TV & Movies
Banda The Dark Forgotten Trail, mendobrak film dokumenter yang membosankan
GwiGwi.com – Banda The Dark Forgotten Trail adalah sebuah karya film panjang dokumenter yang diproduksi oleh Lifelike Pictures, yang diproduseri oleh Sheila Timothy dan Abduh Aziz, naskah ditulis oleh Irfan Ramli (penulis Cahaya Dari Timur, Surat Dari Praha dan Filosofi Kopi 2), dan disutradarai oleh Jay Subyakto.
Film dokumenter yang digarap Ipung Rahmat Syaiful selaku sinematografer dengan didukung oleh second unit camera Davy Linggar dan Oscar Motuloh ini tidak juga bisa dibilang mudah. “Kami telah melakukan riset dari 1,5 tahun lalu, saya sendiri sudah datang dua kali ke Banda.” kata Jay Subyakto.
“Kendalanya, kami butuh waktu untuk memilah-milah sejarah mana yang harus kami masukkan dalam film yang mana durasinya terbatas, bayangkan sejarah selama 500 tahun harus kami kemas dalam film berdurasi 90 menit.” jelas Irfan Ramli.
“Kami ingin menyuguhkan sebuah film dokumenter yang beda, pokoknya tidak bikin ngantuk,” jawab Sheila Timothy saat ditanya mengenai mengapa menggarap film ini di sesi panel di acara Popcon Asia 2017.
Banda The Dark Forgotten Trail menjadi film panjang pertama dari Jay Subyakto. Di abad pertengahan, segenggam pala di Pasar Eropa dianggap lebih berharga dari sepeti emas. Monopoli bangsa arab dan perseteruan dalam perang salib membawa Eropa ke dalam perburuan menemukan pulau-pulau penghasil rempah. Perseteruan bangsa-bangsa terjadi akibat rempah-rempah.
Kepulauan Banda yang saat itu menjadi satu-satunya tempat pohon-pohon pala tumbuh menjadi kawasan yang paling diperebutkan. Belanda bahkan rela melepas Nieuw Amsterdam (Mannhatan, New York) agar bisa mengusir Inggris dari kepulauan tersebut. Pembantain massal dan perbudakan pertama di Nusantara terjadi di Kepulauan Banda. Di sana pula, sebuah semangat kebangsaan dan identitas multikultural lahir menjadi warisan sejarah dunia.