Event
Bang Kenneth: Otaku yang Kebetulan Juga Anggota Dewan
www.gwigwi.com – Otaku, sebuah label terhadap seseorang yang sangat memahami sesuatu hal secara mendalam, yang kemudian bergeser maknanya sebagai pecinta anime. Di Kantor DPRD DKI Jakarta yang formal, penuh rapat kebijakan dan rutinitas kerja publik yang padat, ada seorang otaku yang berani tampil beda dan menunjukkan dirinya apa adanya.
Dia adalah Bang Ken—sapaan akrab Hardiyanto Kenneth, Ketua Umum Festival Budaya Jepang Internasional Djakarta Ennichi— sekaligus anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta Fraksi PDI Perjuangan. Kali ini kita tidak akan membahas politik atau kebijakan pemerintah, tetapi bagaimana seorang otaku bisa tetap konsisten menjalani hobinya di antara kesibukan sehari-sehari sebagai pejabat publik, serta bagaimana sikapnya sebagai orang yang ingin lebih bergaul bersama sesama otaku lainnya
Bang Kenneth: Otaku Yang Kebetulan Juga Anggota Dewan
Mengkoleksi Figur serta Menonton Anime
Beliau bercerita bagaimana ia memulai hobi ini dari memainkan mobil tamiya Dash! Yonkuro. “Saya dulu main tamiya, andalan saya Dash Cannonball punya Punkuro tuh, yang berwarna hijau,” ujarnya. Karena menggemari Dragon Ball, ia juga mengoleksi figur Son Goku kecil bersama Master Roshi dan Krilin, serta figur Vegeta sebagai set figur pertama yang ia miliki.
Beliau juga sempat mencoba merakit Gunpla, namun karena prosesnya membutuhkan waktu lebih luang dan tingkat fokus yang tinggi, akhirnya ia memutuskan beralih mengoleksi figur karakter yang sudah jadi. Pilihan ini menunjukkan bahwa meskipun terkendala keterbatasan waktu, esensi kecintaannya terhadap anime dan karakter yang ia sukai tetap tidak luntur.
Bagi Bang Ken, anime merupakan sumber nilai kehidupan. Beliau sangat mengagumi Demon Slayer (Kimetsu no Yaiba) karena alur ceritanya yang menyentuh sisi kemanusiaan yang realistis. Ia mengaku sering tersentuh, bahkan sedih, melihat latar belakang para karakter termasuk para iblis seperti kisah kelam Akaza atau Daki dan Gyutaro yang menjadi jahat karena keadaan yang memaksa.
“Karakter favorit saya adalah Rengoku Kyojuro, sang Hashira Api,” akunya. Ia merasa memiliki koneksi personal dengan karakter ini karena ketika bekerja ia selalu mengeluarkan semangat yang meledak-ledak namun tetap memiliki integritas tinggi. Ia bahkan mengadopsi “Semangat Hashira” dalam tugasnya sebagai pejabat publik: setia kawan, berdedikasi, dan keberanian untuk melindungi.
Selain Demon Slayer, ia juga menyampaikan bahwa dalam ONE PIECE, karakter favoritnya adalah Roronoa Zoro karena ia sangat menyukai semangat Bushido dan Samurai.
“Saya ini tipe lone wolf (penyendiri). Saya terbiasa berjalan sendiri, bahkan saat ke Akihabara di Jepang. Zoro itu karakter yang ‘laki banget’, besar, kuat, dan bicaranya ceplas-ceplos tanpa tedeng aling-aling. Itu mirip dengan gaya saya. Namun, di balik sikap kasarnya, ia memiliki loyalitas tinggi pada kawan-kawannya (nakama). Semangat Bushido dan kesetiakawanan itulah yang saya ambil,” jelasnya.
Selain itu, beliau juga menyampaikan kegemarannya pada tokoh wayang, Tampak jelas ada gunungan serta wayang golek Gatot Kaca dan Kresna di ruang kerjanya.
“Kalau karakter superhero Indonesia saya suka Gundala, Panji Manusia Millenium, dan tentunya wayang Gatot Kaca. Ini wayang golek Gatot Kaca, Kresna dan Bima, saya pesan langsung dari Sumedang. Ketiga karakter itu juga saya sukai, karena sikap superhero nya, banyak pesan tersirat dari cerita karakter mereka. Saya juga suka cerita Tumaritis, tahu kan? Tempat tinggal Semar, Cepot, Petruk, dan Gareng, itu kisah rakyat yang real dengan kehidupan,” jelasnya.
