Dragon Sword Tinggalkan Gacha: Langkah Berani Hound13 di Tengah Tren Live Service

Published

on

Studio Hound13, yang dikenal sebagai mantan pengembang Dragon Nest, membuat keputusan besar terhadap proyek terbarunya, Dragon Sword. Di tengah konflik dengan pihak publisher, game ini resmi beralih dari konsep awal sebagai live service berbasis gacha menjadi game standalone berbayar di Steam. Langkah ini langsung menarik perhatian industri game karena cukup bertolak belakang dengan tren monetisasi saat ini.

 

Awalnya, Dragon Sword dirancang sebagai game open-world action RPG dengan sistem gacha dan microtransaction, mengikuti model yang populer dalam beberapa tahun terakhir. Namun, perubahan arah ini menunjukkan bahwa Hound13 ingin kembali fokus pada kualitas gameplay tanpa tekanan monetisasi agresif. Dengan dihapusnya sistem gacha, pemain kini dapat menikmati pengalaman penuh tanpa harus bergantung pada pembelian dalam game. Keputusan ini disebut sebagai langkah penyelamatan proyek. Konflik internal dengan publisher diduga menjadi salah satu faktor utama yang mendorong perubahan drastis tersebut. Dalam situasi yang tidak mudah, Hound13 memilih mempertahankan visi awal mereka terhadap game, meskipun harus mengorbankan potensi pendapatan dari sistem live service.

 

Dragon Sword tetap mempertahankan identitasnya sebagai open-world action RPG. Dunia luas yang bisa dijelajahi, sistem pertarungan dinamis, serta elemen petualangan tetap menjadi daya tarik utama. Bedanya, kini pengalaman bermain dirancang lebih utuh dan seimbang, tanpa gangguan sistem monetisasi yang sering dianggap merusak progres permainan.

Selain itu, Hound13 juga menargetkan rilis global melalui Steam dalam waktu dekat. Hal ini membuka peluang bagi pemain dari berbagai negara untuk langsung mengakses game tanpa batasan server regional yang biasanya ada pada game live service. Strategi ini dinilai lebih ramah bagi komunitas global dan dapat memperluas jangkauan pemain.

Langkah ini tentu memicu perdebatan. Di satu sisi, industri game saat ini didominasi oleh model live service yang menawarkan pendapatan jangka panjang melalui microtransaction. Banyak developer memilih model ini karena dianggap lebih menguntungkan secara finansial. Namun di sisi lain, semakin banyak pemain yang mulai jenuh dengan sistem gacha dan pay-to-win.

Dengan beralih ke model premium, Dragon Sword justru berpotensi menarik pemain yang menginginkan pengalaman bermain yang lebih adil dan imersif. Game berbayar tanpa microtransaction sering kali dianggap lebih “jujur” karena semua konten dapat diakses tanpa tambahan biaya.

Apakah ini langkah yang tepat? Jawabannya bergantung pada eksekusi. Jika Hound13 mampu menghadirkan kualitas gameplay yang solid dan konten yang memuaskan, Dragon Sword bisa menjadi contoh sukses bahwa game premium masih relevan di era live service. Namun, tanpa dukungan pemasaran dan konten yang kuat, risiko tetap ada.

Satu hal yang pasti, keputusan ini menunjukkan keberanian Hound13 untuk melawan arus industri. Dragon Sword kini bukan sekadar game, tetapi juga simbol perubahan arah yang mungkin akan diikuti oleh developer lain di masa depan.

Trending

Exit mobile version