Bang Kenneth: Otaku Yang Kebetulan Juga Anggota Dewan
Djakarta Ennichi sebagai Wadah Komunitas Kejepangan
Bang Ken menyampaikan bahwa keputusannya menjadi ketua didasari persahabatannya dengan Zhuge Kamiya, salah satu perwakilan komunitas yang juga pernah menjadi komite Ennichisai, yang meminta dirinya memayungi festival legendaris tersebut dalam bentuk yang baru. Keputusan ini juga muncul dari keinginan tulus untuk memberikan ruang bagi kaum pecinta budaya Jepang agar pemerintah dapat memfasilitasi dan mendukung kegiatan mereka.
“Anak muda kalau nggak ada tempat, nanti takutnya kan mereka itu melampiaskan di tempat yang salah,” ujarnya, menekankan pentingnya intervensi pemerintah untuk mencegah hal negatif seperti tawuran atau narkoba.
Bang Ken memiliki visi pragmatis untuk Djakarta Ennichi. Ia tidak ingin festival ini hanya menjadi ajang kumpul-kumpul, tetapi juga sebuah ekosistem yang dapat mengembangkan kemampuan generasi muda penggemar budaya Jepang, serta menyoroti pentingnya pemerintah hadir untuk mendukung.
“Pemerintah harus hadir untuk menjadi jembatan. Membuat kegiatan komunitas kreatif ini tidak lagi membebani kantong anak muda dan menjadi mahal. Saya siap berdiskusi dengan siapapun baik otaku, wibu, cosplayer maupun pehobi jejepangan lainnya, beri tahu saya supaya saya bisa lebih paham bagaimana kalian mengekspresikan hobi kalian dalam bentuk yang berbeda-beda, saya akan coba membantu membuka ruang di Jakarta ini, jadi kita bisa berjalan bersama menikmati hobi ini.”
Menghapus Jarak antara Pejabat Publik dengan Gen-Z
Ia menyadari bahwa dengan berpakaian karakter anime, hal ini mungkin memancing komentar miring, namun ia memilih untuk tidak mempedulikannya.
“Saya ingin menunjukkan bahwa saya adalah bagian dari komunitas ini, penggemar anime dan budaya jepang dan saya tidak malu. Mungkin ada yang bilang, ‘Anggota dewan kok gayanya seperti anak kecil?’. Biarkan saja. Saya lebih memilih tampil orisinal daripada berpura-pura, kalau saya suka ya suka,” tegasnya.
Sikap ini diambilnya sebagai strategi komunikasi untuk menghapus jarak antara pejabat publik dan konstituen millennial serta Gen Z. Dengan memiliki kesamaan minat, ia berharap lebih mudah menyerap aspirasi mereka.
Bang Ken bercerita bahwa ia pernah diundang menjadi juri tamu di Jakarta International Cosplay Championship, mewakili Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pengalaman tersebut semakin menghubungkannya dengan komunitas kreatif dan para pelaku budaya pop di ibu kota. Ia melihat langsung bagaimana kreativitas anak muda tumbuh dan bagaimana dunia cosplay menjadi wadah ekspresi yang positif.
Bang Kenneth: Otaku Yang Kebetulan Juga Anggota Dewan
Pesan untuk Komunitas
Bang Ken menyampaikan pesan persatuan bagi seluruh komunitas penggemar anime, manga, dan game di Indonesia. Ia mengajak agar tidak ada lagi perdebatan yang memecah belah komunitas.
“Pesan saya untuk teman-teman komunitas: Ekspresikan diri kalian. Jangan malu menjadi diri sendiri. Kalian bukan kaum minoritas yang harus sembunyi, kalian adalah kekuatan kreatif yang besar. Sekarang sudah ada wadahnya, pemerintah mulai melirik dan mendukung. Ayo bergandengan tangan, kita buktikan bahwa komunitas ini bisa berkarya, santun, dan berprestasi. Tunjukkan pada orang lain bukan dengan balasan kasar, tapi dengan karya nyata,” ujarnya.